"BUSUKNYA MORALITAS PARA POLITISI DI NEGERI INI"

"BUSUKNYA MORALITAS PARA POLITISI DI NEGERI INI"

Bismillah, segala pujian hanya untuk Allah Azza Wa Jalla, sholawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad, keluarga, para Shahabat-nya, amiin.

Bangsa kita sudah 77 tahun merdeka. Selama itu ada pendidikan di sekolah, ada perkuliahan di kampus, ada berita dan opini di media-media massa. Seharusnya kita banyak belajar dong, dari semua itu. Tapi faktanya, di hari ini bangsa kita TAK MAMPU mengurus negara dengan baik. Berpuluh-puluh tahun belajar, untuk membangun peradaban, seperti tidak jelas hasilnya.

Argumen paling kuat dari pernyataan ini, ialah dengan melihat perilaku para politisi atau pejabat yang mengurus negeri ini. Mayoritas mereka adalah orang-orang yang BERMORAL POLITIK RENDAH, bahkan bisa dikata (maaf) busuk.

Kalau di negara-negara maju, para politisi sering meminta maaf bila melakukan kesalahan. Tidak jarang ada yang berani mundur jabatan, sebagai bentuk pertanggung-jawaban. Terkadang hanya gara-gara menerima hadiah senilai sekian ratus dolar, mereka mundur. Bahkan ada yang gagal jadi kandidat presiden, karena tersangkut kasus perselingkuhan.

Contoh paling mudah ialah sosok Angelina Merkel, pejabat Kanselir Jerman era kemarin. Dulu sebelum jadi kanselir, dia seorang akademisi, tinggal di apartemen. Setelah selesai menjabat, dia kembali ke apartemen semula, melanjutkan kehidupan seperti biasa, tidak membawa aneka harta kekayaan. Padahal wanita ini memimpin Jerman dalam situasi penuh tantangan. Oleh itu masyarakat Jerman menghaturkan hormat yang tulus kepadanya.

Tapi di negara kita, teladan-teladan moral politik seperti itu, sulit dijumpai. Yang ada hanya perilaku serakah, sok berkuasa, aji mumpung, dan minus empati ke rakyat banyak.

Berikut ini gambaran kebusukan moralitas para politisi (pejabat) di negara ini:

1. Menjadi politisi karena tujuan mencari uang, bukan untuk pengabdian masyarakat.

2. Menjadi politisi karena demi popularitas, agar dikenal sebagai "orang penting negara". Dengan begitu akan merasakan sensasi kebanggaan lebih.

3. Banyak melontarkan janji-janji palsu, yang tidak ada komitmen untuk melaksanakan. Dalam rumus mereka, semakin padat dengan kepalsuan, semakin dekat menuju jabatan.

4. Setiap jelang pemilu sering membuat citraan sebagai insan RELIGIUS, meskipun dirinya menganut paham anti agama, atau menolak peran agama dalam kehidupan negara.

5. Berambisi meraih kekayaan tanpa batas, lewat jabatan politik yang digenggam. Dia berpikir, dengan jadi pejabat bisa mendapat banyak proyek, akses modal, jadi broker investasi, atau dapat fasilitas kekebalan bisnis. Padahal secara organik, gaji dan tunjangan mereka sudah besar.

6. Berambisi berkuasa terus-menerus, tanpa akhir, meskipun dirinya tidak becus dalam bekerja sebagai politisi (pejabat). Kalau perlu UU disiasati, demi memuluskan ambisi berkuasa selamanya.

7. Berambisi mewariskan kehidupan mewah dan gaya elitisme kaum pejabat, kepada anak-isteri, keluarga, sanak saudara. Seolah jabatan itu adalah Takdir Tuhan untuk dia dan keluarganya. (Mending kalau kamu becus bekerja boss, bagaimana kalau ancur-ancuran?).

8. Sangat bernafsu bila melihat ada ANGGARAN negara. Saat disebutkan anggaran negara, tiba-tiba nafsunya menggelegak. Otaknya berpikir keras, bagaimana caranya memindahkan anggaran itu ke rekening pribadi? Mereka berasumsi, anggaran adalah ranah kepemilikan pribadi. Siapa cepat, dia dapat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Orang-orang ini tidak ingat, bahwa kelak di Akhirat, Allah akan menanyakan anggaran tersebut.

9. Wawasan keilmuan mereka sangat minim, termasuk di bidang politik. Bahkan di bidang yang mereka geluti sebagai pejabat. Kalau rajin membaca, rajin berpikir, rajin diskusi; pasti mereka tidak akan diam saja melihat penyelewengan sistem birokrasi.

10. Krisis rasa malu. Tidak malu berganti-ganti sikap, berganti retorika, bahkan berganti wadah politik. Semua siap dilakukan, demi mendapat jabatan atau menjadi wakil rakyat.

11. Setelah menjadi elit politik atau pejabat, mengunci pergaulan hanya dengan sesama elit, kaum selebritis, atau komunitas eksklusif. Mereka turun ke rakyat hanya untuk citraan, atau formalitas, atau mengharap dipuji-puji orang banyak. Rakyat hanya jadi "batu pijakan" menuju jabatan.

