Tiba-tiba Minyak Goreng Melimpah di Supermarket, Padahal Ibu-ibu Sudah Dituduh Menimbun di Rumah, Hello? Penuduh Sudah Minta Maaf?

Kalo minyak goreng kemasan tiba-tiba banyak di pasaran, berarti:

(1) Tuduhan terhadap ibu-ibu menimbun minyak goreng sama sekali tidak benar. Penuduh perlu minta maaf, atau klarifikasi terhadap pernyataannya itu. 

(2) Menjelaskan kepada masyarakat kenapa minyak goreng kemarin ilang tapi sekarang ko tiba-tiba banyak lagi seolah ga terjadi apa-apa ketika ibu-ibu mati-matian antri. 

Kita perlu tahu agar kita tidak berspekulasi macem-macem, seperti menyangka bahwa pemerintah tidak sanggup melawan pengusaha. Kita engga ingin berprasangka tapi jika kita engga mendapat penjelasan apapun, maka ide liar pun (wajar) bermunculan. 

(3) Harga naik ini disebabkan karena Surat Edaran No 9 Tahun 2022 tentang Relaksasi Penerapan Harga Minyak Goreng Sawit Minyak Goreng Kemasan Sederhana dan Kemasan Premium. Relaksasi itu apaan ya? biasanya relaksasi itu bikin badan yang asalnya tegang jadi rileks, pikiran yang kalut jadi tenang. 

Tapi relaksasi harga justru bikin keadaan sebaliknya. Bikin tegang dan puyeng rakyat. Maksud relaksasi ini adalah penerapan harga di pasaran diberi kelonggaran, engga usah ikut aturan HET (Harga Eceren Tertinggi), kagak usah lagi ikut harga eceran tertinggi. Ikut saja harga pasar. 

Kebijakan dari Surat Edaran ini sebenarnya menunggu Peraturan Menteri yang akan mencabut peraturan tentang penetapan harga eceran tertinggi minyak goreng sawit. Jadi sebelum jadi Peraturan Menteri yang lebih kuat dasarnya, surat edaran ini sudah cukup buat pengusaha buat melepas minyak sampe bisa memenuhi pasar lagi dengan harga baru. 

Pengusaha (entah produsen, distributor, atau retailer) ngadodoho ceuk urang sunda mah. Disimpen, dikeukeupin itu migor, nunggu pemerintah 'kalah' dan mau menyesuaikan dengan harga pasar dan cabut aturan harga eceran tertinggi. Pas momen itu muncul, dilepas lagi deh itu barang ke rak-rak swalayan. 

Sayangnya, padahal ini kebutuhan pokok rakyat. Tapi harga kebutuhan yang satu ini tidak lagi dilindungi. Godaan ekspor lebih menggoda ditambah tidak ada ketegasan untuk memaksa pengusaha agar mengutamakan kebutuhan rakyat dahulu. 

Hutan kita yang ancur-ancuraan, hutan tropis yang dulu dibangga-banggakan di buku pelajaran, plasma nutfah yang raib, keanekaragaman hayati yang dibabat demi produk monokultur sawit, ribuan mamalia seperti orang utan terbunuh dan terusir, jutan jenis serangga terbakar, flora dan fauna eksotis yang mungkin belum pernah kita lihat, belum diidentifikasi oleh ilmuwan, semua menghilang demi kebun sawit. Sesudah kebun sawit itu terhampar jutaan hektar, rakyat pun ternyata masih harus membelinya dengan harga tinggi.  

Allahu musta'an.

(Arief Husein)