CLOUD ENGINEER dan PERSOALAN DI BALIKNYA

CLOUD ENGINEER dan PERSOALAN DI BALIKNYA

Oleh: Andika Saputra

Pawang hujan yang menyebut dirinya sebagai cloud engineer pada perhelatan MotoGP di Mandalika, menyimpan persoalan filsafat dan sosiologi pengetahuan. 

Pertama, dimulai dari istilah cloud engineer untuk menyebut profesi pawang hujan menunjukkan kondisi mental inferior. Pengetahuan tradisional yang dipraktikkannya dikemas dengan istilah engineering yang merupakan rumpun ilmu terapan di bidang hard technology dalam kategorisasi ilmu pengetahuan modern.

Kedua, penggunaan istilah engineer tidak serta merta menunjukkan keilmiahan profesi pawang hujan dan praktik yang dilakukan. Rumpun ilmu teknik bekerja di bawah paradigma Positivisme dikarenakan tuntutan terhadap kepastian melalui pendekatan kuantitatif untuk dilakukan rekayasa dalam penciptaan teknologi. Berbeda dengan pawang hujan sebagai praktik pengetahuan tradisional yang lebih tepat digolongkan sebagai magi menyisakan ruang ketidakpastian yang sangat lebar.

Antropologi agama dalam perspektif modern membedakan konsep keyakinan antara magi dan agama, walaupun keduanya berangkat dari pengakuan terhadap adanya kekuatan adi kodrati yang melampaui dan berada di luar diri manusia. Perbedaannya, agama berorientasi pada penghambaan manusia terhadap kekuatan adi kodrati yang diyakini, sedangkan magi berorientasi pada pemanfaatan kekuatan adi kodrati untuk memenuhi kepentingan manusia.

Begitulah pawang hujan yang merupakan bagian dari praktik magi mengharuskan dipenuhinya syarat dan perlengkapan tertentu dengan maksud sebagai suguhan kepada kekuatan adi kodrati agar memenuhi segala hajat yang diminta. Jika belum terpenuhi, maka syarat ditambah dan begitu juga dengan perlengkapan yang digunakan dalam melangsungkan praktik magi. Dengan kata lain, magi menggantungkan terpenuhinya permintaan berdasarkan penerimaan kekuataan adi kodrati terhadap suguhan yang disajikan peminta, sehingga hasil dari praktik yang dilakukan tidak dapat diprediksi secara probabilitas apalagi secara pasti sebagaimana ilmu terapan teknologi (engineering).

Memang alam budaya Posmodern membuka ruang terhadap berbagai jenis ilmu pengetahuan dengan menganut relativisme epistemologi. Di alam budaya inilah praktik pawang hujan dianggap setara dengan rekayasa cuaca berdasar ilmu pengetahuan modern yang bekerja di bawah paradigma Positivisme. Seorang pawang hujan yang sedang melakukan praktik magi sambil mengenakan helm proyek di tengah deru suara mesin motor prototype menunjukkan dengan jelas wajah budaya Posmodern.

Tentu saja Posmodern sebagai sistem filsafat dan kebudayaan menyisakan masalah yang tidak kecil. Tepat di sinilah praktik pawang hujan menyimpan masalah saat berhadapan dengan kepastian metodologi dan fungsi prediktif ilmu pengetahuan modern. 

Lebih bermasalah lagi ialah manusia yang meyakini benar jenis pengetahuan yang tak dapat diandalkan, dan membayar mahal untuk ketidakpastian. Lucu memang!

(fb)