Kristenisasi di daerah bencana, adakah?

Kristenisasi di daerah bencana, adakah? 

Oleh: Arif Wibowo*

Satu hal yang selalu mengemuka pada saat terjadi bencana alam adalah wacana kristenisasi di daerah bencana. Dan seperti biasanya, pro dan kontra akan terjadi. Antara yang meyakini kebenaran hal tersebut dan mereka yang menganggap bahwa isu itu diangkat oleh kaum intoleran dan berpotensi merusak kerukunan umat beragama di Indonesia.

Oleh karena itu, saya hanya mencoba berbagi pengalaman saat saya membersamai rekan-rekan relawan saat gempat di Klaten, juga Erupsi Merapi 2006 dan 2010., saya sebut membersamai sebab saya lebih banyak mengamati dan mencatat. Berbeda dengan teman-teman relawan yang memang berjibaku melakukan tugas sosial. Ada wawancara menarik yang sudah divideokan, tapi sampai sekarang, video yang disimpan rekan saya itu belum juga ketemu.

Intinya adalah, seringkali tuduhan kristenisasi bermula dari kegiatan yang bersifat offside. Misalnya, kepada anak-anak pengungsi yang semuanya muslim, dengan alasan healing psikologis, diajak bermain dan bernyanyi. Offsidenya adalah, lagu-lagu yang diajarkan dan dinyanyikan adalah lagu-lagu gereja. 

Saya masih ingat betul, sebuah kejadian di Klaten, ketika rombongan ibu-ibu meninggalkan lokasi pembagian bantuan, karena untuk menghibur para pengungsi, para relawan gereja tersebut menyanyikan lagu-lagu rohani dan mengajak para pengungsi ikut menyanyikannya. Kalau dalam istilah orang Jawa, para relawan ini menyalahi prinsip hidup orang Jawa, empan papan. 

Tindakan-tindakan offside ini meski tanpa disertai  ajakan pindah agama akan memantik tindakan kontra yang kadang berujung pada persekusi kecil. Soal bagi-membagi kaos misalnya, sudah tahu pengungsinya muslim, yang dibagikan kaos I love Yesus atau kaos yang atribut Kristennya menonjol. 

Ada lagi yang sempat bikin rame, di sebuah kampung di lereng Merapi, yakni mereka yang mempunyai mushaf al Qur'an kondisi apapun, bisa ditukar dengan paket bantuan. Akibatnya banyak penduduk yang menukarkan mushaf yang sudah tidak layak dengan paket bantuan. Ketika dibuka, ternyata dalam paket bantuan ada alkitabnya.

Beberapa aliran gereja, dan ini terlihat jelas sejak orde baru memang menempuh jalan  kasar dan nir etika dalam penginjilan. Hal ini juga diakui oleh gereja lain. Namun tindakan offside yang dilakukan oleh beberapa denom gereja (bukan semuanya) ini tidak terjadi saat tanggap bencana saja.

Kasus yang terjadi di dukuh Sepi misalnya, intensitas kegiatan diakonia gereja justru meningkat pasca status tanggap darurat selesai. Berbekal kedekatan para relawasan saat periode tanggap darurat, para pegiat penginjilan terus mendampingi warga. Karena warga mayoritasnya petani, maka gereja mengucurkan bantuan di bidang pertanian, baik berupa bantuan benih bibit jahe, pupuk dan juga pendampingan teknik bercocok tanam.

Awalnya, yang akan dijadikan komandan kelompok tani binaan gereja itu adalah rekan saya sendiri. Disepakatilah pertemuan perdana kelompok tani pada hari Jum'at di rumah teman saya itu. Rencanya pagi. Tapi sampai siang penyuluh dan pak pendeta belum juga datang. Dan akhirnya, datang 15 menit sebelum adzan Jum'at. Akhirnya, teman saya yang rumahnya ditempati minta ijin sholat jum'at, dan kebanyakan mereka yang datang, karena pekewuh, akhirnya memilih tidak jum'atan.

Setelah pertemuan itu, ada bantuan berupa alat-alat pertanian. Selain itu, teman saya juga disepakati sebagai ketua kelompok taninya, meski teman saya kekeh menolaknya. Apakah berhenti sampai di situ ? Ternyata tidak.

