Syahadat Mengantar Anne Mitchell Pulang ke HaribaanNya dengan Senyuman

“Mom, do you see him?” tanya Adam di sela bisikan talkinnya. (talkin = membisikkan (menyebutkan) kalimat Laa Ilaha Illallah dekat orang yang hendak meninggal dunia/sakaratul maut). 

Adam menduga malaikat telah datang menjemput ibunya. Anne Mitchell tak menjawab. Hanya senyum indah tersungging dari bibir wanita 70 tahun itu. Adam terus mentalkin. Anne Mitchell tetap tersenyum hingga akhirnya ia pergi, pulang ke Rahmatullah.

“Ia pun senyum hingga selesai, pergi ...,” tutur Muhammad Noorsjamsi, ayah mertua Adam kepada Topswara.com (13/4/2022).

Saat itu Anne Mitchell baru dua pekan mendeklarasikan syahadatnya di Masjid Gallipoli, Auburn, Sydney, Australia. 
Sebelum memeluk Islam, pensiunan kelahiran Jepang itu percaya pada Tuhan. Namun, dia tidak memiliki agama. 

Ketertarikannya kepada Islam muncul ketika dia menyaksikan sendiri kebaikan dari orang-orang Muslim yang dia jumpai. Dia juga mendapati menantu dan cucu-cucunya, yang beragama Islam telah memperlakukannya dengan sopan santun. Mereka memberikan kebaikan yang terbaik kepadanya. Anne melihat kehidupan rumah tangga Islam sangat berbeda.

Sebelumnya, beredar rumor tidak baik tentang Islam di kalangan masyarakat Australia. Terlebih lagi, keluarga dari istrinya Adam tinggal di Lakemba, Sydney bagian Selatan yang merupakan basis orang Islam di Sidney. 

Warga Australia banyak yang takut datang ke wilayah Lakemba. Namun, tidak demikian dengan Anne. Meski belum memeluk Islam, Anne adalah sosok yang tidak percaya dengan media yang tendensius terhadap Islam.

Benar saja. Dia yang sejak usia 5 tahun tinggal Australia, membuktikan sendiri bahwa anggapan buruk terhadap Islam itu tidak benar. Saat datang ke Lakemba, dia justru mendapati umat Muslim itu baik, rendah hati, dan murah hati.

Anne sangat senang. Di mana pun dia pergi dan berjumpa seorang Muslim di sana, dia temukan perlakuan yang sangat baik. Berbanding terbalik dengan anggapan warga Australia yang takut kepada Islam. Anne lebih memahami bahwa penduduk Muslim itu ramah-ramah.

Hingga sekitar 2 tahun lalu, Anne jatuh sakit. Dia didiagnosis menderita kanker pankreas stadium akhir. Dokter memperkirakan waktunya untuk hidup tidak lama. Dalam estimasi medis, tubuh Anne bisa bertahan hanya dalam hitungan beberapa pekan.

Sejak itu keinginannya memeluk Islam makin kuat. Dia ingin menjadi Muslim. Dia tidak peduli akan perkataan orang tentang itu. Yang jelas, harapannya hanya satu, ia ingin sukses di akhirat, bahagia dan bertemu keluarganya di kehidupan selanjutnya. Dia ingin bersama-sama masuk surga. 

Dia telah menyaksikan bahwa umat Islam berpegang teguh pada agama mereka, tidak seperti agama lain. Itu semakin membulatkan tekadnya. Tanpa hambatan berarti, Anne pun mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bimbingan putranya, Adam. 

Sakit yang ia derita tak menyurutkan keinginannya mempelajari dan mendalami Islam. Meski sulit baginya untuk melafalkan kata-kata bahasa Arab, tetapi Anne Mitchell berusaha sekuat tenaga.

Meski telah bersyahadat di hadapan putranya di rumah, Anne Mitchell masih merasa kurang sreg dengan kesaksiannya itu. Dia pun ingin bersyahadat secara lebih resmi dan disaksikan masyarakat Islam di masjid. Dia ingin bertemu masyarakat Islam. Dia ingin tahu isi di dalam masjid, lalu belajar Islam dan mengikuti aktivitas-aktivitas di masjid. 

Tak lama dari itu, Masjid Gallipoli, Auburn, Sydney, Australia menjadi saksi kesungguhan Anne untuk menjadi seorang Muslimah. Dengan dibimbing Syekh Ryan, alumnus Madinah yang merupakan ulama kelahiran Australia yang memiliki darah keturunan Indonesia, Anne Mitchell mengucapkan dua kalimat syahadat.

Suasana haru menyelimuti Masjid Gallipoli hari itu. Bahagia yang tak bisa terlukis kata-kata dirasakan oleh mereka yang hadir dan pastinya oleh Anne Mitchell. Dia bahkan merasakan tubuhnya lebih bugar dan sehat setelah mendeklarasikan ketauhidannya itu. Semangatnya meningkat. Dia merasa telah menemukan sesuatu yang berbeda.

Namun, kegembiraan sang ibu itu tidak bisa disaksikan Adam lebih lama lagi. Dua  minggu setelah deklarasi keislamannya di Masjid Gallipoli, kesehatan Anne Mitchell menurun. Mendapati ibunya yang semakin drop, Adam mentalkinnya, hingga syahadat itu mengantarkan kepulangannya dengan seyuman.

Ternyata, waktu yang singkat dalam pelukan Islam itu tak membuat Anne Mitchell tidak berdakwah. Apa yang dia sampaikan kepada adiknya, menandakan ia telah berdakwah kepada keluarganya.

Saat itu, setelah Anne Mitchell divonis dokter menderita sakit parah, adik perempuannya kerap mengunjunginya. Sang adik sengaja datang ke kediaman Anne Mitchell di  Parramatta, Sydney bagian barat untuk membesarkan hati sang kakak dan mengingatkannya agar senantiasa bersabar. 

Namun, jawaban Anne Mitchell justru tak terduga. “Saya enggak apa-apa. Saya sudah jelas tujuannya,” ujarnya yang merasa lega karena telah memeluk Islam. 

Dia justru mengkhawatirkan adiknya. Dia menjelaskan kepada adiknya bahwa bila seseorang meninggal, sudah jelas tempat kembalinya, antara yang beriman kepada Allah dan yang belum beriman.

“Sudah clear. Tapi kalau kamu, sudah jelas belum tujuannya?” tanya Anne Mitchell. 

Adiknya yang belum bersyahadat dan masih beranggapan seperti kebanyakan warga Australia yang non-Muslim itu tak bisa menjawab. Anak perempuan terkecil di keluarga itu hanya tersenyum mendengar perkataan kakak sulungnya.

Hingga saat acara pemakaman Anne Mitchell, keluarga besar hadir dan berkumpul, termasuk adik-adik Anne Mitchell. Di acara tersebut ada ceramah. Saat itu, sang ustaz menjelaskan dengan sangat gamblang tentang keagungan Islam, juga tentang tujuan hidup manusia. 

Setelah peristiwa itu, tampak ada perubahan pandangan dan sikap dari saudaranya Anne Mitchell itu terhadap Islam. Dia jadi lebih terbuka terhadap Islam dan ramah terhadap keluarganya yang Muslim, serta umat Islam. 

Keluarga Adam pun berharap, semoga saja hidayah menghampirinya hingga harapan Anne Mitchell untuk sukses di akhirat, bahagia dan bertemu keluarganya di kehidupan akhirat dan bersama-sama masuk surga akan terwujud.[] Saptaningtyas