Wawancara Duta Besar Ukraina Untuk RI: Ternyata Teman Baik Fadli Zon

Rusia terus membombardir kota-kota di Ukraina. Sebagian warga Ukraina kini mengungsi untuk mencari tempat aman, termasuk ke berbagai negara tetangga. Sebagian lagi memilih bertahan sambil mengutuk gempuran senjata Rusia yang membuat banyak kerusakan di negara itu. Pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa, PLTN Zaporizhzhia, pun tak luput dari sasaran. Pembangkit listrik itu sempat terbakar, tapi layanan darurat berhasil memadamkan kebakaran.

Semua situasi tersebut membuat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Ukraina untuk Republik Indonesia, Dr Vasyl Hamianin, tidak bisa tidur. Sejak perang meletus, Vasyl terus memelototi perkembangan di negaranya. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Ukraina yang sekitar lima jam menjadi tantangan lain. “Hidup saya berubah. Semua berubah. Saya hanya tidur empat jam sepekan ini,” ujar Hamianin kepada Dian Yuliastuti, Abdul Manan, dan Gangsar Parikesit dari Tempo di kantornya.

Saat wawancara, Vasyl Hamianin mengaku baru beristirahat menjelang azan subuh. Paginya, ia hanya sempat sarapan jus alpukat kesukaannya dan dua buah pisang. Dia tak sempat makan siang karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Karena kesibukan itu, jadwal wawancara pun mundur hampir 1,5 jam. Namun ia tetap menjawab banyak pertanyaan tentang politik, perkembangan terakhir di Ukraina, keluarga, dan hal-hal yang menarik perhatiannya.

Berikut ini petikan wawancaranya.

Apa yang terjadi dengan PLTN Zaporizhzhia?

Pihak berwenang setempat melaporkan bahwa pasukan Rusia merebut stasiun nuklir Ukraina. Ada sesuatu yang menghantam bagian dari stasiun. Pasukan Rusia menyerang PLTN, salah satunya bekas PLTN Chernobyl. Sekarang tingkat radiasinya terdeteksi jauh lebih tinggi karena tanah di sana dihancurkan tank. Kedua, PLTN terbesar di Eropa, di bagian tenggara Ukraina, dekat Kota Zaporizhzhia, terbakar.

Bagaimana kemungkinan dampaknya?

Jadi, jika bom besar atau sesuatu meledak di dekat stasiun, dampaknya akan lebih buruk daripada tragedi Chernobyl. Ini tidak hanya mempengaruhi Rusia dan Belarus, tapi juga Turki, Georgia, dan Eropa. Asia juga akan mengalami kehancuran besar dengan kontaminasi radiasi nuklir. Jadi kita harus menghentikan perang ini. Ini bukan untuk kami sendiri, melainkan untuk dunia, demi kebaikan yang lebih besar.

Bagaimana kondisi keluarga Anda di sana? Ada rencana evakuasi?

Secara teoretis, saya dapat mengevakuasi mereka, seperti anak-anak dan istri. Tapi sekarang semuanya sudah hancur. Tidak ada penerbangan untuk pergi ke suatu tempat, ke Eropa, membeli tiket dan pergi jauh. Ibu saya, ibu mertua, dan nenek—ada tiga orang tua—tidak siap untuk bepergian karena mereka punya tekanan darah. Apalagi kami memiliki 10 kucing dan tiga anjing. Ibu saya juga memiliki kura-kura yang saya bawa dari Cina. Harus ada yang menjaganya.

Jadi keluarga Anda bertahan untuk tidak keluar dari Ukraina?

Ini keputusan istri saya. Jika kami mau, mungkin anak-anak bisa dikirim ke sini (Indonesia). Tapi putri sulung saya siap untuk berpartisipasi di militer sebagai perawat karena dia mahasiswa kedokteran. Ini tahun keempat studinya. Usianya 21 tahun. Jadi saya minta dia berkontribusi sebagai perawat di sana.  

Bagaimana Anda berkomunikasi dengan mereka?

Masih bisa. Jaringan telepon memang secara signifikan terganggu, tapi Internet masih bisa. Kami berkomunikasi melalui aplikasi WeChat.

Soal listrik?

Listrik ini mulai dibatasi, akan padam setelah gelap (malam).  

Bagaimana dengan logistik?

Logistik ini masalah besar. Kami mempunyai banyak akses, tapi diserang dari mana-mana. Lewat jalan tol sangat berisiko. Ada masalah. Jadi gudang penuh dengan produk, tapi tidak dapat didistribusikan, termasuk obat-obatan dan makanan.  

Di Indonesia, ada berapa banyak warga Ukraina?

Tidak diketahui. Mereka tidak melapor ke konsulat. Tidak sepatuh warga Indonesia di Ukraina. Tapi, dari Kitas, jumlah visa sekitar 400. Banyak yang tinggal di Bali. Ada beberapa di Jakarta dan Bandung.

Bagaimana dengan mereka yang ingin pulang?

Saat ini agak sulit. Tidak ada penerbangan ke Ukraina. Kalaupun mau pulang, bisa melalui negara-negara Eropa yang lain dulu, baru perjalanan darat ke Ukraina. Tapi sangat berisiko.

Apa kebijakan selanjutnya untuk warga Ukraina di Indonesia?

