Ramai-ramai Mengeroyok Taliban

Pemegang Bara Api!

Petarung yang matanya ditutup, tangan dan kakinya diikat, lalu lawannya menyerang keroyokan. Wasit pun menghukumnya melakukan pelanggaran ketika mencoba melepas ikatan. Sementara hampir semua penonton ikut menyoraki.

Begitulah yang dialami oleh Taliban. Semua membencinya, termasuk yang Muslim juga.

Agustus 2021, ketika mengambil ulang kekuasaan, mereka diserang habis-habisan oleh media. Tentang Opium, Taliban dituduh sebagai bandarnya.

April 2022 berubah. Saat Opium resmi dilarang, pemberitaan tetap saja menyalahkan Taliban. Kali ini pemberitaan media Barat malah kasihan atas nasib petani Opium di tengah ekonomi yang sulit.

November 2022 pemberitaan berubah lagi. Para petani ilegal atau yang ladangnya belum kena razia malah meraup untung besar. Larangan Taliban menyebabkan harga naik 2x lipat di pasar gelap internasional, harga naik membuat makin banyak orang diam-diam menanam Opium.

Yang disalahkan media, tentu saja: Taliban.

Yo wis lah, biasa...

20 tahun di bawah pendudukan Amerika, Kabul dipenuhi pecandu narkoba. Uniknya yang dikritik atas kondisi ini juga Taliban:

Katanya Imarah Islam kok isinya orang sakaw?

Tidak pakai lama, Taliban menciduk habis para pengedar dan pecandu. Lalu memasukkan mereka ke panti rehabilitasi. Dimandikan saat sakaw, digunduli, dipaksa shalat dan baca Al-Qur'an. Tidak diberi obat peredam karena memang tidak ada.

Maka pemberitaan media Barat adalah:

Taliban memperlakukan para pecandu secara tidak manusiawi. Rehabilitasi apa neraka?

Lah..

Ketika embargo total dunia Barat, perampasan paksa terhadap devisa Afghanistan oleh mbah Biden, sehingga menyebabkan kelumpuhan perdagangan, maka yang disalahkan juga cuma 1 yaitu: Taliban. 

Sindikat penculik dan penjual organ tubuh manusia disergap dan dihabisi, mayatnya diarak. Pemberitaan media: Taliban melanggar HAM, pengadilan jalanan.

Belum lagi kalau Taliban mengeluarkan kebijakan yang sesuai Syariat dan tradisi Afghanistan, maka pelintirannya pasti sangat tendensius.

Memotong kepala manekin dan mensensor foto-foto aurat model perempuan dalam reklame
==> Penindasan dan menghapus peran wanita

Mewajibkan perempuan harus izin mahram
===> Wanita dilarang bekerja

Mewajibkan jilbab syar'i dan pelajaran yang sesuai syariat Islam
===> Modus melarang anak perempuan bersekolah

Tapi sepi pemberitaan:

-Laki-laki wajib memberi nafkah dan menjamin kehidupan keluarga.

-Wanita yang melanggar aturan syariat tidak bisa dihukum, karena yang akan dipanggil adalah wali (keluarga laki-laki).

-Mayoritas orang Afghanistan mendukung syariat

-Mayoritas perempuan Afghanistan memakai burqa/cadar dengan sukarela.

Kemarin ribut berita pelarangan mahasiswi masuk kampus, sampai Al-Azhar juga ikut mengecam Taliban. Karena termakan framing berita perempuan Afghanistan dilarang menuntut ilmu.

Padahal konten berita di media manapun isinya hanya didasarkan demo sekelompok mahasiswi yang jilbabnya acak kadut, auratnya terbuka. Selama berbulan-bulan mereka telah mengampanyekan penentangan kebijakan pemerintah.

Masalahnya sederhana, Taliban menutup lembaga pendidikan yang ngeyel tidak mau menerapkan aturan. Sanksinya semua akan dirombak dan diambil alih.

Ini sebenarnya urusan internal sebuah negara, misalnya pemerintah menetapkan suatu kurikulum dan seragam sekolah, lalu ada sejumlah sekolah yang melanggar, tentu pasti akan disanksi.

Terkait pelarangan mahasiswi ini saya masih memverifikasi, apakah kampus yang penerapan Islamnya taat kena penutupan atau tidak. Sepertinya tidak. Karena Taliban pernah menegaskan bahwa banyak sektor yang akan dikhususkan hanya untuk profesional wanita.

Bagi Muslim, suatu kebijakan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam maka wajib ditaati. Adapun jika bertentangan, ya berusaha tidak ditaati, dan pemerintah harus dinasehati dengan cara baik. Berlaku juga kepada Taliban, suka tidak suka.

Islam memang bukan agama kesenangan dan kemeriahan, melainkan agama ketaatan.

Seandainya anda Muslim dan kaya raya, maka contoh gaya hidup dari Nabi dan Sahabatnya adalah hidup tetap sederhana, bahkan zuhud. Harta dihabiskan untuk kepentingan agama dan kemaslahatan masyarakat umum.

Karenanya memegang teguh syariat diumpamakan seperti memegang bara api.

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260)

Orang-orang seperti Taliban telah membuktikannya.

Ketika seorang utusan Barat berbicara dengan sombong saat bernegosiasi dengan Taliban. Menawarkan akan memudahkan semua urusan dengan syarat membolehkan perempuan Afghanistan berpakaian sesukanya termasuk rok mini. Kalau tidak diterima semua akan dipersulit.

Maka seorang delegasi Taliban langsung berdiri, mengambil teko teh dan melemparkan ke muka utusan Barat tadi hingga basah kuyup dan mengusirnya dengan hina.

Menegaskan bahwa perintah Allah tidak akan bisa ditukar dengan apapun.

Ibarat petarung yang dikeroyok dan matanya ditutup. Kaki dan tangannya diikat erat. Namun mulut masih bisa melawan dengan meludahi lawan-lawannya yang culas dan licik. 

(Pega Aji Sitama)