OPERA PARA DURJANA

OPERA PARA DURJANA

Prolog:
Gerombolan pembenci Islam itu, sepandai apapun mereka membangun alibi.
Serapih apapun mereka menutupi kedengkian terhadap Islam, tetap saja akan terbongkar dengan nalar.
Mereka keukeuh seolah olah anti arab atau kearab araban.
Mengkritisi janggut, gamis, hijab,niqab, atau apapun itu...
Yang mereka tuduhkan sebagai 'Budaya Arab'.

Namun,
Lihat Ustadz Felix Siauw...
Jelas jelas wajahnya dan etnisnya china, kepala plontos mirip monk, gk berjanggut, pake batik seringnya, gk bercelana cingkrang...
Logat bicaranya jawa.
Jauh dari kesan arab. Bahkan namanya saja tetap Felix Siauw !

Tetap saja dibenci !
Tetap saja dibully !
Tetap saja kajian-nya dihalang halangi...
Isunya??
Ya tinggal dicari cari...

Jadi jelas yaa....
Yang dibenci itu bukan kearab araban.
Yang mereka benci dan takukan itu adalah Islam dan ajaranya, Umat Islam yg bersatu, melek dan kuat.

Toh duit pinjaman dari Arabmah mereka rebutannn...

Makanya,
Munculah para pemeran ustadz ustadz atau Ulama Ulama yg selalu bersebrangan dan menghembuskan pertentangan dan mendeskriditkan Ajaran Islam itu sendiri.

Ada yang benar benar Gus... ada yang sekedar nyari Dus... (mengais makanan dari sampah peradaban).

.....

Sekarang,
Kita akan mencoba masuk ke dalam topik yang sedang hangat dibicarakan.
Soal Wayang...

First of all,
Ceramah UKB ini, terjadi 5 tahunan yang lalu.
Logikanya, kenapa baru dipermasalahkan sekarang??
Kenapa tidak sehari setelah?
Atau seminggu?
Sebulan ?
Koq setelah lima tahun baru rame??

Jelas,
Ada sesuatu dibalik pemblow up issue ini, agar gempar, menjadi topik hangat untuk dibicarakan. Sehingga lupa kalau JHT para buruh mau diembat.
Agar lupa wacana IKN.
Agar gk ingat harga harga sembako meroket.
Agar rakyat tidak ingat ada seorang pendusta yg berjanji mengeluarkan Kartu Sembako Murah.
Dan kenyataanya selalu bohong besar.

Budaya...
Dari asal kata Budi dan Daya.
Merupakan hasil olahan manusia berdasar kemampuanya dimana dan dimasa manusia itu hidup.
Dan dipastikan lambat laun akan tergeser dengan budaya baru.
Termasuk Wayang itu.
(Diluar konteks hukum halal haramnya).

Budaya food gathering dan nomaden dijaman paleolithikum.
Hilang dijaman Neolithikum.
Diganti dengan food producing.
Dan mulai menetap.

Di Indonesia,
Di Jawa Barat (tatar sunda), dulu ada budaya Nyeupah.
Daun sirih, apu, jambe, dikunyah hingga lembut dimulut. Menyisakan warna hitam di gigi. Dulu hampir semua wanita nyeupah.
Sekarang??? Iddihh... siapa yg mau gigi item.
Digantikanlah dengan obat kumur...

Ada juga budaya Nyisig. Mengunyah tembakau, sekarang musnah...

Atau budaya pake baju kebaya yang pake 'bep', sehingga bagian dadanya kelihatan...
Sekarang hilang.
Karena wanita lebih tahu dan mengerti bagaimana menghormati diri sendiri.

Banyak budaya yang hilang karena seleksi alam, kesadaran dan pengetahuan manusia bahkan demi kesehatan.

Yakin saja sebuah budaya akan luntur seiring perputaran zaman. Karena itu buatan manusia.
Beda dengan Agama yg Allah ciptakan untuk manusia.

Demikian juga dengan Wayang.
Saat ini dikota kota besar bahkan di desa sudah semakin jarang ada pertunjukan wayang.
Tergeser oleh product product lain.
Kalah dengan bioskop.
Kalah dengan televisi.
Kalah dengan media lain.

Trus kalian fikir dengan ramenya kasus ini orang akan rame rame 'nanggap' wayang mengikuti pergelaran di PonPes itu??
Nggaklah...

Bahkan orang waras semakin paham, mana Ulama lembut sesungguhnya dan mana yang mengaku Gus padahal hanya nyari Dus...

Saya sampai mengernyitkan dahi, koq sampai sebegitunya keangkara-an mereka.
Melepaskan amarah membabi buta.
Kata kata yang 'tidak berbudaya' dimuntahkan dipagelaran yg mereka sebut berbudaya.

Menyedihkan...
Ketika para durjana menggelar opera yang menjijikan.
Menyuguhkan tontonan untuk memetik kebencian...

Padahal,
Dengan lembut UBK bilang :
Tugas saya adalah sebatas menyampaikan. Selesai sampai disitu. Kalau ada orang yg tidak setuju atau membantah, ya itu urusan mereka. Tidak ada hak untuk memaksa. Itulah bagian dari kehidupan berdemokrasi yang hakiki...

Opera Para Durjana akan terus digelar, tergantung para pemesan. Kapan dan dimana dibutuhkan.
Biasanya Opera digelar untuk menutupi kegagalan demi kegagalan.
Perampokan besar besaran...
Atau untuk mengalihkan perhatian.
Agar rakyat gaduh dan saling menuduh.
Sementara para sutradara opera menikmati gelimang harta dan kekayaan yang mereka sangka bisa dibawa sampai neraka...

(Danke Soe Priatna)