Bakar Uang

Bakar Uang

Oleh: Joko Intarto

Hari sudah larut. Tapi perut terasa lapar. Ingatan saya tertuju ke restoran Bebek Kepahiang di ujung Jalan Raya Matraman, Jakarta Pusat. Sudah lama saya tidak mampir ke sana.

Segera saya starter Scoopy kesayangan. Langsung tancap gas untuk memesan dua porsi. Saya ingat Fariz, anak saya, menyukai resep bebek Kepahiang itu.

Sambil menunggu pesanan jadi, saya melihat sebuah X-banner di depan meja kasir. Warnanya merah. Tertera brand yang beberapa waktu lalu diluncurkan di Kuala Lumpur, Malaysia: Airasia Food.

Diversifikasi usaha operator penerbangan murah Air Asia itu rupanya sudah masuk ke Indonesia. Sangat agresif.

Apakah Airasia Food baru masuk ke Jakarta? Atau sudah ke beberapa kota lainnya?

Dengan masuknya Airasia Food, persaingan antaroperator aplikasi pesan-antar makanan di Jakarta menjadi kian keras: GoFood, GrabFood, ShopeeFood dan entah apa lagi.

Bakar uang pun masih terjadi. Termasuk Airasia Food: Menawarkan voucher Rp 25.000 untuk setiap pelanggan baru. Kalau ada sejuta pelanggan baru, Airasa Food berarti akan merogoh kocek Rp 25 miliar.

Wow banget! Bagaimana kalau 10 juta pelanggan baru? Kalikan saja Rp 25 miliar dengan 10.

Jumlah konsumen Indonesia memang menggiurkan bagi para para pengusaha asing. Mereka rela membakar uang setiap hari untuk menggaet pelanggan baru. Apalah artinya Rp 250 miliar.

Beda dengan pengusaha negeri Konoha yang membakar uang untuk urusan politik. Sampai lupa membesarkan brand lokalnya.(jto)