Ketika Kesaksian Sang Sultan "Diragukan"

Ketika Kesaksian Sang Sultan "Diragukan"

Sultan Yildirim Bayezid (Bayezid I), seorang yang sumbangsihnya kepada Islam tidak diragukan lagi (kecuali bagi yang terjangkit fanatisme akut). Beliau adalah di antara tokoh pejuang, pembela, dan pengayom umat Islam yang fenomenal.

Terlepas dari itu, suatu ketika beliau hendak memberikan kesaksian, namun Qadi (Hakim) di Bursa bernama Shamsaddin Fanari merasa ragu untuk menerimanya sebagai saksi. Sebab, beliau dinilai sering tidak hadir dalam shalat berjamaah meskipun seluruh orang mengetahui, beliau sibuk dengan urusan pemerintahan bukan karena disibukkan oleh permainan. 

Karena inilah Sultan Yildirim Bayezid mendirikan sebuah masjid di depan istananya untuk dapat menghadiri shalat berjamaah.

Tidak perlu kita mengatakan: "Gak usah jauh-jauh bicara umat, kejauhan, kalau shalat berjamaah saja masih bolong-bolong."

Kekurangan beliau adalah satu hal, sumbangsih beliau adalah hal yang lain. Beliau akan dinilai dengan apa yang mendominasinya. Bisa jadi, Allah akan menutupi kesalahan dan kekurangannya atas amalan lain yang tidak banyak orang dapat lakukan.

Semoga Allah Merahmati beliau dengan Rahmat yang luas, melebihi luas Laut Mediterania yang menjadi "taman bermain" Donanma-yi Humayun (Angkatan Laut Utsmaniyah).

Bayezid I adalah Sultan Utsmaniyah yang berkuasa antara tahun 1389-1402. Ia adalah putra Murad I dan Gülçiçek Hatun. Bayezid dikenal sebagai sosok yang sangat pemberani, cerdas, murah hati, dan demikian ambisi untuk melakukan perluasan wilayah Utsmani.

Dia di dijuluki "Yıldırım" (sang halilintar/si kilat), jikalau Timur Lenk tidak memeranginya, ahli sejarah sepakat Konstantinopel bakal jatuh di tangannya. Ia mewarisi kepemimpinan kepada Sultan yang shaleh Mehmed I, dari Mehmed I Lahir seorang yang dikenang dalam tinta emas sejarah Mehmed II (Al Fatih/Sang Penakluk) yang menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453.

*Osman-zade Taib, Hadiqatus Selatin, dikutip dalam Danismend, I, 141.

(Wisnu Tanggap Prabowo)