Kala Anies Bareng Cak Nun di Kenduri Cinta

[PORTAL-ISLAM.ID]  Malam itu di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM), di bilangan Cikini Raya No. 73, Menteng, Jakarta Pusat, ada gelaran rutin bulanan Kenduri Cinta, tepatnya pada 9 Agustus 2019 yang telah memasuki usia ke-19.

Di situ hadir orang nomor satu di DKI Jakarta, Gubernur Anies Rasyid Baswedan. Ia bersama Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Cal Nun, membaur bersama para jamaah Maiyahan.

Di hadapan para jamaah Maiyahan, Anies berbagi cerita awal mula mengenal Cak Nun dan bagaimana Cak Nun memanggil namanya.

“Cak Nun kalau manggil saya dari dulu ya Anies,” ujar Anies di kanal YouTube @Kiyoto Sudro bertajuk ‘Anies Baswedan Bicara Cinta di Kenduri Cinta’ dikutip KBA News, Jumat, 15 Juli 2022.

Anies sendiri menyapa akrab Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dengan memanggilnya Mbah Nun. Pasalnya jelas Anies, Emha adalah teman dari kakeknya Anies, A.R. Baswedan.

“Betul, Mbah Nun buat saya. Karena temannya simbah (kakek). Jadi Mbah Nun betul-betul teman simbah,” tuturnya.

Mantan Rektor Universitas Paramadina itu menambahkan, dirinya tidak satu generasi dengan Cak Nun saat sama-sama di Yogyakarta.

“Generasinya agak lain. Kami dulu sama-sama di Yogya, zaman waktu saya masih belajar di Yogya, sahabat panjang,” jelasnya.

Anies lantas berseloroh, jadi rasanya aneh kalau Cak Nun memanggil dirinya Mas apalagi Pak.

“Dipanggil Mas atau Pak bukan naik, malah turun pangkat saya. Dipanggil ‘Nies’ berarti masih dianggap (selayaknya) Anies yang dulu,” selorohnya.

Suami dari Fery Farhati Ganis saat itu juga mengungkapkan bahwa dirinya baru bertugas di Jakarta sebagai gubernur satu setengah tahun berjalan.

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Cak Nun yang sudah 19 tahun turut merawat persatuan di Jakarta melalui kegiatan Kenduri Cinta.

“Ini menjadi salah satu simpul persatuan, karena di sini siapa saja, kapan saja, bisa datang dan pergi lintas semuanya, setara,” kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Jokowi-Jusuf Kalla ini.

“Rumahnya boleh besar boleh kecil, tapi di acara ini duduknya setara. Tidak ada bedanya, depan belakang tidak ditentukan oleh pangkat jabatan, tapi ditentukan dulu-duluan datang,” sambungnya disambut gerrr jamaah Maiyahan.

Jadi, Kenduri Cinta telah 19 tahun menjaga persatuan. Dan ini, lanjut Anies, salah satu yang harus saling dijaga sama-sama.

Anies menuturkan, di Republik Indonesia ini ada kalimat Bhinneka Tunggal Ika. “Apa kata paling penting dari tiga ini? tanyanya.

Dijelaskan Anies, yang paling mendasar adalah kata yang di tengah: Tunggal. “Yang di tengah itu, Tunggal artinya satu. Yang beragam dan satu ika itu,” imbuhnya.

Simpul Persatuan

Bagi Anies, Kenduri Cinta menjadi simpul persatuan. “Kalau bhinneka itu bawaan lahir atau latar belakang kita, tetapi bersatu itu hasil perjuangan dan ikhtiar bersama,” kata ayah empat anak ini disambut gemuruh tepuk tangan.

Lebih lanjut dikatakan Anies, bersatu itu hasil perjuangan atau ikhtiar, memilih bersatu atau memilih tidak bersatu. “Tetapi kalau beragam itu latar belakang kita. Jadi yang diperjuangkan adalah bersatunya,” imbuhnya.

“Dan selama 19 tahun, sebulan sekali (Kenduri Cinta) di sini menjadi perawat persatuan di Jakarta,” sambung Anies yang lagi-lagi disambut gemuruh tepuk tangan.

