Kader Muhammadiyah Sindir Ketum PBNU: Bendera LGBT Bukan Urusan Kita, Giliran Bendera Tauhid Diurus!

[PORTAL-ISLAM.ID]  Kader Muhammadiyah yang juga merupakan Ketua DPP Partai Ummat, Mustofa Nahrawardaya menyentil pihak tertentu yang getol menyindir Ustaz Abdul Somad (UAS) serta tidak mengkritik pengibaran bendera Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kedutaan Besar (Kedubes) Inggris. 

Mustofa heran, kelompok ini acuh tak acuh dengan pengibaran bendera LGBT, bahkan mereka seolah membela dengan alasan kemanusiaan, tetapi ketika bendera bertuliskan kalimat tauhid dikabarkan, kelompok ini bereaksi keras. 

"Konon UAS bukan urusan kita. Konon Bendera LGBT bukan urusan kita. Giliran Bendera Tauhid diurus," kata Mustofa di Twitter-nya @MNW_MNW_MNW, dikutip Rabu 25 Mei 2022. 

Bukan saja itu, kelompok ini juga, menurut Mustofa, mereka mengurusi Natal dan menyindir sunnah Nabi seperti jenggot dan lainnya. 

"Bulan Desember diurus. Taliban diurus. Suriah diurus. Wahabi diurus. Lady Gaga diurus. Gerombolan lendir dibela. Ngantuk'an dibela. Jenggotan sunnah dicela. Kalian ini siapa?" sindir Mustofa. 

Tidak secara gamblang sindiran tersebut dialamatkan. Namun cuitan itu cukup mendapat atensi netizen. 

Sebelumnya, Kedubes Inggris untuk Indonesia mengibarkan bendera pelangi yang merupakan simbol LGBT dalam rangka memperingati International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia (IDAHOBIT) yang jatuh pada 17 Mei lalu.

Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf turut berkomentar singkat mengenai pengibaran bendera tersebut. 

Menurutnya, pengibaran bendera LGBT oleh Kedubes Inggris di halaman kedutaan mereka bukan urusan PBNU maupun Indonesia. 

"Silakan program mereka itu, bukan urusan kita," jelas Gus Yahya kepada wartawan Jumat lalu. 

Sementara itu, cendekiawan NU, Nadirsyah Hosen alias Gus Nadir mengatakan, urusan LGBT adalah tentang kemanusiaan. 

Gus Nadir mengataka, para pengidap LGBT harus dipandang sebagai sesama manusia. 

"Hormati mereka sebagai sesama manusia. Setiap manusia membawa ruh suci dari Allah. Sebagai warga negara, mereka juga punya hak dan kewajiban yang sama," katanya. 

Gus Nadir bilang, mereka tidak boleh didiskriminasi. Urusan dosa, biar mereka dengan Tuhan.

"Tidak boleh terjadi diskriminasi terhadap siapapun juga. Urusan dosa atau tidak, itu urusan mereka dengan Allah. Sesederhana itu. Gak pakai ribet," kata Nadir. [fin]