Mungkin terkait dengan perpanjangan visa atau Kitas, kami sudah sampaikan untuk mengatur bersama dan berdiskusi dengan Kementerian Luar Negeri.

Apa harapan Anda untuk Indonesia?

Seperti yang saya katakan, setiap suara itu berarti. Tapi saya belum sempat menyelesaikan surat ke Presiden (Joko Widodo). Mungkin ini akan jadi surat terbuka dan tidak akan dikirim ke kantor Presiden. Itu surat imbauan kepada rakyat Indonesia karena pejabat pemerintah merupakan warga negara. Jadi ini ditujukan untuk seluruh rakyat Indonesia. Semua orang yang mendukung, apa pun bentuk dukungannya.

Dukungan dalam bentuk apa yang Anda harapkan?

Kami membutuhkan bantuan kemanusiaan. Banyak negara sudah mengirim bantuan, seperti alat medis, selimut, dan tenda. Saya tidak tahu apakah ada perangkat listrik untuk pemanas, seperti untuk membuat makanan. Apa pun itu, baik. Dan tidak kalah penting yang saya harapkan adalah solidaritas. Solidaritas yang nyata dari masyarakat Indonesia.

Apa program Anda selanjutnya?

Saya ingin memperkenalkan Ukraina kepada masyarakat Indonesia dan sebaliknya. Ingin menyuarakan soal Ukraina dan Indonesia. Dengan produk-produknya juga.

Apa hal menarik selama empat bulan Anda bertugas di Indonesia?

Banyak, ya. Setiap hari saya menemui hal-hal menarik. Misalnya, dari bahasa Indonesia, saya masih agak kesulitan. Kadang-kadang satu kata ucapan sama tapi beda artinya, seperti kata “oleh” dan “oleh-oleh” atau sering terbalik kata “kepala” dan “kelapa”. Juga bahasa lokal. Saya tahu ada bahasa Jawa, Sunda, dan lainnya. Pekerja rumah tangga saya juga orang Sunda, warga Depok. Ketika bicara di telepon dengan keluarganya, dia memakai bahasa Sunda. Biasanya pekerja rumah tangga dipanggil “mbak”, tapi dia tidak mau dipanggil “mbak”, melainkan tah… eh “teteh”… he-he-he. Ini bikin bingung juga, he-he-he.

Apa makanan Indonesia yang Anda sukai?

Segala soto dan sup buntut itu istimewa. Nasi goreng dan mi goreng juga. Saya suka tahu, tapi tidak suka sesuatu yang bersantan. Saya juga suka jus alpukat dan kelapa muda. Saya lama di Cina, sekitar 10 tahun. Saya menyukai makanan pedas, tapi saya tidak menemukan di sini. Pernah saya minta masakan pedas, tapi kurang pedas. Jadi saya ambil cabai kecil dimakan begitu saja. Untuk masakan daging, saya tidak suka yang manis, sebaiknya pakai saus kedelai biasa saja.

Apa saja rutinitas Anda sebelum memulai pekerjaan?

Pagi biasanya saya minum jamu. Saya terpesona akan rasanya yang eksotis. Saya tahu dari teman, pas saya cicipi, wow, ini unik rasanya. Akhirnya saya pesan, diantar ojek online untuk konsumsi harian. Setelah jamu, saya minum jus alpukat, favorit saya sejak tinggal di Indonesia. Baca laporan, lalu ngopi hitam manis sambil merokok. Setelah itu baru ke kantor, ya, seperti biasa. Tapi sepekan ini banyak berubah, tidak bisa santai.

Aktivitas lain saat senggang?

Sebelum ini biasanya dua kali seminggu saya latihan golf, lalu dansa tango Argentina juga di Jakarta dan Bali. Belajar bahasa Indonesia juga.
Anda suka wayang?

Ya, ada banyak, wayang kulit, wayang orang, wayang golek. Saya juga suka mitologi dan ingin tahu, tapi saya belum punya waktu untuk mempelajarinya.

Bagaimana Anda menemukan informasi tentang Prabu Joyoboyo dan Ronggowarsita?  

Oh, itu sulit sekali, pemahamannya juga. Ini dari mitologi, ramalan, dan realitas yang kini sedang terjadi. Saya baru tahu setelah saya di Indonesia. Mungkin yang diramalkan ini sangat terkait dengan kejadian saat ini. Ya, termasuk Satrio Piningit juga.

Oh ya, ada tapal kuda di atas peta Indonesia tadi, memang sengaja diletakkan?

Ya, itu saya ambil dari Gili Trawangan. Ada mitos dari Ukraina bahwa tapal kuda ini untuk simbol keberuntungan.

Anda berteman baik dengan Fadli Zon?

Saya bertemu dia pertama kali di Ukraina setahun lalu. Kami minum beberapa kali. Jadi kami pergi ke sana dan menjadi berteman baik, bahkan sebelum saya tahu saya mungkin menjadi duta besar di sini.

Dengan Menteri Pertahanan Prabowo juga?

Oh, tidak. Belum bertemu dengan Menteri Prabowo. Sudah direncanakan, tapi kemudian saya kena Omicron. Akhirnya pertemuan ditunda. Itulah mengapa saya benci Covid, karena saya merasa tidak enak dan mempengaruhi pekerjaan saya. Tapi saya baik-baik saja.  

(Sumber: Koran TEMPO 06/03/2022)