12. Selama bekerja, sangat takut kepada partai. Bukan takut ke rakyat, apalagi takut kepada Tuhan. Mereka tunduk sepenuhnya kepada partai, agar dirinya tidak dipecat dari jabatan. Mereka meyakini, jabatan sebagai sumber kemewahan, sumber hawa nafsu, sumber kebanggaan elitisme.

13. Membanggakan jabatannya, posisi politik, atau kedudukan sebagai wakil rakyat. Meskipun kontribusinya untuk kemajuan "nul puthul".

14. Merasa biasa saja, atau santai-santai saja, dengan melanggar SUMPAH JABATAN. Biasanya sebelum mejabat dilakukan sumpah jabatan, antara lain akan mendahulukan urusan negara daripada urusan pribadi dan golongan. Tapi ya kenyataannya, mayoritas mengutamakan HAWA NAFSU pribadi daripada kepentingan rakyat, bangsa, negara. Nanti di Akhirat mereka akan sangat menyesali diri.

15. Tidak malu terlibat dalam perbuatan-perbuatan amoral seperti minum miras, konsumsi narkoba, selingkuh, menyuap, hingga korupsi. Sangat aneh dan menyedihkan.

16. Tidak malu mempengaruhi PROSES HUKUM, demi menyelamatkan diri, keluarga, kelompok. Seharusnya netral dalam hukum, tetapi karena punya akses ke polisi, jaksa, hakim; hukum pun disiasati agar lebih ringan dan menguntungkan.

17. Menggunakan kasus-kasus hukum untuk mengalahkan lawan-lawan politiknya. Ini bagian paling menjijikkan. Apa yang disebut abuse of power, benar-benar mereka lakukan secara utuh. Bila dikritik oleh lawan politik, dia akan cari kesalahan si pengeritik, untuk ditundukkan lewat ancaman "diperkarakan". Mereka sendiri bukan tak ada kasus hukum, bahkan banyak, hanya saja ditutup rapat-rapat. Hukum yang seharusnya ditegakkan, malah dijadikan senjata untuk menguasai negara, secara sepihak dan zhalim.

18. Tidak segan-segan membuat produk kebohongan, fitnah, rekayasa demi mencapai tujuan politik. Korbannya bisa siapa saja, terutama orang-orang yang dianggap kritis. Telinganya tidak siap menerima kritik dan cenderung tutup telinga.

19. Demi mencapai jabatan, menghalalkan segala cara. Mungkin karena jabatan itu dianggap setingkat surga, sehingga apapun harus dilakukan untuk meraihnya.

20. Banyak bermain narasi, untuk membenarkan yang salah, atau menyalahkan yang benar. Malam dianggap siang, siang dianggap malam.

21. Sering berhubungan dengan paranormal (mistik) untuk memperkuat kedudukan, menjaga keselamatan, serta menyingkirkan para pesaing. Di sisi lain, bila mereka Muslim, banyak yang tidak mampu membaca Al-Quran dengan baik.

Demikianlah gambaran karakter para politisi (pejabat) negara kita saat ini. Negara kita sedang berada dalam KRISIS POLITIK sangat memilukan. Mengapa? Ya karena mayoritas para politisinya berada dalam performa moral politik sangat buruk. Dalam keadaan seperti ini sangat sulit bagi rakyat untuk mengharap PERBAIKAN dan kemajuan, kecuali hanya kepada Allah saja.

Contoh sederhana ditunjukkan oleh PM Inggris dan PM Kanada, baru-baru ini, dalam pertemuan di Bali. Mereka tidak canggung bertemu di kafe, duduk sederhana, melinting baju, ngobrol akrab, memesan menu. Karena saat itu mereka sedang jalankan TUGAS untuk kebaikan rakyat di negara masing-masing. Tidak perlu sikap sombong, jumawa, angkuh, jaga image, atau minta dihormati seperti raja-raja.

Apakah para politisi (pejabat) di negeri ini tidak merasa malu melihat SIKAP humble kedua PM negara persemakmuran tersebut? Entahlah.

Imam Abu Hamid Al-Ghozali rohimahullah pernah berkata: "Sesungguhnya kedudukan penguasa itu darurat (genting) dalam mengatur urusan dunia dan agama. Mengatur urusan dunia bersifat darurat untuk urusan agama. Sedangkan mengatur urusan agama bersifat darurat untuk meraih kemenangan berupa kebahagiaan di Akhirat."

Bila para politisi dan pejabat (penguasa) memiliki kredibilitas MORAL POLITIK sangat buruk, tentu ini jadi membahayakan bagi urusan dunia, agama, dan Akhirat rakyat negeri ini. Nas'alullah al 'afiyah.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan keselamatan kepada kita, Muslimin Muslimat, bangsa negara Indonesia. Amiin ya Rabbal 'alamiin.

25 Rabi'ul Akhir 1444.

(By Sam Waskito)

*source: fb