REFLEKSI ATAS KEMATIAN ERIL

REFLEKSI ATAS KEMATIAN ERIL

Oleh: Dr. Moeflich Hasbullah (UIN Bandung)

Emmeril Kahn Mumtadz, anaknya Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang tenggelam di sungai Aare Swiss, sudah dinyatakan meninggal kemarin. Saya pun ikut shalat gaib setelah jumatan tadi di kampus. Bagi keluarganya, itu adalah ujian/musibah, bagi kita, masyarakat, yang masih hidup, adalah renungan. Apa yang harus direnungkan saat mendengar berita kematian yang kita dengar hampir setiap hari di sekeliling kita?

LIMA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT MENDENGAR KEMATIAN SESEORANG 

Bila ada peristiwa kematian yang menimpa seseorang yang kita kenal, umumnya kita menunjukkan kekagetan dan mengatakan kalimat innâlillâhi wa innâ ilaihi raji’ûn beserta do'a untuk almarhum. Setiap kematian sesungguhnya harus dihayati. Nabi menganjurkan kita agar banyak mengingat kematian untuk mendorong kita mempersiapkan dan menjemputnya agar kita mendapatkan kematian yang baik (husnul khatimah). Sebagai introspeksi kita, ada lima hal yang patut diperhatikan saat mendengar ada peristiwa kematian yang menimpa seseorang sebagaimana dijelaskan di bawah ini. 

1. Sedang apa ketika ia mati?

Pertanyaan ini untuk membuat kita hati-hati soal pekerjaan, kesibukan atau apa yang sedang kita lakukan yang mungkin kematian menjemput kita saat itu. Sedang beribadah? Sedang beramal? Sedang menolong orang? Sedang hura-hura? Sedang pesta? Sedang senang-senang? Sedang melakukan maksiat? Sedang menyakiti orang? Bila kematiannya sedang berbuat amal kebajikan, beruntunglah ia. Bila kematiannya sedang melakukan keburukan, rugilah ia. Ini nasehat agar kita berhati-hati, agar kematian kita kelak sedang melakukan kebaikan. 

2. Apa yang menyebabkan ia mati? 

Kematian banyak sebabnya. Apa yang menyebabkan kematian seseorang? Ngebut di jalan? Narkoba, obat bius, bunuh diri, frustrasi? Stres oleh beban hidup? Tewas di medan pertempuran membela agama dan negara? Bila sebab kematiannya buruk, maka buruklah kematiannya. Sebaliknya, bila sebab kematiannya adalah hal-hal yang positif, apalagi syahid karena perjuangannya di jalan Allah atau berjihad membela agama, maka beruntunglah ia. Kita harus berdoa kepada Allah agar kematian kita pun seperti itu.

3. Dimana ia mati?

Di masjid? Di rumah? Di rumah sakit? Di jalan raya? Di tempat kerja? Atau di diskotik? Di tempat hiburan mesum? Sedang meliuk-liukan goyang syahwat di tiktok? Di hotel ketika sedang main perempuan? Di tempat judi? 

Ini adalah perenungan agar berhati-hati soal tempat yang sering kita kunjungi. Kematian bisa merenggut kapan saja, dimana saja, seperti Eril yang keluarga Ridwan Kamil dan siapapun tak menyangka meninggalnya jauh sekali di sebuah sungai di Eropa. 

Beruntunglah bila kematian datang saat kita sedang beribadah, sedang menghadiri pengajian, sedang menolong orang, sedang mencari nafkah yang halal, sedang menulis ilmu yang bermanfaat dsb. Sebaliknya, rugilah dan menyesallah bila kematian datang saat kita berada di tempat-tempat yang buruk yang jauh dari rahmat Allah SWT.

4. Apa yang ditinggalkannya setelah mati?

Harta yang kotor? Anak-anak yang durhaka? Keturunan yang jauh dari agama? Citra diri yang buruk? Nama yang buruk? Kesan yang buruk? Sakit hati teman-teman, tetangga atau saudara? Kutukan orang-orang? Orang-orang yang lega dan senang dengan kematiannya? Atau sebaliknya, nama yang harum, citra yang baik, kebaikan yang banyak dikenang, kesedihan orang-orang, do’a teman dan tetangga yang merasa sangat kehilangan? 

Bila keburukan yang kita tinggalkan setelah mati, keburukan itulah akan kita hadapi dan menemani setelah mati. Bila kebaikan yang kita tinggalkan, maka kebaikan itulah pula yang akan kita dapatkan dan menemani kita di akhirat kelak.

5. Apa yang akan dibawanya setelah mati?

Terakhir, berbeda dengan apa yang ditinggalkan, apa yang akan dibawa setelah mati? Amal kebaikan yang banyak? Ibadah yang tidak pernah ditinggalkan? Atau, dosa-dosa yang melimpah? Pembangkangan pada perintah Allah? Kedurhakaan pada orang tua? Hati yang keras karena susah menerima nasehat? Kehidupan yang jauh dari agama? Dan seterusnya. 

Renungan lima pertanyaan tentang kematian ini adalah renungan bagi yang masih hidup agar benar-benar mempersiapkan diri menghadapi kematian. Agar hati-hati dalam hidup, agar tidak seenaknya berbuat, agar hati-hati menggunakan umur, agar selalu berada di tempat yang baik dst. Tinggal pilih, semuanya terpulang kepada diri masing-masing.

Mati Tenggelam Insya Allah Syahid

Rasulullah ﷺ bersabda: 

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memberikan pahala kepadanya sesuai niatnya, apa yang kalian ketahui tentang mati Syahid?” Mereka berkata, “Berperang di jalan Allah Azza wa Jalla,” Rasulullah ﷺ bersabda: “Mati syahid ada tujuh macam selain berperang di jalan Allah Azza wa Jalla; Orang yang meninggal karena penyakit tha’un (wabah pes) adalah syahid, orang yang meninggal karena sakit perut adalah syahid, orang yang meninggal tenggelam adalah syahid, orang yang meninggal tertimpa benda keras adalah syahid, orang yang meninggal karena penyakit pleuritis adalah syahid, orang yang mati terbakar adalah syahid dan seorang wanita yang mati karena hamil adalah syahid.” (HR An-Nasa`i)