"Politik Sudah Menjadi Tukar Tambah Kekuasaan, Indonesia Perlu Revolusi, Bukan Reformasi!"

[PORTAL-ISLAM.ID]  Ternyata banyak sekali netizen yang kepo dengan Bung Rocky Gerung. Mereka mempertanyakan kira-kira Bung Rocky tersaring atau tidak kalau masuk ke pemerintahan. Bahkan, ada yang mengusulkan bahwa Bung Rocky tidak cukup hanya menjadi presiden akal sehat, tetapi kalau bisa, jadi presiden negara ini. 

Pernah terbayang atau tidak Rocky Gerung masuk dalam pemerintahan? 

Rocky Gerung Official edisi Selasa (29/11/22) yang dipandu oleh wartawan senior FNN, Hersubeno Arief membahas hal ini dengan nara sumber tetap Bung Rocky Gerung.

“Bukan pernah atau tidak pertanyaannya, tapi menarik apa tidak? Dalam politik itu selalu ada hierarki. Kalau saya berpedapat bahwa orang yang baik, tapi masuk di dalam wilayah itu, pasti akan beradaptasi dengan keburukan. Tetapi, kalau kita putar logikanya, harusnya orang baik masuk situ untuk menghilangkan keburukan,” jawab Rocky.  

Tetapi, lanjut Rocky, dari luar orang juga bisa memaksakan value masuk ke dalam. Sama seperti ketika di era Pak Jokowi Rocky mendorong teman-teman dari LSM, LBH, dan lain-lain untuk masuk ke dalam kabinet, tetapi lakukan semacam kaukus. Bikin blok di situ, lalu sebarkan akal sehat, demokrasi, values, human right, dan sebagainya, tetapi dengan perjanjian bahwa mereka yang kita sorongkan untuk masuk dia harus dikontrol oleh yang di luar. Tapi rupanya itu yang tidak terjadi karena langsung terlibat dalam kebanggan bahwa ada di sana. Itu yang dianggap bahwa mental kita belum cukup sehingga mesti disiapkan dulu orang-orang dengan mental yang cukup supaya bisa memengaruhi vibes-nya kekuasaan, melakukan edukasi. Itu baru membuatnya berminat. 

“Jadi, demokrasi harus diawasi dari luar atau kita dari dalam tetapi bikin blok. Bikin blok ini yang gagal kemarin. Kan banyak tokoh-tokoh masyarakat sipil yang akhirnya jadi pengecut di situ,” ujarnya.  Jadi menteri boleh, tapi poin-poin dasarnya dia mesti melapor pada masyarakat sipil yang mengutusnya. Sekarang dia lari dari pertanggungjawaban itu.  Itu artinya pertanda bahwa kita belum siap mengolah masyarakat sipil supaya bisa mengawasi masyarakat , lanjutnya. 

Menurut Rocky, kita memang perlu proses perlahan-lahan sehingga dia tetap mendorong orang untuk yang masuk kabinet, tapi akhirnya kita mesti gradual karena waktu kita memulai reformasi banyak orang yang tidak siap.  Reformasi artinya keluar dari, baru masuk ke. Tapi, kebanyakan masyarakat sipil baru keluar dari, keluar dari orde baru, tidak mau masuk ke demokrasi sehingga waktu dipanggil masuk ke demokrasi dia gugup. 

Masalah selanjutnya, menurut Rocky, adalah soal daya tahan untuk tidak konsumsi. Karena masyarakat sipil yang kebanyakan anak LSM yang datang dari situasi ekonomi yang mungkin berkurang atau nggak bisa memanfaatkan kapasitasnya sehingga begitu masuk kekuasaan uangnya berlimpah, lalu dia silau. “Jadi, kalau dia masuk kekuasaan uangnya jadi lebih banyak, itu pasti dia korupsi. Nggak mungkin orang bermain politik lalu dia kaya. Itu artinya dia korupsi,” tegasnya.

"Saya berupaya untuk memanfaatkan momentum oposisi ini, untuk memperlihatkan bahwa harus ada kontras antara yang memerintah dan yang mengawasi. Kalau satu waktu kita dorong teman-teman berikutnya untuk masuk, mereka sudah tahu fungsinya bahwa jangan ikuti jejak senior-senior mereka sekarang yang pamer mobil doang dan otaknya standar saja,” lanjutnya.  

Ketika ditanya apakah memang kekuasaan itu identik dengan kejahatan? 

“Ya itu, kalau kita lihat ide dari kekuasaan, di awal umat manusia mulai melakukan aktivitas politik, selalu kekuasaan itu dimaksudkan untuk mendistribusikan keadilan, karena berbeda dengan binatang,” ujar Rocky.

Kehidupan sosial itu, sambung Rocky, harus diatasi dengan institusi yang namanya politik. Jadi politik adalah niat baik manusia untuk mengatur kehidupan supaya sama-sama bertumbuh. Tapi dalam perjalanan ada mental otoriterian, ada mental feodal. Sebetulnya mental-mental ini yang menghalangi bagian-bagian indah dari kekuasaan.  Tetapi, tetap kekuasaan yang diperlukan. Kembali  pada soal apa sebetulnya yang kita bayangkan pada kekuasaan, dulu di awal Republik ini berdiri, tidak ada yang korupsi  dan yang mewah-mewahan. Dia terpancing untuk meneliti untuk kepentingan sendiri, jenis mental orang Indonesia apa sebetulnya? Kalau sekarang kan politik menjijikkan. Akhirnya kita mesti anggap memang rendah peradaban politik kita masih rendah, baik yang sudah elit maupun yang mantan aktivis sama. 

Dalam realitasnya, bisa tidak kita melakukan hal yang ideal bahwa semangat membangun kekuasaan adalah mendistribusikan keadilan, kebaikan, kesejahteraan, seperti amanat dari konstitusi. Rocky menjawab, “Saya menganggap kalau kita belum benar-benar tiba di dasar, di titik nadir, kita enggak mungkin bermimpi ke titik titik puncak. Jadi memang belum di dasar, karena krisis ekonomi belum maksimal, pembusukan politik belum maksimal”. Sering saya katakan bahwa kerusuhan lebih bagus dan kehancuran lebih penting supaya kita belajar. Kalau sekarang tanggung, nanti ada reformasi jilid dua, mental-mental yang beginian carry over, terbawa masuk lagi ke reformasi jilid dua,  karena pembusukan itu belum total. Jadi tetap decaying diperlukan. “Karena itu, selalu saya bilang kita perlu revolusi sebetulnya, bukan sekadar reformasi, apalagi restorasi.”  [fnn]