Yahudi, Umur Panjang, Umur Yang Berkah

UMUR YANG BERKAH

Oleh: Uttiek M Panji Astuti

Yahudi adalah ras bangsa yang tergila-gila dengan umur panjang. Dalam doa-doa mereka, disebutkan kata-kata yang maknanya meminta umurnya dipajangkan. Tujuannya untuk mendapatkan kenikmatan duniawi yang lebih lama.

Kalau zaman dulu mereka mengandalkan doa, di abad modern ini mereka berusaha mencari cara melalui kemajuan teknologi.

Seperti yang dilakukan ilmuwan di Cornell Medical College, New York, Amerika Serikat, Dr Todd Evans, yang mempelajari sel punca Yahudi Ashkenazi.

Melaui riset yang dilakukan pada sel jantung, paru-paru, hati, dan sel lainnya, ditemukanlah “sel panjang umur” yang bisa mengusir serangan jantung, kanker, dan penyakit yang mengancam jiwa lainnya

Dr Evans bersama timnya mengekstrak sel punca dari darah orang Yahudi yang sudah lanjut usia, kemudian mereka mengubahnya menjadi sel organ vital.

Sel organ vital yang sehat tersebut akan dimanfaatkan untuk “memperpanjang usia” seseorang!

Umur Yang Berkah

Islam secara tegas telah menyebutkan, bukan sekadar umur yang panjang, namun umur yang berkah. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW.

Ketika ditanya tentang siapa orang yang paling baik, Rasulullah SAW menjawab, "Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sedangkan orang yang paling buruk adalah orang yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya." [HR Ahmad].

Sejarah mencatat, orang-orang yang usianya “pendek”, namun hidupnya berlimpah berkah. Yang paling masyhur adalah Khalifah Umar ibn Abd Al-Azis (682-720). Usianya "hanya" 38 tahun. Masa pemerintahannya pun sangat singkat, tak lebih dari 3,5 tahun.

Namun, di masanyalah kemakmuran negeri tak tertandingi hingga kini. Baitul Maal negara sampai kesulitan mencari penerima zakat. Nyaris seluruh penduduk negeri telah sampai nisabnya untuk mengeluarkan zakat.

Lalu ada anak-anak muda yang di usia belia telah mencatat sejarah dengan tinta emas.

Tersebutlah Usamah bin Zaid. Ia merupakan panglima Islam termuda, usianya baru 18 tahun, sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah SAW menjelang wafatnya.

Hanya dalam waktu 40 hari, pasukan yang dipimpinnya kembali ke Madinah membawa sejumlah harta rampasan perang tanpa jatuh korban satu pun.

Berikutnya ada Abdurrahman ad Dhakil, Sang Rajawali Umayyah. Di usia19 tahun, seorang diri berhasil lolos dari kejaran Bani Abasiyyah sampai ke Andalusia dan mencatatkan sejarahnya dengan gemilang.

Abdurrahman ad-Dakhil adalah peletak dasar bagi berdirinya Dinasti Bani Umayyah di Spanyol dan berkuasa selama 90 tahun. Pada tahun 750 Masehi ketika Dinasti Abbasiyah melakukan pembunuhan terhadap keluarga Bani Umayyah, dia berhasil melarikan diri. Ad Dakhil mengembara selama lima tahun melalui Palestina, Mesir, Afrika Utara, dan akhirnya berakhir di Spanyol. 

Dia mampu menguasai Spanyol saat itu. Masa pemerintahannya dikenal oleh para ahli sejarah dengan masa pembangunan besar-besaran. Dia membangun kota menjadi lebih indah, membuat pipa air agar masyarakat ibu kota memperolah air bersih, kemudian mendirikan tembok yang kuat di sekeliling kota Kordoba dan istana. Ad Dakhil juga membuat taman yang dinamakan Al-Rusafah di luar kawasan Kordoba, menjadikan Kordoba sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan yang paling menarik di wilayah Eropa.

Kontribusi yang diberikan olehnya dalam bidang penulisan ilmu menarik orang-orang untuk belajar ke istananya. Selain itu, Ad Dakhil juga mendirikan beberapa universitas, di antaranya Universitas Cordova, Universitas Toledo dan Universitas Sevilla, juga membangun masjid Kordoba yang megah (yang pada tahun 1236 di jadikan gereja yang kini dikenal dengan nama La Mazquita).

Tak hanya anak-anak muda yang memiliki energi dahsyat. Tercatat, mereka yang diberikan umur panjang pun tak kedor semangat jihadnya.

Seperti sahabat Nabi Abu Ayyub al Anshari. Di usia 90 tahun, sahabat mulia itu ikut berjihad bersama pasukan Muslimin untuk membebaskan Konstantinopel.

Ucapannya abadi hingga kini, “Kuburkan aku di bawah tembok Konstantinopel, supaya aku mendengar gemerincing pedang pasukan terbaik dan pemimpin terbaik yang berhasil membebaskannya.”

Lalu ada mujahidah mulia Ummu Haram binti Milhan al-Anshariyyah. Ia adalah istri sahabat mulia Abul Walid Ubadah bin ash-Shamit. Bersama suaminya ia ikut pasukan pertama yang menyeberang laut Mediterania.

Ibnu Katsir dalam kitab “Al-Bidayah wan Nihayah” menuliskan usia Ummu Haram 80 tahun kala itu! Lebih menakjubkan lagi, ternyata itu bukan jihad terakhirnya. Ia sempat kembali dengan selamat dan baru pada keberangkatan kedua, syahid di wilayah yang sekarang bernama Ciprus.

Anugerah umur panjang tidak akan bernilai sama sekali jika tidak diisi dengan amal shaleh. Bahkan, boleh jadi hanya menjerumuskan ke dalam azab.

Sebaliknya, umur pendek jika seluruhnya digunakan di jalan Allah, akan membuat hidupnya tak lama namun bermakna hingga ke surgaNya.

#JumatBerkah