KI LURAH PETRUK

KI LURAH PETRUK

Kalau hanya membangun jalan kampung, semua lurah juga melakukannya. Tidak ada yang istimewa. 

Sesudah menyadari hal itu, mengingat prestasinya yang minim, serta namanya yang juga tak bersinar dalam pergaulan di luar desa, maka agar tetap dikenangkan setelah selesai menjabat, Ki Lurah Petruk pun memerintahkan agar kantor kepala desa dipindahkan ke seberang sungai. 

Dengan begitu, ia berharap nama dan masa jabatannya akan dikenang dan disebut orang.

Masalahnya, pembangunan kantor desa yang baru itu tak mungkin dilakukan. Selain masa jabatan Ki Lurah hampir habis, uang kas desa juga sedang kosong.

Itu sebabnya, guna memastikan pembangunan fisik kantor desa yang baru bisa terlaksana, agar Ki Lurah tidak wirang (tidak malu), maka orang-orang terdekatnya kemudian mewacanakan untuk memperpanjang masa jabatan Ki Lurah.

Para pejabat desa serta anggota Badan Perwakilan Desa tentu senang-senang saja dengan ide perpanjangan tersebut. Sebab, perpanjangan masa jabatan Ki Lurah tentunya akan membuat masa jabatan mereka juga ikut diperpanjang.

Persoalane ming: opo kowe ora wirang paugeran negoromu diwolak-walik sakarepe ming gur go nutupi wirange Ki Lurah?!

*Persoalannya cuma: Apa kamu tidak malu konstitusi negaramu diacak-acak semaunya cuma agar menutupi rasa malunya Ki Lurah?*

(By Tarli Nugroho)