Taliban Mewajibkan Cadar dan Burqa, Apakah Kebijakan Taliban Salah?

Pemerintah Taliban (Imarah Afghanistan) mulai mewajibkan cadar dan burqa (jubah anti panas yang menutup kepala).

Uniknya jika ada perempuan di tempat umum melanggar aturan itu yang diminta bertanggung jawab adalah wali atau suaminya.

Pihak luar (Barat terutama) kemudian mengecam dan mengkritik kebijakan tersebut dengan berbagai alasan.

Pertanyaannya apakah kebijakan Taliban salah?

👉Pertama ditinjau dari Syari'at Islam. Tentu saja tidak salah. Burqa (budaya Afghan) memenuhi kriteria kewajiban menutup aurat. Jadi kebijakan Ulil Amri seperti apapun selama tidak menyalahi syari'at maka masyarakat wajib taat. Kalaupun mau mengkritik atau memperbaiki kebijakan harus dilakukan baik-baik menghadap langsung kepada pihak yang berwenang.

👉Kedua ditinjau dari Kedaulatan Negara. Dalam hal ini lebih tidak salah lagi. Suka-suka mereka dong, siapa ente (Barat) main larang-larang. Sudah dulunya nebar bom, lalu nge-embargo, sampai merampas devisa rakyat Afghan, eh ente mau ngatur-ngatur pula, otak dimana.

Singapura ngecambuk dan penjarakan orang yang cuma buang sampah kecil, geledah privasi orang berjenggot dan bercadar, ente hormati, lah Afghanistan juga harusnya ente hormati dong.

👉Ketiga ditinjau dari Segi Budaya. Burqa sudah melekat dalam tradisi masyarakat Afghanistan. Mayoritas perempuan menerimanya. Lagipula kostum tersebut sangat longgar dan bebas dilepas ketika di ruang privat (di keluarga sendiri atau di area perempuan semua).

"Tapi kan ini memaksa dan menindas kaum wanita?"

Lah budaya di sana yang dihukum laki-laki, yang diwajibkan cari nafkah laki-laki, yang diwajibkan bertaruh nyawa juga laki-laki.

Kalau semua aturan yang sifatnya memaksa harus dilarang untuk mengikuti nalar hipokrit Barat. Berarti anda jangan memaksa anak pakai baju sampai nanti dia mau pakai baju sendiri. Jangan paksa anak bersekolah sampai dia nanti sadar sendiri untuk sekolah. Jangan suruh sholat. Jangan paksa upacara. Jangan paksa hormati negara. Jangan paksa sikat gigi. Jangan paksa mandi. Jangan paksa tidur. Jangan paksa makan. Jangan ngatur-ngatur pakaian formal. Jangan paksa orang mempelajari sejarah, geografi, matematika, kimia dst.

Intinya kembali lagi, pemerintah de facto Afghanistan berhak membuat aturan bertujuan melestarikan nilai agama dan budaya setempat sehingga tidak diserbu nilai asing yang suatu hari malah menimbulkan konflik besar.
"Tapi kan, jadinya kaum wanita terpinggirkan tidak bisa berpartisipasi, jadi setengah populasi tenaganya dibekukan?"

Lihat Ukraina, waktu perang perempuan dievakuasi, apa mau bilang diskriminatif dan setengah populasi dibekukan padahal negara sedang butuh tenaga tempur sebanyak-banyaknya?

Intinya ada tugas masing-masing sesuai jenis kelamin dan kapasitas fisik/otak/fisiologis.

Wanita Afghanistan sudah terbukti selama 40 tahun menjadi pondasi keluarga dan pendidik para pejuang tangguh, sehingga 2 negara superpower dipermalukan di sana.

Kelompok ente yang perempuannya main joget tiktok dan joget dangdut gak usah merasa paling benar dan paling tahu Islam deh.

(By Pega Aji Sitama)