Wartawan Senior: Pesimis Membersihkan Polri Siapapun Kapolrinya

Catatan: Naniek S Deyang (Eks Wartawan Senior Investigasi)*

Gak sengaja saya nonton tayangan yang memperlihatkan dalam rumah Sambo yang demikian mewah. Di sebuah lorong dibuat etalase untuk menaruh tas-tas mahal dan mewah.

Etalasenya sangat besar, kiri-kanan dimana di dalamnya terpajang tas-tas branded dengan diberi lampu pada setiap kotaknya. Persis sepeti di butik-butik papan atas.

Baru dua tahun jadi Kadiv Propam, di salah satu rumahnya di Saguling rumah Sambo sangat mewah dan penuh barang-barang mahal. Belum lagi di empat rumah pribadi lainnya.

Saya tercenung sangat lama, bahkan cenderung tidak menemukan solusi, bagaimana membersihkan lembaga kepolisian, bila oknum Jenderal (mungkin oknum banyak) berlaku justru bukan menegakkan hukum tapi menjadi pelanggar hukum.

Dulu berpikir Kapolri bisa mengatasi ini? Tapi melihat perkembangan dalam kasus Sambo, mereka yang ada di Satgassus dengan segala perannya dll, mohon maaf saya gak yakin seorang Kapolri, bahkan mau Kapolrinya siapapun rasanya sulit untuk menegakkan benang basah di tubuh Kepolisian Republik Indonesia.

Bagus juga usulan Pak Dahlan Iskan, struktur kepolisian di Indonesia, jangan ada Kapolri dan Kapolda, status tertinggi Kapolres saja. Tiap Kapolres punya otoritas penuh di wilayahnya. Nah siapa yang memilih Kapolres, tinggal induk yang memayungi, bisa Depdagri, Kemhan, Panglima TNI , atau Menkumham. (Atau dipilih langsung oleh rakyat seperti usul Dahlan Iskan meniru Kepolisian di AS -red).

*fb penulis