Secara De Facto Anies Sudah Sosok Capres 2024

[PORTAL-ISLAM.ID]  Oleh: Damai Hari Lubis
Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212

'Lobi - lobi politik Anies Menuju De Jure Perlu Terus Ditingkatkan Melalui Kinerja dengan Hasil yang Lebih Spektakuler'

Kacamata dari sisi leadership Anies Baswedan dan faktor pencapaian kinerja Anies punya nilai plus dan sudah menggema di seantero provinsi yang ada di negara ini, karena selain Jakarta adalah Ibukota Negara sehingga otomatis menjadi pusat perhatian dan acuan masyarakat di daerah, juga nyata keberhasilan Anies pada kurun 2017 - 2021 untuk faktor peningkatan penataan dan pembangunan Ibukota Negara RI. Jakarta jauh lebih berkualitas daripada saat dipimpin oleh Jokowi kala menjadi Gubernur terlebih saat Ahok yang memimpin, selain ketepatan atau pemenuhan janji- janji politiknya yang terdokumentasikan melalui banyaknya prestasi yang dapat digambarkan oleh banyaknya jumlah dari beragam sertifikasi atau berbagai reward yang ia peroleh dari berbagai institusi temasuk lembaga KPK selaku kepala daerah istimewa DKI Jakarta termasuk juga beberapa penghargaan dari dunia internasional (negara asing), sehingga causalitas dirinya terframing oleh publik secara umum sebagai sosok dan pribadi yang cerdas serta santun dan simpatik. Dan terkait kepribadian (Anies) Jokowi pun secara pribadi pernah berstatemen mengakuinya di hadapan publik.

Hasil kinerja dan sosok Anies ini akhirnya menjelma melahirkan antusias publik menghadapi eskalasi menyambut pemilu pilpres 2024 serta "koneksitas" antara gaung suara publik dengan gadang menggadang suara partai yang nampak mulai meliriknya diantaranya Cak Imin (Muhaimin) yang eksplisit menawarkan Anies agar menjadi anggota partai PKB, serta PPP yang sudah terlebih dulu berlaku ramah.

Mengenai peluang Anies ikut berkompetisi dalam Pilpres 2024 di atas kertas pencapaian prediksinya paling tidak separuh lebih bangsa ini dari Sabang sampai Merauke berharap Anies ikut Pilpres di 2024. Maka jika kelak terealisir ada 'perahu politik' pengantar untuknya pada kancah Pilpres di 2024, kalkulasi politik perolehan suara atau estimasi pencapaiannya akan 50% lebih suara hak pemilih Pemilu 2024 dapat dikantongi Anies. 

Adapun prediksi dari estimasi 50% prolehan suara adalah hampir dari seluruh masyarakat atau konstituen PS (Prabowo Subianto). Pada 2019 akan  beralih ke Anies ditambah dengan suara daripada masyarakat pemilih yang sudah merasa dikecewakan oleh Jokowi pada era kepimpinannya saat ini. Kelompok-kelompok atau berbagai komunitas Pro Jokowi itu akan  berimbas kepada para pemilih masyarakat arus  'bawah dan menengah' yang  berpemikiran logis dan moderat yang  dicermati telah banyak dikecewakan oleh partai pendukung wong cilik (PDIP) yang merupakan partai pengusung utama Jokowi dalam dua kali periode pencapresan saat 2014 dan 2019 yang nyatanya dalam perjalanan kepemimpinan Jokowi menuju 2024 terbukti para koruptor terbanyak adalah dari partai berlambang moncong putih tersebut.

Faktor prediksi lainnya yang akan membuat degradasi suara PDIP yang menjadikan naik daunnya Anies adalah fakta disertai data empiris yang dimiliki masyarakat pada semua lapisan, umumnya sosok Jokowi terlalu banyak janji-janji namun banyak  faktanya minus atau bohong karena amat sedikit realisasinya, diantaranya termasuk lapangan pekerjaan yang akan bertambah tidak terealisir, justru  PHK dan pengangguran semakin bertambah dari sejak waktu priode pertama beliau menjabat di tahun 2014-2019, termasuk janji perkonomian RI akan meroket, malah realitas yang dirasakan oleh masyarakat kalangan menengah dan kebawah secara umum justru morat-marit, selain utang semakin menggunung. Nah dampak kegagalan Jokowi inilah yang akan berimbas banyak pendukungnya (dan PDIP) termasuk suara dari lintas partai akan lari mendukung Anies, tidak stag atau tetap konsen ke sosok kandidat yang akan diusung serta didukung partai  moncong putih dan koalisinya kelak.

Persoalan kembali kepada pribadi Anies. Apakah ia akan menerima gaung publik yang berharap bahkan minta dirinya turut serta menjadi capres 2024, lalu jika mau adakah beberapa perahu politik yang akan menjemputnya untuk mencukupi beban presidential threshold 20%.
 
Maka Anies yang cerdas tentu akan atau butuh terus 'rekonsiliasi' yang ekstra keras agar gayung banyak bersambut dari para pendukung lawannya saat Pilgub DKI 2017. Termasuk perkenalkan figur atas ketokohan dirinya sebagai hal lumrah terkait prinsip lobi-lobi atau aproach (rekonsiliasi) dari Anies. Namun tidak salah juga jika dimaknai lobi-lobi dan rekonsiliasi sudah dilakukannya terhadap semua pihak  simpatisan, dan para kader dari multi partai termasuk gerbong sarat isi dari Sosok Lokomotif yang riil sebagai Tokoh Ulama Terbesar  Domestik /Tanah Air yaitu DR. Habib Rizieq Shihab (bahkan sudah dapat dinyatakan sebagai aset muslim dunia). Maka terkait lobi-lobi atau personal aproach dan rekonsiliasi ini dalam makna 'implisit' persembahan sudah dilakukannnya sejak sebelum dan setelah ia menjabat Gubernur DKI secara serius dengan mengacu secara konseptual dan kontekstual atau Teoritis dan metode tersebut serius dipraktekan berkesinambungan dan berkesesuaian dengan  teori manajerial yang mumpuni (kepemimpinan penempatan personal) secara profesional, proposional  dan akuntabel sehingga Anies terbukti sebagai pejabat publik yang berintegritas oleh sebab jatidirinya berkeseriusan dengan asas atau 'prinsip pejabat publik merupakan pelayan masyarakat' dan hasilnya harus berbuah karya yang tidak hanya dapat dilihat, namun dapat dicermati dan dirasakan manfaatnya oleh semua lapisan atau kalangan dari berbagai golongan dan cara lobi-lobi politik dari Anies ini sudah berwujud nyata dengan hasil pencapaian  (Anies )yang spektakuler. Kini kembali kepada public mayority yang dapat menjadi psikologis massa yang dapat menjadi 'otomatis sebagai pengaplikasian pressure moral' dan kunci penting lainnya tidak dapat terelakan yaitu kepada para pimpinan politisi partai hendak mencari atau mendapatkan  sekedar deal-deal politik pragmatis atau kepentingan individual dan kepentingan kelompok saja berikut kursi jabatan serta plus atau menuju realisasi cita-cita kebangsaan yakni menuju sejahtera sosial atau kemakmuran masyarakatnya, adil kepemimpinan dan penegakan hukumnya  sesuai amanah UUD 1945 serta mewujudkan  Negara Indonesia yang disegani oleh dunia internasional?