Katanya jangan ke arab-arab an, giliran toa mau niru Arab 😁

Jangan tiru cara cara orang arab.
Penceramah diatur, namun digaji.
Imam, muazzin masjid diatur atur, namun digaji.
Volume pengeras suara diatur namun pengurus masjidnya digaji.
Sekolah islam diatur, namun semua guru, karyawan bahkan siswanya dibayari.

Jangan ditiru yang kayak gitu, karena itu budaya arab, wis ojo kearab araban lah…. Kita tuh punya kearifan lokal.

Masjid bangun dewe, diurus dewe, imam dan muazzine yo golek panguripan dewe, sing koyo ngene iki luwih mandiri (yang kayak gini lebih mandiri) dan sesuai dengan budaya negri senditi.

Kalau anda ketagihan niru arab, tiru saja Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang kearabannya asli dan murni… belum dicampuri oleh hal hal lain.

(Dr Muhammad Arifin Badri)