KIB (Koalisi yang akan paling duluan bubar)

KIB (Koalisi yang akan paling duluan bubar)

Oleh: T Gusmand

Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), telah menandatangani nota kesepahaman untuk Koalisi Indonesia Bersatu - KIB 4 juni 2022 yang lalu. Koalisi ini dibentuk hanya berupa nota kesepahaman tanpa ada Capres/Wapres yang diusung, jadi belum ada deklarasi di antara mereka.

Dari kemungkinan 4 Koalisi yang telah diwacanakan yaitu PDIP, KIR (Gerindra-PKB), KP (Nasdem-PKS-PD), Koalisi KIB inilah yang paling lemah. Disamping tidak adanya tokoh/elit yang kuat dari partai pengusung sebagai Capres/Cawapres, juga perbedaan genre yang jauh dari masing-masing partai pengusung. Golkar yang nasionalis beda dengan PAN Partai besutan Amien Rais islamis moderat dan PPP yang islam tradisional. Ok, kalau genre beda, bisa direkatkan dengan tujuan bersama yaitu memenangkan pemilu yang dalam hal ini Capres/Cawapres yang kuat dan punya elektabilitas tinggi. Sampai sekarang belum ada Capresnya, terus apa yang merekatkannya..? Pake Lem..? 😁

Taro misalnya, nanti GP yang dipaksa calonkan, apa bisa menjadi perekat ke 3 partai ini.? Gw rasa tidak, ibaratnya Golkar bergenre rock, PAN dan PPP. bergenre kasidahan. Ya ga nyambung konsernya. Kan ga mungkin kiyai-kiyai tradisional PPP yang biasa menonton kasidahan, diajak nobar bokep oleh GP. 😊

KIB ini awalnya dibentuk memang sebagai sekoci GP dan hanya digunakan untuk menakut-nakuti Megawati agar mengusung GP. Kalau tidak didukung mereka siap berlayar dengan sekoci. Tapi sayang, laiknya sekoci hanya kapal kecil sebagai cadangan untuk penyelamatan pertama dan pasti tidak sebaik dan selengkap kapal utama. Sayang sekoci inipun peralatannya sudah keropos. Sebagian kader Golkar sudah mendeklarasikan Go-Anies, dan sesepuhnya JK, AT sudah terang-terangan mendukung Anies, dan tanggal 16 Habil Marati - Politisi senior PPP membentuk FKM (Forum Kabah Membangun) akan mendeklarasikan dukungan kadernya kepada Anies secara serentak di puluhan kota di Indonesia. Alhasil Jokowi hanya pegang elit-elit partai saja sedangkan gerbong sudah dirangkai ke partai/koalisi sebelah.

Adahal yang lebih penting dan urgent bagi PAN dan PPP, yaitu bagaimana terhindar dari degradasi (tidak lolos ke Senayan) karena tidak mencapai Parlement Threshold 4%. Pemilu 2024 adalah penentuan hidup mati apakah mereka akan tetap bertahan atau akan tereliminasi dari Senayan.

Untuk itu kedua partai akan ekstra hati-hati menentukan Capres dan Cawapres yang diusung agar menguntungkan secara elektoral. Tidak ada gunanya juga Capres/Cawapres yang mereka usung jadi presiden tetapi kader mereka sendiri tidak bisa melenggang ke Senayan, mereka akan jadi penonton tanpa bisa mendapatkan dan memberikan kontribusi. Dan sekali mereka terlempar dari Senayan akan sulit untuk balik lagi dan akan terkubur selamanya. PAN akan digantikan Partai Umat di parlemen sedangkan sebagian kader PPP akan menyebrang ke PKB dan partai-partai lainya.

Kalaupun nanti misalnya Capres/Cawapres yang mereka usung kalah. Mereka masih bisa mendapatkan kursi kabinet gratis seperti halnya Gerindra dengan 'strategi dari dalamnya' yang terkenal itu dapat jatah 2 mentri dan terakhir PAN dapat 1 mentri padahal mereka tidak mendukung Jokowi di kontestasi Pilpres 2019.

