Kebakaran Smelter Nikel, LUHUT Mana Suaranya?

[PORTAL-ISLAM.ID] Anggota DPR RI Fraksi PKS, Dr. Mulyanto menyentil Menko Luhut Binsar Panjaitan terkait kebakaran smelter yang telah merenggut dua nyawa pekerjanya baru-baru ini.

"Kebakaran Smelter Nikel, LUHUT Mana Suaranya?" tulis Dr. Mulyanto di akun twitternya, Jumat (13/1/2023).

Kebakaran di PT GNI pada Desember lalu menewaskan dua orang karyawan. Mereka adalah Nirwana Selle dan I Made Defri Hari Jonathan yang bekerja di bawah Departemen Smelter Produksi PT GNI Morowali Utara. 

PT Gunbuster Nickel Industri (PT GNI) merupakan perusahaan industri smelter nikel Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah, Indonesia.

DPR menganggap penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Smelter PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) lemah. 

Mereka akan membentuk Panitia Kerja (Panja) karena perusahaan dirasa tak memberikan informasi komprehensif saat menemui kunjungan Tim Komisi VII pasca kebakaran yang menewaskan dua pekerja. 

Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS Nurhasan Zaidi menyebut penerapan K3 di smelter nikel PT GNI terlalu lemah. Padahal perusahaan itu masuk dalam proyek strategis nasional PSN dengan nilai investasi senilai Rp 27 triliun.

"Saya melihat proyek PT GNI yang sudah berjalan tiga tahun seharusnya progresnya sudah lebih rapi dan cepat, terutama terkait persoalan K3 yang lemah, sehingga mengakibatkan adanya insiden hingga  merenggut nyawa dua pegawainya. Oleh sebab itu sudah seharusnya proyek industri dengan nilai triliunan bisa lebih baik lagi kedepannya," ucapnya seperti dikutip dari Parlementaria

Kondisi sekitar perusahaan sendiri jauh dari cita-cita pemerintah untuk menjadi kawasan industri hijau. Ia justru mendapati kawasan industri tersebut tidak sehat dan tidak ramah lingkungan dengan aktivitasnya. 

PT GNI seharusnya serius memperhatikan keselamatan dan kesehatan para pekerjanya, dan kapasitas alat-alat produksi. Banyak peralatan yang digunakan adalah alat yang kalibrasinya belum jelas.

“Jangan sampai alat yang ada disini, adalah alat-alat bekas yang tidak berstandar untuk sebuah smelter, perlu adanya kalibrasi berkala untuk semua peralatan, jika kalibrasi dilakukan tiap tahun tentunya akan menekan resiko terjadinya kecelakaan kerja. Nilai investasi yang triliunan namun kenyataanya peralatan yang digunakan tidak sebanding.”