Tindakan lanjutan para aktifis gereja adalah mendatai orang tua yang anak-anaknya sudah kelas 6 SD, kelas 3 SMP dan SMA.  Mereka ditawari bea siswa, supaya anak para petani tersebut bisa melanjutkan sekolah. Karena desanya cukup terpencil, harus melewati jalan yang menuruni jurang, maka gereja akan memberikan bantuan kendaraan roda empat untuk antar jemput sekolah. Banyak orang tua yang gembira dengan tawaran tersebut.

Sudah beberapa kali, anak-anak yang akan diberi bea siswa tersebut diajak piknik sekaligus berkunjung ke gereja dimana aktifis tersebut terdaftar. Dan karena di desa tersebut sudah ada gereja, hasil kristenisasi di awal Orde Baru, anak-anak tersebut seringkali diajak berkegiatan di gereja tersebut.

Teman saya akhirnya putar otak, menghubungi teman-temannya yang punya chanel ke pesantren dan minta dicarikan bea siswa. Alhamdulillah ada sebuah pesantren di Sukoharjo yang mempersilakan akan-anak dari dukuh Sepi untuk nyantri secara gratis.

Program pemberian bea siswa dan bantuan armada sekolah akhirnya batal. Demikian juga, kelompok taninya tidak jadi terbentuk karena tidak ada orang setempat yang mumpuni untuk mengorganisirnya. Teman saya yang sempat kerja di luar kota, ketika melihat upaya penggerusan keislaman masyarakat yang marak di kampungnya ketika ia pergi, akhirnya memilih menetap di kampung dan membuka toko pertanian. 

Kini ia mengelola TPQ dengan 90 santri, termasuk anak-anak dari kampung sebelah. Selain itu ada juga TPQ untuk remaja dan orang tua. Dan alhamdulillahnya, kata teman saya, saat saya dolan ke rumahnya, di kampung ini, setiap tahunnya ada yang bersyahadat, kembali ke pangkuan Islam. Untuk lebaran kemarin, istimewa, karena yang kembali ke Islam, bareng satu keluarga.

Penutup: 

Menurut pak Ahmad Watik Pratiknya, ada empat jalur propaganda agama Kristen : Pertama, jalur ekonomi dengan memanfaatkan kedhaifan dan kefakiran seseorang. Kedua jalur pendidikan yang meskipun hasilnya baru dapat diraih dalam jangka panjang, tetapi sangat strategis. Ketiga, jalur pelayanan masyarakat. Kita tahu bagaimana sebagian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berorientasi ke sana. Keempat, melalui jalur politik, yang dapat disimak dari pendapat mereka terhadap RUUPA, penyusunan GBHN dan lain sebagainya.  

Penyalahgunaan diakonia gereja untuk pemurtadan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di belahan dunia Islam lainnya. Pada saat mengeluarkan peraturan tentang Pedoman Penyiaran Agama dan tentang Bantuan Luar Negeri pada tahun 1978, Menteri Agama Ratu Alamsyah Prawiranegara mengutip pernyataan bersama Konferensi Meja Bundar Dakwah Islam dan Misi Kristen yang berlangsung di Jenewa pada tahun 1976, yang diselenggarakan oleh Dewan Gereja Sedunia (WCC) bekerja sama dengan Islamic Foundation yang berpusat di London,

Konferensi juga menyatakan keprihatinan bahwa sikap umat Islam terhadap misi Kristen telah banyak dipengaruhi oleh penyalahgunaan diakonia (pengabdian masyarakat) dan bahkan menganjurkan dengan keras agar gereja-gereja dan organisasi Kristen untuk sementara menghentikan aktifitas pengabdian masyarakat (diakonia) di dunia Islam. 

Pak Natsir memandang heran arus besar dana asing dalam kegiatan misionarisme Kristen di Indonesia,

...... Hal yang sangat aneh, menurut hemat saya, adalah bahwa organisasi-organisasi misioner itu, khususnya yang berada di Eropa dan Amerika dan berbagai tempat lain, jauh lebih memusatkan perhatiannya kepada de-Islamisasi negara-negara Islam daripada de-Kristenisasi di berbagai komunitas Kristen Eropa 

Dalam perkembangannya, diakonia, yang pada awal Orde Baru dianggap sebagai pintu masuk kristenisasi  dengan wujud kegiatan filanthropi dalam wujud bantuan langsung akhirnya berkembang menjadi berwajah program-program pemberdayaan.

*sumber: fb penulis