Agar Melesat di Bulan Ramadhan

Agar Melesat di Bulan Ramadhan

Oleh: Ustadz Yani Fahriansyah

Dia yang merutinkan tilawah Alqur’an setiap hari di luar Ramadhan, berapapun lembar/halaman yang ia baca, akan melesat jauh melakukan hal yang sama di Ramadhan dibanding orang yang meninggalkan tilawah Alqur’an di luar Ramadhan. 

Tak lain karena ia sudah terbiasa. Pemanasannya udah matang, ya tinggal melesat jauh. Akan banyak bagian dari Alqur’an yang siap dia habiskan setiap harinya di bulan mulia itu. Ibarat orang yang terbiasa lari setiap hari, maka di hari H ia tinggal memaksimalkan energi dan fokus. Berbeda dengan mereka yang tidak pernah lari, tiba-tiba disuruh lari kencang. Bisa lari ya bisa. tapi napasnya akan ngos-ngosan, tidak maksimal, badannya akan pegel-pegel dan segera berhenti karena tak sanggup lagi.

Hari-hari luar Ramadhan adalah hari-hari persiapan, latihan dan penempaan sehingga ketika Ramadhan tiba -dan Allah panjangkan umur- seorang hamba bisa melesat jauh dalam beribadah sekaligus mendapat kenikmatan yang jauh lebih lezat. 

Sungguh, mestilah diri ditempa perlahan-lahan. Terbiasa terlambat shalat berjama’ah mestilah dirubah. Kini, sebelum adzan udah bersiap-siap. Ini lebih syahdu. Pula bisa menempati shaf pertama, bisa berdoa, dzikir, tilawah Alqur’an sembari menunggu iqamah. 

Hari ini kita berusaha mulai membiasakan lisan untuk berdoa agar di Ramadhan lisan sudah terbiasa mengeja pinta-pinta kepada Allah azza wajalla. 

Hari ini, sesibuk apapun, mestilah mushaf itu dibuka dan dibaca. Tak lain agar kebahagiaan lebih dini terbit di jiwa sehingga di Ramadhan itu tak letih kita menyelami samudera kebahagiaan dan kenikmatan dalam berinteraksi dengan Kalamullah. Tak bisa satu juz, cukup setengah juz. Tak bisa setengah, cukup seperempat juz. Tak bisa seperempat juz, ya cukup empat lembar. Tidak bisa empat, cukup dua lembar. Tak bisa, cukup satu lembar. Tak bisa, cukup satu halaman. Tidak bisa satu halaman, cukup setengah halaman. Tak bisa setengah halaman? Tapi kok bisa bersosmed berjam-jam. Semoga Allah mengampuni segala kelalaian dan kealfaan. 

Istighfar dan taubat pun mestilah diusahakan. Ada banyak dosa pada diri kita. Harapannya saat Ramadhan tiba, hati lebih bening dan sensitif dengan kebaikan. Semoga Allah ampuni segala kesalahan.

Jadikan hari-hari luar Ramadhan sebagai Ramadhan agar ketika Ramadhan tiba, seorang hamba lebih siap, matang, maksimal, berenerjik dan tentunya lebih menuai kebaikan dan kebahagiaan. Wallahu a’lam.

(*)