Hamas Hukum Mati 2 Warga Palestina Pengkhianat Yang Bekerja Sama dengan Israel

[PORTAL-ISLAM.ID] GAZA - Gerakan Hamas yang mengumumkan pada Ahad (4 September 2022) telah menjatuhkan hukuman mati kepada lima warga Palestina, termasuk dua orang karena telah “berkolaborasi” dengan ‘Israel’. Hukuman mati untuk kerja sama dengan Israel adalah yang pertama dijatuhkan di wilayah pesisir Palestina dalam lebih dari lima tahun.

“Pada Ahad pagi, dua pengkhianat dijatuhi hukuman mati karena bekerja sama dengan ‘Israel’ dan tiga lainnya dalam kasus kriminal,” kata Hamas dalam pernyataannya dikutip Aljazeera.

Pernyataan itu selanjutnya mengatakan bahwa para terdakwa sebelumnya telah diberikan “hak penuh mereka untuk membela diri”.  

Kementerian Dalam Negeri Hamas memberikan inisial dan tahun kelahiran lima orang Palestina yang telah dieksekusi, tetapi tidak memberikan nama lengkap mereka.

Dua orang yang dieksekusi terbukti bekerja sama dengan ‘Israel’ adalah dua pria yang lahir pada tahun 1978 dan 1968, katanya. 

Pelaku yang lebih tua adalah penduduk Khan Yunis di selatan Jalur Gaza yang terkepung. Dia diduga memberi ‘Israel’ “informasi tentang orang-orang yang melakukan perlawanan dan lokasi peluncuran roket pada 1991”, menurut Hamas.

Pelaku kedua dijatuhi hukuman mati karena memasok ‘Israel’ dengan informasi intelijen “yang menyebabkan warga sipil menjadi sasaran dan dibunuh” di tangan pasukan penjajah, tambah pernyataan itu.  

Sementara itu, tiga pelaku lainnya dijatuhi hukuman mati setelah divonis bersalah atas kasus pembunuhan.

Sejak Hamas menguasai Gaza pada 2007, pengadilan telah menjatuhkan hukuman mati kepada puluhan warga Palestina, dan sejauh ini telah mengeksekusi 27 orang, menurut kelompok hak asasi manusia. Palestina dikenal memiliki banyak gerakan politik, dua yang berpengaruh adalah Hamas dan kelompok Fatah.

Hamas telah menjadi pemimpin de facto Jalur Gaza sejak 2007, setelah mengalahkan dominasi partai Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas dalam pemilihan parlemen. Hamas kemudian mengeluarkan Fatah dari Gaza ketika partai sekuler itu menolak mengakui hasil pemilihan parlemen.

Hamas dan Fatah telah memerintah wilayah Palestina yang diduduki di Jalur Gaza dan satunya di Tepi Barat masing-masing sejak saat itu. Hamas didukung mayoritas rakyat Palestina, sementara Fattah didukung Amerika Serikat (AS) dan ‘Israel’.