Tere Liye: BPJS Kesehatan Unfaedah?

BPJS Kesehatan Unfaedah?

Itu tidak benar jika ada yang bilang BPJS kesehatan itu tidak bermanfaat. Adalah fakta, jutaan penduduk Indonesia yang tidak mampu, terbantu oleh program ini.

Nah, biar lebih mudah memahaminya, mari kita bongkar data dan faktanya. Kita gunakan semua data valid tahun 2020. Ayo, mari bicara dg angka dan data. Wah, kalian kalau mau gabung di dunia tulisan Tere Liye, mulailah biasakan ngomong dg data.

Per Desember 2020, jumlah anggota BPJS Kesehatan adalah 222 juta orang, alias 82% dari penduduk Indonesia. Banyak loh. Terdiri dari 3 jenis anggota. 

Yang pertama, PBI alias penerima bantuan iuran. Artinya, mereka tidak perlu iuran lagi, semua ditanggung pemerintah, totalnya adalah 133 juta. Yang kedua adalah PPU alias pekerja penerima upah, totalnya 55 juta, mereka bayar iuran dengan dipotong dari gaji. Dan yang terakhir, Mandiri, yang bukan PBI, pun bukan PPU, totalnya 34 juta. Mereka bayar sendiri iurannya.

Nah, dari total 222 juta ini, berapa premi iuran yg diterima BPJS Kesehatan selama tahun 2020? Yaitu sebesar 135 trilyun. Tentu, karena nyaris 60% adalah PBI, maka pemerintah menanggung sebagian premi total tsb. Pemerintah pusat sekitar 40-50 trilyun, pemerintah daerah masing2 saya tdk tahu persisnya, bisa minta ke BPJS Kesehatan kalau mau tahu datanya. 

Tapi intinya, dari total 135 trilyun pendapatan dari iuran tsb, tahun 2020, BPJS Kesehatan membayar klaim alias biaya berobat 117 trilyun. Dus, lembaga ini surplus 18 trilyunan. Itu pencapaian yg baik, karena tahun-tahun sebelumnya selalu defisit. 

Nah, apakah BPJS Kesehatan bermanfaat?

Jelas.

1. Untuk PBI, yg jumlahnya 133 juta itu, mereka sangat terbantu. Keluarga miskin, petani, nelayan, pekerja serabutan, satpam komplek, dll, dsbgnya, saat mereka atau keluarga mereka sakit, mereka bisa cek, apakah nama mereka masuk PBI atau tidak. Jika masuk, dia dan keluarganya bisa berobat gratis. Jika tidak masuk, ayo segera diurus, karena itu hak kamu.

2. Adalah hak seluruh WNI mendapatkan layanan kesehatan. Mau dia Presiden, mau dia buruh tani, mau dia orang Papua, mau dia orang Aceh, Jawa, dll, semua berhak loh. Karena itulah tugas negara. 

3. BPJS Kesehatan ini juga tentu bermanfaat bagi PPU (peserta yg gajinya dipotong), meski dipaksa dipotong sih, yang mau memanfaatkan akses dan fasilitas kesehatan yang diberikan, itu bisa bermanfaat. Berobat mahal jadi murah, termasuk penyakit2 berat yg membutuhkan biaya mahal. Iuran yg mereka bayar, jauh lebih kecil dibanding biaya pengobatan tsb. Menurut data BPJS, PBI dan PPU ini nyaris tdk masalah. Jumlah setoran dan klaim selalu surplus.

4. Nah, sekarang kita masuk ke bagian yg menarik. Yaitu peserta Mandiri. Well, adalah rahasia umum, ada dari peserta Mandiri ini baru daftar saat kena penyakit. Dan berhenti iuran setelah sembuh. Apakah itu salah? Sebenarnya tidak juga sih. Apa sih sebenarnya konsep BPJS Kesehatan ini?

5. Jika konsepnya adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sifatnya wajib, biar semua dapat fasilitas kesehatan, maka well, mending semua rakyat iurannya dibayar saja sama negara. Tidak usah lagi potong2 gaji, apalagi memaksa orang2 ikut dan bayar.

Butuh berapa sih anggaran totalnya? 120-130 trilyun per tahun. Selesai. Semua WNI dapat kartunya, otomatis terdaftar. Dan kita berhenti berdebat soal BPJS Kesehatan. 

Masalahnya, negara tidak mau. Mereka hanya mau menanggung kurang lebih separuh saja, 50-60 trilyun. Padahal duh, nambah lagi 60 trilyun itu kecil. Coba lihat, anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung saja berapa? Membengkak jadi berapa? Anggaran IKN berapa? Anggaran BPJS Kesehatan itu kecil dibanding manfaatnya.

Maka, saat pemerintah lebih nafsu bangun sana, bangun sini, mulailah mereka menggunakan jurus, 'peras' saja rakyatnya. Ayolah, Kawan, rakyat itu banyak yg sudah bayar pajak puluhan juta per tahun, dan kamu paksa juga dia jadi anggota BPJS Kesehatan?

Kalau mau simpel, semua iuran ditanggung negara. Selesai. Kita jadi negara 'sosialis' yang keren deh. Dan memang itulah amanat Pancasila. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sekali lagi, berapa anggarannya? Hanya 120-130 trilyun per tahun. Mungkin 2022 naik lagi, dstnya, tapi tdk akan lompat tinggi. Itu bahkan tidak sampai 20% APBN.

Apa sih hal paling penting bagi pembangunan sebuah negara? Hanya dua saja. Pendidikan dan kesehatan. Fokus habis-habisan di dua ini, itu negara bisa maju di masa depan. Didik generasi berikutnya, jamin kesehatan mereka. 

Tapi baiklah, kamu lebih suka ngurusin balap. Yang satu sibuk balap ini, yang satu sibuk balap itu. Lantas dua-dua pendukungnya sibuk bertengkar seolah paling benar. 

Sementara itu, antrian minyak goreng terus terjadi, harga2 menanjak naik, dan besok2, kartu BPJS Kesehatan jadi wajib, karena pemerintah siap memaksa puluhan juta WNI lain menyetor iuran.

(By Tere Liye)

Baca juga :