Si Buzzer Eko Kuntadhi Kembali Bikin Fitnah, Kali Ini Fadli Zon Difitnah Mendanai Teroris

[PORTAL-ISLAM.ID]  Setelah kejadian dibunuhnya dr. Sunardi yang ditembak mati Densus 88, para buzzer kini menebar fitnah.

Anggota DPR RI dari Partai Gerindra Fadli Zon difitnah oleh si Buzzer Eko Kuntadhi dikatakan mendanai gerakan teroris.

"Menurut infromasi, Hilal Ahmar dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh PBB pada Maret 2015. Sementara Fadli Zon menyumbang Hilal Ahmar pada Mei 2015. Sebagai Wakil Ketua DPR, gak mungkin Fadli gak tahu informasi itu. Jadi, Fadli memang sengaja mendanai gerakan teroris," kata Eko Kuntadhi di akun twitternya.

Dalam twitnya Eko Kuntadhi menyertakan foto lama Fadli Zon tahun 2015 saat menerima delegasi di DPR sebagai Wakil Ketua DPR saat itu.

Kicauan Eko Kuntadhi ini kemudian menyebar di berita-berita media online.

Fadli Zon melalui akun twitternya (16/3/2022) mengklarifikasi fitnah tersebut. Berikut twit lengkap Fadli Zon:

KLARIFIKASI TERHADAP FITNAH YANG MENGAITKAN KERJA DPR RI DENGAN ISU TERORISME.

Saya mengikuti beberapa berita, yg dimulai dari cuitan seorang buzzer, yg isinya mengaitkan seolah-olah saya punya kaitan dgn seorang terduga teroris yg baru saja ditangkap Densus 88, hanya krn sebuah foto lama tahun 2015. Atas fitnah tsb, sy ingin memberi klarifikasi sbg berikut.

(1) Sebagai Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Korpolkam, 2014-2019), setiap hari saya menerima berbagai delegasi bahkan hingga puluhan orang.

Delegasi masyarakat yang saya terima mewakili berbagai spektrum golongan dan kepentingan, baik untuk keperluan audiensi, penerimaan pengaduan, maupun courtesy call.

Sebagai wakil rakyat, saya selalu bersikap terbuka terhadap seluruh anggota masyarakat, apapun suku, ras, agama, serta afiliasi politiknya. Itu adalah bagian dari tugas representasi saya sebagai anggota DPR RI.

(2) Pada 28 Mei 2015, saya bersama Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra), @Fahrihamzah menerima permintaan delegasi kemanusiaan dari Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) yang dipimpin oleh Ustadz Bachtiar Nasir (UBN).

Mereka menyampaikan perkembangan situasi pengungsi Suriah di perbatasan Turki yang membutuhkan bantuan dari masyarakat Indonesia. Mereka menggalang dana untuk rumah sakit darurat, makanan, serta pakaian bagi pengungsi korban perang.

(3) Karena dana dikumpulkan dari masyarakat Indonesia, mereka kemudian meminta saya dan Saudara @Fahrihamzah sbg representasi pimpinan wakil rakyat untuk secara simbolik menyerahkan bantuan kemanusiaan tsb pada FIPS. Penyerahan bantuan simbolik ini diabadikan oleh para wartawan yg hadir.

(4) Setiap kegiatan sy sbg anggota dan pimpinan parlemen, selalu didokumentasikan sebagai bentuk keterbukaan sekaligus pertanggungjawaban publik.

Selama saya menjabat Wakil Ketua DPR RI Bidang Korpolkam, kegiatan-kegiatan itu sy dokumentasikan dalam buku "Berpihak Pada Rakyat” yg terdiri dari lima jilid. Pertemuan dengan anggota delegasi FIPS tadi dicatat dan didokumentasikan pada buku jilid pertama halaman 285.

(5) Sebagai catatan, semua dana yang tertera dalam simbol (USD 20,000) adalah dana yang dikumpulkan oleh FIPS dari masyarakat Indonesia, bukan sumbangan pribadi saya atau Saudara Fahri Hamzah.

(6) Saya dan Saudara Fahri Hamzah kenal dengan tiga anggota delegasi FIPS, yaitu Ustadz Bachtiar Nasir, Mustofa Nahra, serta pengacara Achmad Michdan. Namun, empat orang lainnya saya tidak kenal.

(7) Sebelum bertamu ke DPR, pada tanggal 21 Mei 2015 FIPS juga telah bertamu ke Kementerian Luar Negeri yang diterima oleh Wakil Menteri Luar Negeri.

Kementerian Luar Negeri menyambut baik kegiatan FIPS dan mengakui bahwa pemerintah Indonesia memiliki pemikiran serta visi yang sama dengan FIPS terkait bantuan kemanusiaan bagi rakyat Suriah yang saat itu sangat membutuhkan pertolongan kemanusiaan.

(8) Penerimaan terhadap delegasi FIPS adalah bentuk dukungan terhadap aksi kemanusiaan. Ketika masyarakat Indonesia menyumbang rumah sakit di Gaza, sbg Wakil Ketua @DPR_RI saya juga diminta untuk menyerahkan bantuan tersebut secara simbolik.

(9) Upaya untuk mengait-ngaitkan dgn terduga teroris adalah fitnah belaka. Secara politik, saya menganggap ini adalah fitnah yg kotor, sama seperti kalau ada orang yg mencoba mengaitkan Presiden @jokowi dgn terorisme hanya karena pernah menerima terduga teroris Farid Okbah di Istana.

Sbg informasi, pada 29 Juni 2020 Farid Okbah pernah diterima Presiden Joko Widodo di Istana. Pada tanggal 16 November 2021, Farid Okbah ditangkap oleh Densus 88 sebagai terduga teroris. Apakah dua peristiwa yang berlainan itu bisa dikait-kaitkan?

(10) Penjelasan ini saya buat untuk menepis fitnah sejumlah orang yg secara insinuatif berusaha memutarbalikan dukungan saya terhadap aksi kemanusiaan seolah adalah bentuk dukungan terhadap terorisme. Itu fitnah yang sangat kotor dan keji sekali.