SATU KEKURANGAN PKS: GAK PUNYA TOKOH

TAK PUNYA TOKOH, PKS KURANG GENIT?

By @rafif_amir

"Cuma satu kekurangan PKS. Kurang genit. Kurang burung merak," kata Refly Harun pada Presiden PKS dalam tayangan podcast-nya (17/11/2022).

Komentar Refly ini bukan sekadar guyonan. Namun seharusnya ditangkap serius oleh PKS.

PKS memiliki seluruh syarat untuk menjadi partai besar dan modern. Hanya satu hal, miskin tokoh.

Tentu saja ketika berbicara tokoh di sini, bukan tokoh yang hanya dikenal di kalangan partai, tetapi juga tokoh yang menjadi figur bagi banyak golongan.

Dampaknya, PKS selalu kalah ketika bernegosiasi dalam pertarungan menuju RI 1. Bahkan terasa berat ketika harus memasukkan kadernya dalam bursa cawapres.

Nama Aher mencuat belakangan ini. Namun kenyataannya, kader PKS sendiri tak satu suara. Ada yang memilih AHY, ada yang bahkan lebih condong ke Khofifah.

Saya sendiri menilai, Aher punya kapasitas. Punya kematangan. Leadershipnya teruji ketika memimpin Jawa Barat dua periode. Namun sayang, kurang dipersiapkan oleh partai.

Aher tak punya posisi strategis dalam kepemimpinan eksekutif partai yang bisa menjadi daya tarik untuk dijual. Yang memiliki potensi untuk dicitrakan. Jabatannya memang penting dan tinggi sebagai wakil ketua majelis syuro, tapi kurang populis di kalangan nonkader.

Ketika sinar kecemerlangan Aher di Jabar mulai meredup, tiba-tiba ia disodorkan untuk dipasangkan dengan Anies. Sementara itu, pencitraan AHY sudah berlangsung jauh-jauh hari, dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki Demokrat dan SBY--termasuk mungkin membeli survey!

Presiden PKS mengatakan, bahwa perlu disurvey dulu calon dari PKS, calon dari Demokrat, calon dari Nasdem dan Anies (kalau ada), biar fair. Secara politis, tentu masuk akal. Ini memungkinkan PKS punya napas untuk mengatur strategi dan mem-blow up Aher besar-besaran. Lebih baik terlambat daripada tidak dicoba sama sekali.

Namun yang ingin saya sampaikan, bahwa seharusnya ini menjadi pelajaran mahal bagi PKS. PKS perlu memproduksi tokoh--tentu saja sembari terus memproduksi kader. PKS mungkin unggul dalam produksi kader, tapi ketinggalan dari partai lain dalam memproduksi tokoh. Suka atau tidak, ini harus diakui.

Politik memang tak seharusnya terpaku pada tokoh an-sich. Yang lebih penting adalah ideologi, platform, dan gagasan. Tetapi realitas politik masyarakat kita bicara soal lain. Demokrat yang tak diperhitungkan melejit tiba-tiba karena faktor SBY, PDIP eksis karena Mega, Gerindra yang pada awal kemunculannya langsung meroket karena faktor Prabowo. Ya, itulah kenyataannya. Jika PKS punya tokoh dan terus mencetak kader, maka jangankan tiga besar, PKS justru punya peluang menjadi partai terbesar!

Realitas ini sepertinya sudah dibaca oleh PKS. Terbukti, PKS membentuk Dewan Pakar, mulai dari pusat hingga daerah. Ini sebagai mesin elektoral, selain mesin kader dan struktur. PKS menyadari pentingnya tokoh untuk meraih simpati massa yang kemudian di-convert menjadi suara.

Namun lagi-lagi, daya gedor tokoh yang berasal dari kader akan berbeda jika dibandingkan dengan tokoh nonkader yang notabene berada di Dewan Pakar.

Jika kita belajar sejarah perpolitikan bangsa, partai-partai besar dalam pemilu 1955 semuanya memiliki tokoh kader yang disegani. PNI punya Soekarno, Masyumi punya Natsir, PKI punya Aidit, NU punya KH Saifuddin Zuhri, PSI punya Sutan Sjahrir.

Terkhusus Masyumi coba kita perinci. Karena PKS memiliki kedekatan ideologi dengan Masyumi. Masyumi punya Isa Anshary yang Ketua Umum Persis. Ada Sukiman yang mantan perdana menteri. Ada Sjafruddin Prawiranegara yang Gubernur BI. Ada M Natsir yang juga mantan perdana menteri. Ada Hamka yang ulama, penulis, dan tokoh Muhammadiyah. Ada Mohammad Roem yang mantan menteri dalam negeri--bahkan disebut-sebut sebagai salah satu tokoh Masyumi yang jarang dikritik dan dihujat. Serta masih banyak sederet nama tokoh lainnya.

Mau tidak mau, bahkan di saat demokrasi kita masih kental dengan pertentangan dan konflik ideologi, nama besar tokoh punya daya jual tersendiri. Punya magnetnya sendiri. Apalagi, ketika haluan politik menjadi semakin pragmatis seperti saat ini, ditambah adanya Presidential Treshold yang mengekang demokrasi, kehadiran tokoh menjadi semacam jaring besar yang dilempar ke tengah lautan.

Semua pasti tahu dan menyadari, perlu banyak jaring dibuat agar meraup kemenangan besar. Semoga PKS belum terlambat untuk menyadarinya.

Sidoarjo, 18 November 2022

*Penulis dan penikmat politik

(fb)