Anies pun menyampaikan komitmennya untuk terus mendorong dan memfasilitasi kegiatan Kenduri Cinta. Di malam itu juga Anies menjelaskan TIM sedang melakukan renovasi. Ada proses dan waktunya.

“Kita berharap betul TIM nantinya, sudah kembali selesai semua ini, maka TIM betul-betul bisa menjadi ekosistem tumbuhnya seniman dan budayawan Indonesia di gelanggang ini,” ujar Anies kala itu yang kembali disambut tepuk tangan.

Kepada Cak Nun dan jamaah Maiyahan, Anies juga menceritakan perjalanan sepanjang menunaikan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Ia mengatakan menemukan banyak sekali solusi-solusi yang tidak pernah diduga sebelumnya. Selalu saja ada yang membukakan pintu-pintu solusi yang tidak terduga sebelumnya.

“Ini semua saya yakin, insya Allah dengan cara-cara kalau kita jalani ini selalu inginnya mohon doakan biar bisa ikhlas,” imbuhnya.

“Jalani ini dengan ikhlas, mudah-mudahan bisa ikut bersama-sama membawa Jakarta jadi tempat yang adil bagi semuanya,” sambung Anies diamini jamaah Maiyahan dan gemuruh tepuk tangan.

Menurut Anies, kalau sudah adil nanti turunannya lebih gampang. Tapi sejahtera dulu belum adil, turunannya masalah nanti.

“Mudah-mudahan (selama menjalankan tugas) bisa membawa Jakarta jadi tempat yang adil bagi semuanya,” harap dan doa Anies.

Mendengar perkataan Anies, Cak Nun pun serta merta menimpali dan menambahkan apa yang tidak mungkin disampaikan Anies, bahwa berlaku adil itu termasuk juga untuk yang memusuhinya. Tetap diberi sikap adil. Tidak berarti kalau sebelumnya orang menyakiti terus ditindas.

Jadi adil maksud Anies itu, demikian lanjut Cak Nun, betul-betul obyektif, siapa pun pada posisi tertentu punya hak tertentu. Semuanya mendapat perlakuan adil.

“Tidak tergantung kamu musuhi atau tidak, sayang atau tidak. Itu yang beliau (Anies) maksudkan. Saya menyaksikan,” imbuh Cak Nun seraya menegaskan dirinya memahaminya karena sebagai teman mbahnya Anies.

“Saya temannya mbah beliau. Anda harus belajar, cari di internet A.R. Baswedan. Anda tidak kenal A.R. Baswedan, Anda tidak kenal masa-masa perjuangan yang sangat susah di Indonesia sejak kelahirannya sampai awal 60-an,” tutur Cak Nun.

Gayung bersambut. Anies lalu menjelaskan prinsip bagaimana berlaku adil yang tepat. “Janganlah ketidaksukaanmu sehingga berbuat tidak adil. Kalau di Jakarta bisa tegakkan prinsip itu, insya Allah bisa menular ke seluruh Indonesia,” ujarnya seraya menegaskan kembali menegakkan keadilan itu adalah prinsip.

Sekadar informasi, pada Sabtu malam, 18 Juni 2022 lalu diselenggarakan Kenduri Cinta di Halaman FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan.

Kenduri Cinta tersebut merupakan edisi spesial karena telah memasuki usia 22 tahun hadir di Jakarta, memberi warna tersendiri di tengah dinamika pergulatan kehidupan sosial masyarakat Ibu Kota.

Kenduri Cinta memang belum bisa terselenggara di lokasi yang tetap seperti dulu di Taman Ismail Marzuki. Seperti dilansir caknun.com, terakhir kali Maiyahan Kenduri Cinta diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki Maret 2020.

Kemudian beberapa kali harus berpindah lokasi, dengan beberapa adaptasi. Di awal tahun 2022, Kenduri Cinta terselenggara di Lapangan PUSDIKLAT KEMNAKER RI, lalu di Kandank Jurank Doank, dan pada bulan Juni di Halaman FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Sebelumnya di Taman Ismail Marzuki ada proses revitalisasi, sehingga lokasi tersebut belum cukup kondusif untuk diselenggarakan Maiyahan seperti sebelumnya. Semoga Kenduri Cinta bisa kembali terselenggara di Taman Ismail Marzuki.