Kisah Unik Masuk Islamnya Dr. Naoki Yamamoto

[PORTAL-ISLAM.ID]  Kisah perjalanan menarik Dr. Qayyim Naoki Yamamoto. Ia mengenal Islam bukan lewat ayat atau hadits, tapi lewat cinta abadi seorang suami pada istrinya yang sudah meninggal.

Jadi, ceritanya, saat mahasiswa S1 di Universitas Kyoto, Yamamoto harus membaca banyak buku dari beragam agama untuk tugas kuliah. Sampai ia tak sengaja ketemu buku "A Brief Introduction to God” (Pengantar Singkat Tentang Tuhan). Ini adalah buku kecil tentang tauhid yang uniknya tidak menyebut nama Allah atau Muhammad (SAW).

Begitu tertariknya hingga ia ingin berbicara dengan penulisnya, Khawla Kaori, istri dari Profesor Hasan Kaori, profesor teologi di Doshisha University. Saat menelepon, Prof Kaori (yang asli Jepang) yang angkat. Ia berjanji menemui Yamamoto di sebuah kafe dekat universitas.

Yamamoto datang terlebih dulu ke kafe, duduk di sana dan memesan minum. Ia kemudian melihat Prof Kaori mendekati kafe itu dengan wajah yang sangat sedih. Dan begitu ia masuk ke kafe, sang profesor langsung menangis.

Prof Kaori kemudian mengatakan bahwa Khawla (istrinya) telah meninggal tahun lalu karena sakit. Ia kemudian bercerita bahwa dalam setahun ini, sejak kepergian istrinya, ia berusaha untuk mengatasi rasa kehilangannya.

Namun tiba-tiba Yamamoto menelepon dan menyatakan ketertarikannya pada buku sang istri. Ia pun teringat pada hadits Nabi SAW tentang amal jariyah yang terus mengalir setelah seorang anak Adam meninggal.

“Saya sangat merindukannya. Aku bertanya-tanya ke mana dia pergi dan bagaimana aku bisa melihatnya kembali. Kini hidupnya menjadi pengetahuan dan ia tumbuh dalam hatimu. Aku akan menjadi sensei (guru) untukmu,” kata Kaori.

Yamamoto yang baru sedikit mengenal Islam terkejut dan agak kurang sreg. Baru juga bertemu, udah angkat jadi guru. “Untuk mempercayainya saja saya belum,” kata Yamamoto. “Tapi setidaknya saya tertarik pada kejujurannya, bagaimana dia tidak menutup apa yang dia rasakan kepada mahasiswa muda yang baru ditemuinya.”

Kaori mengajarkan kepada Yamamoto bahwa tauhid itu satu, tapi ekspresinya beragam. Kaori yang awalnya menganggap Islam itu hanya seperti di Timur Tengah, akhirnya mendapat pengetahuan tentang bagaimana berbedanya Islam yang diekspresikan muslimin di Indonesia, Malaysia, India, dan lain sebagainya.

Setelah sekian lama belajar tentang Islam, Yamamoto pergi ke Mesir bersama Kaori untuk lebih mengenal kebudayaan. Di sana ia dipertemukan dengan seorang profesor di Universitas Al-Azhar. Saat itu Prof Kaori bertanya, “Kenapa kamu tidak masuk Islam saja?”

Yamamoto saat itu sudah lumayan mengenal Islam, tapi punya keraguan: “Apakah masuk Islam akan membuat saya bahagia?” Jawaban Kaori menarik: “Kamu gak serta merta menjadi bahagia dengan masuk Islam. Bahkan kamu mungkin akan sedikit kesulitan. Kamu akan kewalahan dan berbuat salah…”

“Aku juga berbuat banyak salah. Penyesalan dan pertobatan adalah sahabatku. Tapi saya bertahan. Saya bertahan karena saya ingin melihat istri saya lagi di akhirat kelak. Aku ingin mati sebagai seorang muslim…”

“Kau bisa menjadi menjadi muslim yang gak sempurna, lemah, dan penuh dosa seperti aku. Tapi itu cukup. Jatuh bangunnya kita akan membuat Allah membimbing kita ke arah yang Dia mau.”

Jawaban Kaori yang dahyat itu membuat Yamamoto berpikir. “Saya pikir jawaban Prof Kaori sangat jujur. Saya tersentuh oleh bagaimana keyakinan membuat orang bisa jujur dengan orang lain, membuatnya mampu mengungkapkan kelemahan dan penderitaannya. Keyakinan yang juga membuat orang bisa begitu ikhlas melayani orang lain. Saat itulah saya memeluk keimanan dalam hati saya,” kata Yamamoto.

(Akmal Burhanuddin Nadjib)