TIMNAS UDAH JUARA

TIMNAS UDAH JUARA

Timnas Indonesia saat mengikuti turnamen AFF 2020 yang digelar di Singapura itu udah dipandang sebagai team kacangan. Diremehkan dan gak diperhitungkan sama lawan-lawannya. 

Bahkan pemain Laos sendiri menyamakan Timnas kualitasnya sama dengan Kamboja. Pengamat sepakbola dan media olahraga ternama gak memasukkan Indoensia sebagai negara yang lolos Semi Final, karena berada di grup bersama Vietnam dan Malaysia yang lebih difavoritkan juara. 

Semuanya karena hasil kualifikasi piala dunia yang baru saja diikuti oleh Timnas. 

Bergabung bersama Vietnam, Thailand, Malaysia, Timnas tidak pernah memenangkan satupun pertandingan. Bermain di kandang sendiri kalah, bermain di kandang lawan juga kalah. Terakhir bertanding lawan Vietnam hasilnya 4-0 dan seri lawan Thailand 2-2. 

Dengan hasil tersebut, maka kedatangan Timnas ke Singapura dalam mengikuti piala AFF dipandang sebelah mata. Terlebih materi pemain timnas didominasi usia muda.

Timnas menjadi salah satu tim yang menurunkan pemain usia muda selain Kamboja dan Timor Leste. 

Paham dong, gimana perasaan pemain dan pelatih Shin Tae Yong saat direndahkan oleh peserta AFF dan pengamat sepakbola. Indonesia udah tidak diperhitungkan sebagai negara yang kuat sepakbolanya di kawasan ASIA TENGGARA. Ketika negara-negara Asia Tenggara merendahkan timnas, pasti mengertilah bagaimana suasana hati para pemain dan pelatih STY. 

Terlebih STY, sehabis membawa Korea mengikuti Piala Dunia 2018, dirinya menerima tawaran PSSI untuk melatih timnas. Bukan perkara mudah bagi STY menerima tawaran tersebut. Sebuah perjudian dia lakukan dengan kualitas pelatih piala dunia malah mau menerima tawaran sebuah negara yang rangking FIFA ada di urutan nomor 160-an dunia. 

Saat semua mata merendahkan, STY dan pemain timnas tetap melakoni permainan dengan semangat. Step by step mereka jalani hingga semua mata mulai menyaksikan mereka atas hasil-hasil yang dibuat saat lawan Kamboja dan Laos. 

Puncaknya saat mampu menahan imbang Vietnam 0-0. 

Padahal pada awal tahun lalu (kualifikasi piala dunia 2022) Tim Vietnam menggasak Timnas dengan materi pemain kurang lebih sama dengan skor 4-0. Dalam kurun waktu 6 bulan, STY mampu meladeni kembali Vietnam dengan skor 0-0. Artinya ada progres peningkatan permainan timnas selama 6 bulan ini. Publik mulai menaruh perhatian pada timnas. 

Melawan Malaysia adalah pembuktian yang mengundang decak kagum semua orang. Pemain muda timnas sukses acak-acak harimau Malaya dengan skor 4-1 dan keluar sebagai Juara Grup B. 

Alhasil dengan hasil tersebut timnas menjadi naik namanya dan diprediksi sampai ke Final karena bertemu dengan Singapura di semi final. Dari 4 peserta semi final, Singapura dianggap tim yang masih setara dengan Indonesia walau berlaku sebagai tuan rumah. 

Hasil 1-1 dan 4-2 adalah pencapaian luar biasa Timnas di semi final lawan Singapura.

Masuk babak Final ditengah pesimistis dan tudingan pihak lain, itu merupakan tamparan keras bagi mereka yang merendahkan timnas di awal. Gak heran semua pemain, official tim dan pelatih timnas STY bergembira, bernyanyi dan bergoyang di loker room timnas seusai pertandingan mengalahkan Singapura 4-2 dan lolos ke Final. 

Mereka menuntaskan tudingan miring di awal yang meragukan timnas sampai ke babak Final. Mereka memberi bukti dengan perjuangan, bahwa inilah tim yang kalian remehkan. 

Pihak-pihak yang kemarin memandang sebelah mata pada timnas, mulai menyadari bagaimana mautnya tim asuhan STY. Dengan usia rata-rata 22 tahun, STY telah menciptakan raksasa sepakbola Asia Tenggara untuk 5 tahun ke depan. 

Dalam 5 tahun ke depan, apa saja jadwal timnas? Sangat banyak. Misalnya Sea Games yang mensyaratkan usia pemain dibawah 23. Kemudian piala asia U23. Pemain saat ini adalah calon juara Sea Games esok, dimana materinya gak akan berubah. Sedangkan negara lain, pemain U23 mereka masih minim bermain di tim senior. Coba rasakan dahsyatnya timnas STY, saat ada 16 pemain yang saat ini berumur dibawah 23 tahun. 

Bahkan dalam 11 pemain inti yang diturunkan STY dalam setiap pertandingan di piala AFF, hanya menyisakan 2-3 pemain yang usianya diatas 23. 

Bagi saya materi pemain saat ini adalah aset prestasi timnas dalam 5-10 tahun mendatang. Bahkan andai kalah melawan Thailand di Final, juaranya tetap Timnas. Karena mereka telah membuktikan melewati fase yang diragukan oleh banyak orang. 

Final bagi timnas adalah saat menang melawan Singapura. Sedangkan melawan Thailand adalah pertandingan eksebisi yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan riang gembira tanpa beban. Jika menang itu adalah bonus tambahan. Jika kalah, gak masalah. Karena sejatinya timnas telah memenangkan AFF walau tanpa mahkota. 

Kerangka tim telah dibangun, pola kepelatihan telah dibentuk, permainan telah berkembang. Tinggal klub-klub Indonesia bersinergi dengan STY agar menjaga cara kepelatihan pada pemain-pemain klub, khususnya pemain timnas. 

Karena esok, pemain akan lebih lama berada di klub dibandingkan bersama STY. Sangat disayangkan andai apa yang dibentuk STY malah dihancurkan oleh klub dan pelatihnya dengan mengabaikan prinsip kepelatihan yang baik dan benar. 

Bagi saya, timnas udah juara sebelum melawan Thailand. 

(Setiawan Budi)