Meredakan Kegelisahaan Pendukung Anies

Meredakan Kegelisahaan Pendukung Anies

Oleh: Yarifai Mappeaty (Pemerhati Sosial Politik)

Para pendukung Anies tidak usah gelisah. Sebab yang namanya perubahan, dapat terjadi dalam hitungan detik. Dan perubahan itu selalu diikuti oleh hal-hal yang tak terduga.

Merujuk pada survey terkini, elektabilitas Anies sudah mencapai 13,8%.  Artinya, jika jumlah sampel survey itu mereprensentasikan jumlah wajib pilih pada pilpres 2024, yang diperkirakan mencapai 200 juta, maka dapat diasumsikan bahwa jumlah pemilih Anies saat ini sudah mencapai 28 juta.

Pencapaian tersebut, tentu tidak lepas dari pada kerja-kerja relawan Anies yang tiba-tiba menjamur di seluruh tanah air. Hebatnya, kelompok-kelompok relawan itu, terbentuk atas kehendak sendiri. Kemunculan mereka pada umumnya, jangankan difasilitasi, mungkin Anies nyaris tidak tahu.

Tetapi kendati kelompok-kelompok relawan itu baru terbentuk, praktis tiga atau empat bulan terkahir, namun elektabilitas Anies sudah sebesar itu. Bayangkan dalam setahun atau dua tahun lagi, dapat dipastikan bahwa Anies sudah tak terbendung.  Saat itu, bagi Anies, sudah tidak ada lagi jalan untuk mundur.

Mengapa bicara mundur? Belakangan ini, ada semacam kegelisahan menyeruak di kalangan pendukung Anies. Mereka khawatir kalau pada akhirnya, Anies tidak jadi “nyapres”, bukan karena parpol pengusung tidak ada, tetapi lebih pada faktor balas budi kepada Prabowo Subianto. Apa hubungannya?

Para pendukung Anies menyadari bahwa Anies tidak akan pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta, jika bukan karena dipromotori oleh Ketua Umum Partai Gerindra itu. Sedangkan mereka tahu kalau Anies bukan tipe orang yang tidak tahu membalas budi.

Setidaknya, Anies telah membuktikan itu. Pada Pilpres 2019 lalu, tak kurang-kurang pemimpin partai mendekatinya, menggodanya untuk “nyapres”. Tetapi Anies dengan tegas menolak. “Saya tidak ingin menjadi bagian dari daftar orang-orang yang mengkhianati promotornya,” tegasnya saat itu.

Sementara Prabowo Subianto, meski sudah termasuk sepuh, 71 tahun, namun masih tetap dielus-elus oleh partainya untuk dicapreskan. Tidak ada yang salah. Apa lagi ia juga masih memiliki daya magnet yang cukup besar. Meski sudah mulai didekati oleh Anies secara perlahan, namun Prabowo masih tetap pemilik elektabilitas tertinggi saat ini.

Soalnya adalah, sekiranya Prabowo benar-benar “nyapres” lagi, apakah komitmen Anies yang tak ingin mengkhianati Prabowo masih tetap berlaku untuk Pilpres 2024? Inilah sumber kerisauan pendukung Anies. Oh, alangkah sia-sianya sebuah perjuangan bila sampai itu terjadi.

Sebenarnya, kerisauan pendukung Anies dapat dipahami. Hanya mereka lupa kalau soal capres adalah urusan bangsa dan negara, bukan soal pribadi antara Anies dan Prabowo. Lagi pula, keduanya tentu juga maklum, bahwa jika sudah menyangkut urusan bangsa dan negara, maka, semua hubungan dalam bentuk apa pun dapat dikesampingkan.

Selain itu, Prabowo juga bukan sosok yang berjiwa kerdil. Sebagai orang yang pernah di Partai Gerindra, tidak sekali dua kali mendengar langsung Prabowo berpidato. Penulis menilai kalau ia adalah sosok negarawan. Dan seorang negarawan tentu selalu mengedepankan kepentingan negara dan bangsa.

Pencalonan Anies oleh Partai Gerindra pada Pilkada DKI 2017, misalnya, adalah bukti tak terbantahkan akan sikap kenegarawanan seorang Prabowo Subianto. Sedangkan bagi Anies sendiri, keputusan Prabowo mencalonkan dirinya, benar-benar tak terduga olehnya.

Bagaimana hal itu sampai terduga oleh Anies? Sedangkan dirinya adalah “lawan politik” Prabowo pada Pilpres 2014 sebagai Jubir Jokowi. Sehingga, jangankan mencalonkan dirinya, disebut namanya saja oleh Prabowo, tak pernah terbetik di benaknya. Sungguh Anies tak pernah menyangka kalau di balik keputusan Prabowo itu, ada hubungan historis melatarinya.

Kakek Anies, AR. Baswedan dan kakek Prabowo, RM. Margono, adalah dua orang sahabat, sama-sama termasuk pendiri republik ini. Di masa-masa awal republik, AR. Baswedan adalah Menteri Muda Penerangan, sedangkan RM. Margono, Ketua Dewan Pertimbangan Agung.

Oleh karena itu, para pendukung Anies tidak usah gelisah. Sebab yang namanya perubahan, dapat terjadi dalam hitungan detik. Dan perubahan itu selalu diikuti oleh hal-hal yang tak terduga.

Kali ini, sekali lagi, bukan mustahil kalau Anies kembali dipromotori oleh Prabowo.

Makassar, 18 Februari 2022

(Kba)