Lempar Nafsu Sembunyi Malu

Lempar Nafsu Sembunyi Malu

Oleh: Erizal

Kalau benar dirigen skenario penundaan Pemilu atau lanjut tiga periode berasal dari lingkaran dalam istana, maka tak tahu lagi apa yang akan disebut. Sudah gelap matakah? Sudah merasa kuat dan paling berkuasakah? Rakyat kecil yang makin sulit ini dianggap apa?

Anehnya, menteri dan ketua umum partai yang melontarkan ide ini seperti tak tahu mahu saja. Tak ada merasa berat, apalagi merasa bersalah saat melontarkan ide ini. Terus, dia pula yang seolah berjasa membongkar siapa di balik ide "heroik" ini. Mau-maunya dia ditekan, diancam.

Partai komorbid, istilah Rocky Gerung. Partai rawat jalan KPK, istilah Hersubeno Arief. Entah istilah apa lagi yang tepat untuk menjelaskan? Belum lama jadwal Pemilu sudah ditetapkan antara Pemerintah, DPR, termasuk KPU. Malah, KPU telah merayakan hari Pemilu itu. Apa lagi?

Seperti nantangin rakyat susah, ayo siapa yang berani menentang, melawan? Toh, selama ini maunya pihak-pihak tertentu itu seperti tak terbendung alias berlaku. Siapa tahu berlanjut pada hal yang paling mendasar, yakni berkuasa terus mumpung masih berada di pucuk kuasa.

Apa salahnya ide itu? Ini negara demokrasi? Itu urusan partai-partai. Jika partai-partai maunya begitu, apa boleh buat? Apa tak boleh? Apa salah? Toh hasil survei sudah dirilis, tingkat kepuasan terhadap Pemerintah, begitu tinggi. Ini cara lain buat lempar nafsu sembunyi malu.

(*)