Jadi menyelamatkan partai dari degradasi PT 4% jauh lebih penting dan urgent saat ini bagi PAN dan PPP. Dan itu hanya bisa diraih dengan menentukan Capres/Cawapres yang tepat, bukan hanya sebagai kendaraan/sekoci kader lain. Dan gw yakin siapapun pemenangnya nanti, Presiden terpilih akan tetap merangkul partai-partai yang kalah.

Dari ke 3 partai pendukung KIB ini PPP yang paling potensial keluar duluan. Elit PPP pasti akan berhitung dengan seksama dengan memperhatikan suara arus bawah dan konstituen mereka, akan tetap di koalisi KIB atau bergabung dengan koalisi lain agar mereka bisa lolos ke Senayan. Sebagai tambahan Ketum PPP sekarang bukan Mentri dan juga tidak punya kasus sebagai pengunci. Beda dengan AH dan ZH yang keduanya Mentri dan berkasus. Alhasil PPP inilah titik lemah KIB..!

Dan menurut prediksi gw (dengan tingkat kepercayaan 97% + 3% margin error) PPP akan bergabung dengan Koalisi Perubahan (Nasdem-PKS-Demokrat). Karena di koalisi inilah mereka akan mendapatkan manfaat elektoral yang paling maksimal. Sedangkan Golkar akan bergabung dengan PDIP dan PAN 50:50 antara ke Koalisi Perubahan atau KIB.

Jokowi bukan tidak menyadari ini makanya dia terus "menekan' KIB untuk deklarasi. Jokowi menggunakan Pengamat bayaran, media dan Lembaga Survey plat merah (baca yang terafiliasi ke Jokowi) untuk menekan Megawati dengan terus menerus mengeluarkan hasil survei yang menempatkan GP sebagai kandidat yang paling tinggi elektabilitasnya dan Puan Maharani yang paling rendah.

Tetapi sepertinya Mega sudah belajar dan tidak mau ditakuti lagi seperti pencapresan 2014 dimana dia ditakuti-takuti dan akhirnya harus mengusung Jokowi. Mau bukti, Mega dengan tegas menjatuhkan sanksi kepada kader yang terafiliasi dengan dewan kolonel dan dewan kopral. Ini menegaskan bawah dia yang menentukan dan memegang kendali dalam pencapresan 2024.

Selama PDIP belum deklarasi, Partai-partai KIB ini masih bisa berkilah dan berlindung dari tekanan Jokowi, PDIP saja belum deklarasi bagaimana mereka bisa mendeklarasikan GP.

Dan Gongnya nanti adalah begitu PDIP mendeklarasikan Capres/Cawapresnya. Saat itulah koalisi KIB mendeklarasikan PS-MI dan PPP tidak ada pilihan lain, mau tidak mau akan mengambil langkah penyelamatan partai mereka dengan cabut dari KIB.

Perkembangan terakhir Jokowi yang menyatakan bahwa 2024 jatah Prabowo, dapat diartikan bahwa Jokowi sudah pesimis Mega akan mengusung GP sebagai Capres. Makanya harapan Jokowi tinggal PS yang akan menyelamatkan dia pasca lengsernya nanti.

Seperti di status gw yang sebelumnya GP hanya akan dipasangkan sebagai Wapres Puan Maharani (PM).

Ada 2 keuntungan dari pencalonan Pasangan ini, yaitu meredam kekecewaan pendukung GP dan pendukung Jokowi sekaligus akan menjadi subsidi silang rendahnya elektabilitas PM. Ini sebagai langkah brilian dari Mega. Sebagai kader loyal GP mau tak mau harus mematuhi, dan langkah ini sekaligus mengunci Jokowi agar tidak bisa bermanuver lagi mengusung GP lewat KIB.

Jadi PM tetap jadi Capres, yang mana ini sangat penting dan krusial untuk menjaga keutuhan PDIP pasca Megawati.

Dan kalau PPP sudah keluar, KIB akan menjadi Koalisi yang paling duluan bubar.

Menurut Gw prediksi pasangan Capres/Cawapres 2024.

PDIP-Golkar : PM-GP
Gerindra-PKB : PS-MI/Khofifah.
NASDEM-PKS-PD : ARB-AHY/AH

*Sedangkan PAN masih 50:50 ke KIR atau KP