Petaka Banjir Semarang Makin Kronis

[PORTAL-ISLAM.ID]  Banjir yang melanda Kota Semarang, Jawa Tengah pada awal tahun 2023 bak penyakit kronis yang belum ditemukan obatnya. Perlu solusi upaya jangka panjang dan komitmen kuat agar ibu kota Jateng itu tidak semakin ”sakit” digerogoti banjir.

Terbaru bencana banjir bandang terjang Perumahan Dinar Mas Semarang pada Jumat (6/1/2023). Dua orang kabarnya meninggal dunia. Sementara warga lainnya saat ini masih mengungsi di masjid terdekat. Menilik lebih dalam, hujan bukan satu-satunya pihak yang ”bersalah” dalam rentetan peristiwa banjir dan longsor di Semarang itu.

Di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, misalnya, banjir terjadi karena saluran air di sekitar permukiman warga meluap. Kondisi itu terjadi karena saluran air terlalu kecil lalu juga adanya sumbatan sampah.

”Di Purwosari, banjir baru terjadi setahun belakangan ini. Puncaknya pada akhir 2022, air sampai masuk ke dalam rumah. Sebelum-sebelumnya tidak pernah masuk rumah. Kalaupun ada genangan, paling cuma di jalan, tidak sampai masuk ke dalam rumah,” kata Alfi, warga Kelurahan Purwosari mengutip Antara, Rabu (4/1/2023).

Banjir setinggi 15 sentimeter yang menggenangi permukiman pada Sabtu pagi-siang tersebut menghambat aktivitas masyarakat. Alfian berharap, ada solusi agar peristiwa serupa tidak terulang.

Selain merendam permukiman dan memaksa sejumlah orang mengungsi, banjir juga membuat jalan pantura Semarang tidak bisa terlewati. Rel kereta tak luput dari dampak banjir. Akibatnya, empat perjalanan kereta dibatalkan dan sepuluh perjalanan kereta diubah melalui jalur selatan.

Tiga penyebab banjir Semarang

Saratri Wilonoyudho, Dosen Planologi Universitas Negeri Semarang, mengatakan setidaknya ada tiga alasan penyebab lain di luar cuaca buruk yang membuat kawasan Kota Semarang menjadi “segara” dalam beberapa hari ini.

Pertama, keberadaan penurunan muka tanah. Situasi ini adanya penyebab proyek pembukaan lahan skala besar. Tanah longsor akibat kenaikan muka air laut menyebabkan air laut mengalir ke daratan.

Kedua, Kota Semarang tidak memiliki daya tampung lingkungan yang cukup. Bangunan yang ada kelebihan kapasitas dan ada bangunan tanpa perencanaan yang tepat. Kondisinya bercampur dengan kurang dari 30% ruang hijau dan permukaan kecil,” kata Saratri dalam keterangannya, Jumat (7/1/2023).

Sedangkan penyebab banjir ketiga adalah rusaknya mangrove di sepanjang pantai utara Jawa Tengah. Kerusakan mangrove yang dikenal dengan pohon sarah muncul dengan tumbuhnya kawasan pesisir seperti kompleks industri.

Hingga saat ini, sebagian genangan air di Semarang diatasi dengan pompa air. Namun, Saratri melihat ini sebagai perbaikan sementara. Sedangkan untuk mengatasi banjir yang sudah “kronis” membutuhkan penanganan yang serius dan menyeluruh. Menurut Saratri, pemetaan adalah langkah awal, mulai dari peta tanah yang tidak bisa menyerap air, tidak ada sambungannya dengan air, kemudian memetakan luasan permukaan tanah yang menyusut tanahnya.

Perawatan sungai

Hasil pemetaan itu bisa menjadi panduan untuk melakukan berbagai upaya, antara lain menambah daerah resapan, memperbaiki saluran air yang tidak tersambung, serta menyetop ekspolitasi air tanah pada wilayah yang muka tanahnya terus menurun.

Upaya lain yang tak kalah penting adalah perawatan sungai melalui upaya normalisasi sungai. Mayoritas sungai yang ada saat ini dangkal dan penuh dengan sampah. Kondisi itu membuat fungsinya sebagai jalan air tidak optimal.

Jika sungai sudah berfungsi optimal, air hujan sebanyak apapun akan bisa lewat, tidak akan meluap hingga merendam permukiman. Kalaupun meluap, dampaknya tidak akan separah saat sungai tidak berfungsi optimal.

Namun, perawatan sungai itu tidak bisa hanya penerapannya di daerah hulu dan tengah, tetapi juga perlu melakukan di daerah hilir. Sebab, selama beberapa tahun terakhir, banyak hutan mangrove di kawasan pesisir yang rusak. Kerusakan itu terjadi karena faktor alam dan faktor manusia. Perbaikan hutan mangrove harus ada perlakuan sebagai bagian dari melindungi daratan dari intrusi air laut.

”Upaya selanjutnya yang bisa dilakukan adalah mencegah pertumbuhan aktivitas baru yang tidak sesuai dengan tata ruang. Soal tata ruang ini harus ketat. Kalau sudah dipetakan bahwa daerah itu tidak boleh dibangun, ya jangan dibangun, harus tegas,” ujar Saratri.

Saratri mengusulkan adanya pengumuman rencana tata ruang wilayah kepada masyarakat. Jika masyarakat tahu, mereka juga bisa ikut mengontrol lingkungannya. Celah pengambil keputusan untuk berbuat curang, memberikan izin pembangunan di tempat yang tidak seharusnya demi keuntungan pribadi, juga dapat meminimalisir.

”Harus ada komitmen bersama untuk tegas dengan aturan. Kalau tidak, sama saja Semarang bunuh diri bersama,” katanya.

Pengendalian tata ruang lingkungan
Selain Kota Semarang, sejumlah daerah di pantai utara Jateng juga kerap dilanda banjir. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, ada beberapa langkah penanganan jangka panjang untuk mengatasi banjir di wilayah pantura, misalnya pembangunan polder dan tanggul serta penambahan pompa air.

”Rasa-rasanya butuh pompa portabel. Maka, kita dorong untuk menyiapkan bantuan itu,” tuturnya.

Selain pembangunan fisik, Ganjar juga berharap adanya pengendalian tata ruang dan lingkungan. Dalam beberapa kesempatan, Ganjar menyebut akan melakukan audit terhadap bangunan di pinggir pantai tersebut. Ia sebutnya bagian bentuk kontrol spasial.

Jalan menuju pemulihan penyakit kronis dari banjir di Semarang dan sekitarnya tidak akan singkat. Dalam perjalanan ini, komitmen dan daya tahan pemerintah dan rakyat diuji. Ini akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, tentu waktu yang akan berbicara. [https://www.inilah.com/petaka-banjir-semarang-makin-kronis]