"Orang yang tidak senang dengan hal-hal berbau Arab, karena dianggap tidak sesuai tradisi lokal, mereka welcome saja dengan tradisi korea, tionghoa maupun amrik"

Orang yang tidak senang dengan hal-hal berbau Arab, karena dianggap tidak sesuai dengan tradisi lokal, orang yang sama yang welcome saja dengan tradisi korea, tionghoa maupun amrik. Segala yang kekorea-koreaan dan kebarat-baratan dianggap kemajuan dan kekinian. Sedangkan yang kearab-araban dianggap intoleran, radikal dan kemunduran.

Orang yang seperti ini juga, yang tidak akan mampu menjelaskan mana yang merupakan tradisi asli nusantara berdasarkan data yang valid. 

Mereka membenci gamis, padahal para Ulama Nusantara sejak dulu kala memakai gamis dan 'imamah. 

Umat Islam nusantara lebih dulu mengenal huruf-huruf Arab, daripada huruf latin. 

Para ulama sejak dulu menamakan anak-anak mereka dengan nama-nama Arab, seperti 'Abdul Wahid, 'Abdurrahman dan Shalahuddin.

Harus dikatakan, yang mereka benci bukan sekadar "kearab-araban"-nya, tapi karena yang identik dengan Arab, yang mereka maksud itu, sebenarnya adalah tradisi dan kebudayaan yang dipengaruhi Islam, bahkan sebagiannya adalah ajaran Islam sepenuhnya. 

Jadi, Arab hanya menjadi kedok mereka. Yang mereka tidak sukai sebenarnya adalah semua hal yang berbau (baca: berwangi) Islam.

Ya, tentu yang mereka benci hanyalah kearab-araban yang identik dengan Islam. Kalau riyal dan dinar Arab, pasti mereka senang.

(Muhammad Abduh Negara)