JOGET DI MASJID UIN

JOGET DI MASJID

Oleh: Dr. Moeflich H. Hart (Dosen UIN Bandung)

"Kullu bani ādama khatha wa khaira khatha-un tawwābīn." Setiap anak Adam berbuat salah dan sebaik-baiknya yang berbuat salah adalah bertaubat. "Al-insānu mahallul khatta wanisyān." (Manusia itu tempatnya salah dan lupa). Kedua ungkapan itu diperdebatkan sebagai bukan hadits tapi bahwa manusia adalah tempatnya salah atau selalu melakukan kesalahan, tak ada yang menolak.

Joget mahasiswa di Masjid UIN Jember, bukanlah soal lembaga atau soal UIN tapi soal kelalaian yang harus ditegur. Siapapun bisa melakukan kesalahan. Masjid, pesantren, madrasah dan UIN, apalagi partai Islam, selama diurus manusia potensial ada kesalahan. Ustadz, kyai dan ulama, selama mereka manusia, potensial melakukan kesalahan. Bahkan para nabi: Nabi Adam, Nabi Yunus, Nabi Musa dll, semua pernah melakukan kesalahan yang kemudian ditegur oleh Allah. Artinya, selama mereka manusia, potensial melakukan kesalahan.

Banyak masjid diurus gak bener, ada konflik sesama pengurus DKM. Di pesantren banyak terjadi pelecehan seksual, banyak ustadz menghamili santrinya, si ustadz Heri Wirawan heboh menghamili banyak santrinya. Di beberapa UIN terjadi toleransi kebablasan, dicap masyarakat jadi sarang Islam liberal, ada menteri dari partai berbasis santri tapi banyak korupsi dst.

Pelanggaran moral di lembaga-lembaga keagamaan menjadi menonjol karena ada kata agamanya, tetapi tetap saja mereka adalah manusia. Tapi kesalahan jangan dibenarkan. Salah tetap salah.

Joget di masjid di UIN Jember itu memalukan sebagai kelalaian fatal pengurus masjid dan kampusnya. Siapapun tak akan ada yang membenarkan. Harus ada teguran keras dan permintaaf terbuka dari rektornya sebagai kelalaian dan kealfaan tak terkontrol. Itu saja. Para mahasiswa harus dididik dengan benar yang dicontohkan dengan keteladanan para dosen, pemimpin kampus, para pejabat tinggi, para menteri hingga presiden.

[Video]