Palestina memenangkan Piala Dunia 2022

Palestina memenangkan Piala Dunia

Oleh: Adnan Hmidan*

Seorang penggemar Inggris dengan mata biru dan rambut pirang meneriakkan "kebebasan untuk Palestina" di saluran Israel, selama siaran langsung. Kejadian ini bak petir terhadap Penjajahan Israel dan pendukungnya, sedangkan kekecewaan terlihat jelas di raut wajah pembawa acara.

Meskipun tidak disiarkan di BBC atau saluran mana pun yang terkenal secara global, vidio itu banyak ditonton di seluruh dunia, dan diedarkan secara luas dan menyebar dengan lebih berpengaruh di platform media sosial.
Adegan ini, yang hanya beberapa detik, mengungkap banyak detail mengenai interaksi populer global dengan masalah tersebut dan menegaskan keunggulan narasi Palestina atas pendudukan (Israel), dan juga menyoroti efek kuat Piala Dunia di Qatar dalam menyempurnakan konsep ini dan membuat nyanyian untuk Palestina serta mengibarkan benderanya sebagai ciri umum turnamen ini.

Penyebaran yang menular dari penolakan untuk diwawancarai oleh saluran Israel oleh para penggemar Brasil, Jepang, dan tim lain adalah bukti terbesar dari semangat yang berlaku di Piala Dunia di Qatar, dan dampak yang ditimbulkan oleh antusiasme para penggemar Arab atas Palestina, sejauh ini menjadi, seperti yang dijelaskan oleh sebuah surat kabar Brasil, Palestina telah menjadi tim ke-33 di turnamen paling menonjol di dunia ini untuk olahraga paling populer dan masif.

Perayaan kemenangan Maroko atas Spanyol dan lolos delapan besar, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, berubah menjadi perayaan untuk Palestina, tidak hanya di Doha atau Casablanca, tetapi juga di sebagian besar kota di dunia yang menyaksikan perayaan besar populer, terutama London, di mana slogan "kebebasan Palestina" diteriakkan di Piccadilly Square di pusat kota London. 

Adegan perayaan ini langsung mengecewakan orang-orang Arab yang mendukung menormalisasi hubungan dengan Israel dan teman-teman Zionis mereka, wajah mereka berubah muram ketika tim Maroko mengibarkan bendera Palestina setelah kemenangannya atas Spanyol. 

Ini terjadi sehubungan dengan konferensi tentang pendidikan dan koeksistensi di Maroko dengan partisipasi negara-negara Arab bersama dengan Negara Israel untuk menunjukkan manfaat normalisasi bagi warga di kawasan tersebut. 

Namun, jawabannya praktis dan tegas dari dalam turnamen Piala Dunia, dengan menolak normalisasi hubungan dengan Israel dalam segala bentuknya dan mengisolasi normalisasi resmi dari masyarakat kita yang masih hidup yang memiliki arah yang jelas, bangsa yang menjadikan Al-Quds sebagai satu-satunya kompas.

Sekali lagi, soalnya bukan sekadar permainan atau olahraga yang dimainkan orang. Sebaliknya, itu telah menjadi termometer yang menunjukkan hubungan bangsa dengan isu-isu sentralnya. 

Bahkan jika suaranya terkadang menghilang, sebagai akibat dari penindasan dan kebrutalan kekuasaan, ia segera bangkit untuk mendukung Al-Quds, mengungkapkan persatuan dan solidaritas segera setelah menemukan kesempatan untuk melakukannya.

(Sumber: MEMO)