KISAH NYATA... Ujian Seorang Mualaf Muslimah Keturunan Tionghoa, Semoga Ada Yang Bisa Membantu

KISAH NYATA...

Sebut saja namanya Shinta (bukan nama sebenarnya). Seorang mualaf keturunan Tionghoa. Dia memutuskan bersyahadat di tahun 2015. Ayahnya dari etnis tionghoa dan sampai saat ini masih non muslim. Sedangkan ibunya dari suku Jawa. Awalnya ibunya muslim, kemudian setelah menikah berpindah mengikuti agama ayahnya. 

Ketika Shinta bersyahadat di usia 22 th, ibunya terharu. Tak berapa lama kemudian ibunya menyusul ikut bersyahadat. Mereka berdua menjadi seorang muslim di tengah keluarga besarnya yang non muslim. 

Di tahun 2019, Shinta menikah dengan seorang lelaki muslim. Dia berharap bisa menemukan seorang lelaki yang bisa menjadi imamnya, bisa menuntunnya memahami Islam lebih baik lagi.

Tapi takdir berkata lain. Justru suaminya menceraikannya setelah dua tahun pernikahan. Sebuah kenyataan yang harus tegar dihadapinya. Karena kini ada buah hati yang berusia setahun bersamanya.

Dia bercerita bahwa awal mula keretakan rumah tangganya berasal dari ibu mertuanya. Pernikahannya kurang direstui oleh keluarga suaminya. Bahkan sewaktu aqad nikahpun, ibu mertua tidak hadir. 

Sebenernya alasan ibu mertuanya sepele, katanya dia malu memiliki besan non muslim. Sebuah alasan yang sangat menyakitkan bagi Shinta. Alasan yang membuatnya merasa down. Karena memang keluarga besarnya sampai saat ini masih non muslim.

Ketika mendengarkan ceritanya, saya juga merasa pedih. Seharusnya seorang mualaf itu dibesarkan hatinya, diterima dengan setulus hati. Bukan malah dinyinyiri. Tapi justru ibu mertuanya yang menyudutkannya.

Padahal Shinta sudah melepaskan pekerjaannya begitu menikah. Sebuah pekerjaan di grup perusahaan multinasional ditinggalkan begitu saja.  Dia mengikuti suaminya yang saat itu bekerja di Pulau Sulawesi. Berusaha berbakti sepenuh hati.

Tapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Dia justru mendapati kehidupan rumah tangganya tidak berjalan sesuai harapan. Dan berakhir dengan perceraian. Kini Shinta kembali ke Pulau Jawa, mengontrak bersama anaknya yang berusia setahun. Berusaha mencari pekerjaan kembali. Agar bisa melanjutkan kehidupannya yang telah koyak. Dia sedang mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Berharap bisa menghidupi buah hatinya di atas kaki sendiri.

Meskipun Shinta telah dikecewakan oleh seorang lelaki muslim, tapi dia tidak merutuki agama yang dipeluk suaminya. Dia tetap istiqomah, tak ingin kembali ke agama lamanya. Dia faham bahwa ajaran Islam itu sempurna, hanya kelakuan beberapa oknumnya saja yang  menciderainya. Shinta tetap berjilbab rapi. Berharap pertolongan Alloh segera menghampirinya.

*Ditulis oleh Widi Astuti di fb (Jumat, 18-02-2022)

-Yang mau membantu Bu Shinta bisa kontak Widi Astuti di fb-nya