3 PARTAI MENDADAK KOALISI

Tiga Mendadak Koalisi

- Koalisi Golkar bersama PAN dan PPP ditengarai sebagai manuver untuk mendorong Airlangga Hartarto maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2024. 

- Sebagai pendamping Airlangga, koalisi tiga partai ini berencana mencari calon wakil presiden yang tingkat popularitasnya tinggi. 

- Pembentukan koalisi ini sekaligus menjadi respons atas konflik internal dan manuver sejumlah politikus senior Golkar yang hendak menggulingkan Airlangga dari kursi ketua umum partai.

JAKARTA – Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto disebut-sebut telah merancang koalisi dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) jauh sebelum menggelar pertemuan dengan ketua umum kedua partai itu. Pertemuan koalisi partai politik tersebut juga dinilai sebagai manuver politik Airlangga untuk membuktikan dirinya bakal maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2024.

Ketua Dewan Pakar Partai Golkar, Agung Laksono, mengatakan komunikasi yang dibangun Airlangga dengan PPP dan PAN merupakan langkah politik yang lumrah sebagai ketua umum. “Beliau mengadakan pertemuan-pertemuan, manuver politik yang cukup baik, termasuk pertemuan dengan ketua umum partai-partai politik," ujar Agung kepada Tempo, Selasa lalu.

Dua hari setelah itu, Airlangga bertemu dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Mereka mewacanakan membentuk koalisi tiga partai. 
Sejumlah sumber Tempo di Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar menyebutkan Airlangga sudah yakin bakal maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2024. Kendalanya, Airlangga membutuhkan sosok calon wakil presiden.  

Menurut sumber itu, PPP dan PAN tidak “call” posisi tersebut. “Jadi, bisa dicari dari yang popularitasnya tinggi," ujarnya.

Airlangga disebut akan berbekal slogan kampanye "Jalan Tengah" sebagai upaya untuk menghindari polarisasi antara kubu pendukung dan yang berseberangan dengan pemerintah. 

Airlangga mengatakan bahwa koalisi yang ia bangun dengan PPP dan PAN berbekal pengalaman panjang sejak 1985 di parlemen ataupun di pemerintahan. "Dengan Pak Zulkifli, kami sudah bekerja bersama sejak 2000-an," ujar Airlangga.

Manuver Airlangga maju sebagai calon presiden tidak mudah. Sejumlah lembaga survei menyebutkan bahwa elektabilitas Airlangga belum bisa terdongkrak, bahkan masih jauh di bawah rata-rata. Airlangga masih kalah pamor oleh tokoh-tokoh seperti Ganjar Pranowo (PDIP), Prabowo Subianto (Partai Gerindra), dan Anies Baswedan. Charta Politica, Point Indonesia, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), misalnya, menempatkan Ganjar, Prabowo, dan Anies dalam urutan tertinggi elektabilitas.

Posisi Airlangga sebagai ketua umum juga dikabarkan tengah digoyang oleh sejumlah kelompok. 

Sumber yang berseberangan dengan Airlangga bercerita bahwa koalisi yang dibangun dengan PAN dan PPP merupakan upaya untuk menepis meluasnya krisis kepercayaan di lingkup internal Golkar. 

Menurut dia, Airlangga selama ini hanya didukung oleh kelompok kecil di Golkar. 

"Nanti lihat saja apabila Airlangga terkena reshuffle, otomatis dia akan tumbang dari Golkar," tutur dia.

Agung membantah kabar tersebut. Dia menegaskan, kepemimpinan Airlangga sangat solid didukung oleh internal kader untuk memimpin Golkar hingga 2024. 

Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, juga membantah jika dikatakan bahwa upaya koalisi yang dibangun Golkar dengan PPP dan PAN merupakan cara Airlangga untuk meredam rencana penggulingan. 

"Di internal sendiri, kami sangat solid. Rumor yang mengatakan bahwa akan ada penggulingan terhadap Airlangga juga sudah ditepis oleh internal partai," tutur Ace.

Ace menegaskan, koalisi partai politik dengan PAN dan PPP merupakan bagian dari amanat musyawarah nasional dan rapat pimpinan nasional Partai Golkar yang mengusung Airlangga sebagai calon presiden. Dia mengajak publik untuk obyektif dalam melihat proses politik di Golkar. 

“Justru koalisi yang tengah dirintis menunjukkan karakter kepemimpinan Airlangga yang mampu menggalang kekuatan untuk maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2024,” ujar Ace.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Aksara Research Institute, Hendri Kurniawan, melihat koalisi yang dibangun Golkar dengan PPP dan PAN terlihat rapuh dan terburu-buru. Hal itu lantaran posisi PAN dan PPP sebagai partai papan bawah di parlemen yang tidak akan berperan menyumbang suara. "Kami melihat ini sebagai bentuk kepanikan Golkar. Apalagi jika benar ada rencana pelengseran terhadap posisi Airlangga," tutur dia.

Adapun Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, melihat komposisi koalisi Golkar, PPP, dan PAN justru representatif karena ketiga partai tersebut memiliki basis pemilih yang berbeda. Koalisi partai politik itu sudah cukup sebagai modal Airlangga untuk maju sebagai calon presiden, meskipun PPP dan PAN memiliki porsi suara yang kecil. “Karena, jika bukan dengan PPP dan PAN, peluang keterusungan Airlangga kian surut."

👉SELENGKAPNYA baca di Koran Tempo (14/5/2022)