OHH BEGITU TERNYATA... Said Didu ungkap "Kenapa harga BBM naik, kenapa Solar dan Pertalite kosong di berbagai daerah"

SEPUTAR BBM

Oleh: Muhammad Said Didu (Eks Sekretaris Kementerian BUMN)

1. Bismillahirrahmanirrahim. Selamat berbuka puasa Saudara2 di Indonesia. Dari Sydney, saya akan buat kultwit atau utas kenapa harga BBM naik, kenapa solar dan pertalite kosong di berbagai daerah, apa penyebabnya, siapa yg bertanggungjawab dan bagaiman solusinya.

2. Kenaikan harga BBM (Pertamax) sudah jelas penyebanya yaitu karena harga crude (minyak mentah) naik menjadi sekitar $ 110 per barrel yg jadi pertanyaan kenapa saat harga crude anjlok menjadi sekitar $ 20 harga BBM tidak diturunkan? Yg akan saya bahas rinci adalah tentang solar dan pertalite.

3. Seperti diketahui bahwa asumsi harga crude di APBN 2022 adalah $ 63 per barrel dg harga tsb harga solar subsidi Rp 5.150 dg subsidi tetap Rp 500 per liter. Artinya harga keekonomian solar jika harga crude sekitar $ 60 per barrel adalah Rp 5.650 per liter.

4. Jika harga crude sekitar $ 110 per barrel dg kurs $ sekitar Rp 14.500 maka harga keekonomian solar menjadi sekitar Rp 13.000 per liter. Nah - selisih harga sekitar Rp 8.000 per liter dg solar bersubsidi inilah menjadi sember permasalahan. Demikian juga halnya dg pertalite.

5. Biar jelas bahwa formula sederhana harga BBM Indonesia : (harga crude x kurs) + harga bahan baku tambahan + biaya pengolahan + biaya transportasi + biaya penyimpanan + biaya penyusutan + PPN + pajak daerah + marjin produsen + marjin SPBU.

6. BBM jenis pertalite saat ini belum jelas, apakah menjadi BBM bersubsidi atau BBM penugasan untuk menggantikan BBM Premium, karena dalam APBN 2022 jenis BBM bersubsidi adalah premium tapi saat ini premium "dihilangkan" di pasar. Belum ada keputusan resmi ttg pertalite

7. Bagi pemerintah, kenaikan harga crude justru menguntungkan. Dengan produksi 700.000 barrel/hari, setiap kenaikan $ 1 menaikkan pendapatan (termasuk pajak) sekitar Rp 3,0 trilyun. Jika harga sekitar $ 100, asumsi APBN $ 63 maka kenaikan pendapatan sekitar Rp 110 trilyun.

8. Artinya ada dana untuk bisa subsidi BBM. Antri solar dan pertalite karena stok berkurang - kenapa stok berkurang? Akan diuraikan berikutnya. Siapa yg bertanggung jawab thdp kekurangan stok ? Akan diuraikan butir bekutnya. Bagaimana solusinya? Akan diuraikan.

9. Penyebab antri solar penyebabnya adalah permintaan solar subsidi melebihi kuota solar subsidi dalam APBN. Diperkirakan banyak konsumen solar non subsidi "membeli" solar subsidi. Ini terjadi karena selisih harga antara solar subsidi dg non subsidi sekitar Rp 8.000 per liter

10. Penetapan harga dan jumlah produk bersubsidi dlm APBN sbb :

Total nilai Subsidi = Kuota jumlah produk disubsidi x ((Harga Pokok Penjualan - Harga Penetapan Pemerintah) + marjin).

Artinya bhw total jumlah solar yg disubsidi penjualannya tdk boleh lbh dari kuota.

11. Artinya jika pemerintah belum memutuskan penambahan kuota solar bersubsidi dan aparat belum berhasil menjaga "penyelundupan" solar bersubsidi maka @pertamina tidak boleh menambah supply solar bersubsidi -jika pertamina menyalurkan lbh dari kuota maka jadi pelanggaran.

12. Selain masalah kuota, @pertamina juga hadapi masalah kekurangan dana subsidi yg harus ditalangi oleh pertamina. Dana subsidi solar dlm APBN hanya Rp 500 per liter sementara selisih harga sudah sekitar Rp 8.000 maka pertamina menalangi sekitar Rp 7.500 per liter.

13. Dana talangan tsb baru akan dibayar oleh pemerintah setelah diaudit oleh BPK tahun berikutnya dan itu pun biasanya dicicil oleh pemerintah. Kejadian tsb selalu berulang sehingga utang pemerintah ke Pertamina umumnya di atas Rp 100 trilyun. Ini mengganggu cash pertamina.

14. Masalah pertalite lebih rumit dari solar karena pertalite belum ditetapkan sebagai BBM bersubsidi sehingga dibutuhkan keputusan pemerintah berupa:
1) total kuota petralite
2) kuota masing-masing daerah
3) harga pertalite bersubsidi
apakah ada pertalite non subsidi?

15. Perkiraan saya, harga keekonomian pertalite saat harga crude sekitar $ 100 per barrel sekitar Rp 12.000 per liter. Jika harga jual saat ini tdk berubah Rp 7.650 per liter maka diperlukan subsidi sekitar Rp 4.350 per liter. Kita menunggu berapa kuota dan dana subsidi

16. Jadi penyebab antri solar adalah:
1) kuota solar subsidi tdk mencukupi
2) dana subsidi solar dlm APBN tidak cukup
3) ditengarai konsumsi solar non subsidi beralih ke solar subsidi
4) pertamina makin berat menanggung talangan subsidi solar
Pemerintah hrs turun tangan

17. Penyebab antri pertalite:
1) harga pertamax naik
2) blm ada keputusan resmi bhw pertalite termasuk BBM subsidi/penugasan
3) blm ada keputusan besaran subsidi, harga jual, dan kuota pertalite bersubsidi
4) dg harga skrg pertamina menanggung kerugian sehingga wajar mengurangi supply

18. Penanggungjawab keputusan utk menyelesaikan antri solar dan pertalite:
1) penyediaan dana subsidi : Menkeu
2) penetapan kuota dan harga : MenESDM
3) Mekanisme pelaksanaan : MenBUMN/Pertamina

Tentunya harus mendapatkan persetujuan DPR -biasanya tinggal ketok palu.

19. Sangat disayangkan bhw setiap ada gejolak kenaikan harga - justru keputusan kenaikan harga lbh diutamakan dibandingkan dg penyediaan produk bersubsidi bagi rakyat. Ini terjadi pada kasus minyak goreng dan BBM. Barang bersubsidi blm disiapkan tapi harga dinaikkan.

20. Kesimpulan terjadinya antrian solar dan pertalite:
1) lambatnya keputusan pemerintah ttg dana subsidi, kuota, dan harga.
2) pertamina tdk bisa menyelasaikan krn diluar kewenangannya dan tdk kuat menanggung kerugian.

(Dari Twit @msaid_didu 06/04/2022)