Prof. Moeflich: Shalat berjama'ah sudah kembali ke madzhab Nabi setelah 2 tahunan terganggu oleh madzhab WHO

Oleh: Prof. Moeflich Hasbullah (Dosen UIN Bandung)

Dua kesan menempel Jum'atan tadi di Masjid Kampus UIN Bandung.

Pertama, penggalan khutbah tentang Abu Bakar yang digelari Ash-Shiddiq.

"Ya Aba Bakr, itu ada orang yang mengaku nabi, mengatakan dia pergi dari Masjid Haram ke Masjid Al-Aqsha di malam hari, dari Mekkah ke Palestina, lalu katanya naik ke langit bahkan ke langit ketujuh, dan pagi-paginya dia sudah ada disini lagi bersama kita. Percayakah engkau ya Aba Bakar atas kegilaan itu?" Tanya orang-orang kafir Quraiys.

Abu Bakar menjawab: "Oooh .... lebih dari itu pun, kalau yang mengatakannya adalah Muhammad, aku percaya!"

Batin bergetar mendengar ketegasan Abu Bakar itu. Energinya terasa masuk ke dalam dada.

"Karena melihat kebersihan hati dan kejujuran Abu Bakar saat itu, beberapa orang masuk Islam karena ucapannya itu," lanjut sang khatib.

Itulah iman. Dari dulu sampai sekarang, keimanan itu tak "rasional" dan jangan pakai otak untuk memahaminya.

Kedua, soal shaf shalat. Sebelum shalat, khatibnya tegas meminta jama'ah meluruskan dan merapatkan shafnya: "Ini masih kosong, maju ke depan. Itu kurang rapat, tolong rapatkan. Rasulullah tidak memulai takbir sebelum jama'ah meluruskan dan merapatkan shafnya."

Saya bersyukur dan bahagia melihat shaf semua rapat. Shalat berjama'ah sudah kembali ke madzhab Nabi setelah 2 tahunan terganggu oleh madzhab WHO.

(Sumber: fb penulis, Jumat 04-02-2022 )