Kita Dijebak dengan Istilah RADIKALISME

APA yang anda bayangkan ketika saya menyebut kata “Jihad”? ….. Darah? Perang? Bunuh-bunuhan? Perbudakan? Saya yakin, apa yang anda bayangkan bisa lebih “ngeri” dari itu?

Sama ketika saya menyebutkan kata “Hukum Islam”, apa yang anda bayangkan? …. potong tangan? Hukuman mati? Rajam? Cambuk? Dan boleh jadi yang anda bayangkan juga lebih “ngeri” dari itu.

Sebaliknya, ketika saya menyebutkan kata “Demokrasi”, “HAM”, “Pluralisme”, dkk, apa yang anda bayangkan? …. Saya yakin anda tidak akan membayangkan sesuatu yang ‘seram-seram’ sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas.

Jika yang “takut” itu adalah non-muslim, maka mungkin masih dapat dimaklumi. Akan tetapi, jika yang “takut” itu justru orang Islam, nah ini yang aneh!

Pembubaran pengajian ustadz “X” oleh BANSER dengan alasan ustadz “X” terindikasi membawa ajaran “radikalisme”. Apa yang sesungguhnya mereka sebut “radikalisme” itu? Tidak lain adalah syariat Islam itu sendiri seperti Jihad dan Khilafah. Kedua macam syariat ini ditengarai bertentang dengan Idiologi Pancasila, terutama ide Khilafah akan dapat menghapus eksistensi Pancasila, kata mereka.

Demikianlah, sebagian ajaran Islam digambarkan sedemikan rupa menakutkannya. Untuk “membayangkannya” saja membuat ‘bulu kuduk’ berdiri, lalu bagaimana mungkin mereka akan mendakwahkannya apalagi mau menerapkannya. Hal itu menjadi sesuatu yang hampir-hampir mustahil.

Diakui atau tidak, apa yang digambarkan diatas adalah hasil ‘kerja keras’ para ‘misionaris’ (yang disponsori oleh ‘dunia barat’) di tengah-tengah kaum muslimin. Dan mereka itu telah ‘bekerja’ sudah sejak lama, bahkan sebelum institusi Pemerintahan Islam terakhir (Kekhilafahan Turki Utsmani) runtuh. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kejatuhan Institusi Islam ini disebabkan oleh infiltrasi ‘ide barat’ yakni ‘paham Sekularisme’ di tengah-tengah kaum muslimin kala itu. Dengan ‘ide sekularisme’ ini umat Islam akhirnya jatuh pada jebakan laten, dimana mereka menganggap bahwa ‘kemajuan teknologi yang dicapai oleh Barat kala itu’ adalah wujud dunia modern, sementara ‘ajaran Islam’ adalah paham yang mulai ‘tertinggal’ dari pesatnya kemajuan zaman.

Mulailah wanita-wanita kaum Muslimin di sebagian negeri Islam kala itu, melepaskan jilbabnya dan mengadopsi pakaian ala barat yang mengumbar aurat. Mereka beranggapan bahwa pakaian ala Barat itu modern dan ‘jilbab’ serta cadar itu simbol ‘keterbelakangan zaman’ alias kolot. Dan inilah yang mewarnai pemikiran sebagian besar wanita-wanita kaum muslimin hingga hari ini. Ini hanya satu contoh ‘buah’ hasil perang pemikiran yang digenjarkan barat sejak lama itu. Masih banyak lagi lainnya yang tak berbilang.

Akan tetapi, yang namanya “perang’, maka pasti ada “lawan”. Sebagai sebuah “mabda/idiologi” ajaran Islam tidak benar-benar hilang dengan “hilangnya” Institusi Negara Islam terakhir di Turki, akan tetapi ‘idiologi Islam’ ini tetap hidup di hati-hati kaum muslimin yang masih mau mengembannya. Rupa-rupanya ‘barat’ mengetahui karakter dasar idiologi Islam ini.

Mereka sangat paham jika idiologi Islam tersebut tidak benar-benar hilang pada saat mereka berhasil meruntuhkan Daulah Khilafah. Karenanya, serangan pemikiran dan budaya terus saja digenjarkan di dunia Islam. Tujuannya antara lain, menjauhkan generasi umat ini dari Islam hakiki dan sekaligus dengannya akan dapat mencegah terjadinya kembali ‘kebangkitan Islam’. Untuk tujuan tersebut mereka berani berkorban apa saja dan berapapun besarnya.

Akan tetapi, seiring waktu dan atas izin Allah Swt, ‘Idiologi Islam’ mulai kembali tumbuh dalam benak kaum muslimin. Itu karena ada di tengah-tengah umat ini ‘kutlah’ yang terus menanamnya, menjaganya dan senantiasa menyiramnya setiap saat. Mereka terus saja berjalan ‘lurus’ meski di kiri kanan godaan dunia dan hambatan itu datang menghadangnya. Hasilnya seperti yang kita lihat saat ini, tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia, seruan untuk kembali hidup di bawah naungan Khilafah terus saja berkumandang dan dari hari ke hari terus membesar dan meluas.

Barat serta siapa saja yang menempatkan dirinya sebagai ‘musuh Islam’ menjadi sangat khawatir akan benar-benar kebangkitan Islam itu bisa terwujud dalam waktu dekat. Sementara, di saat yang sama mereka sedang ‘menderita’ akibat dampak dari penerapan ‘sistem Kapitalis Sekuler’ yang layaknya kanker telah mulai menjalar ke berbagai sendi kehidupan bahkan sedikit lagi menjangkau jantung kehidupan kapitalisme itu sendiri. Yang mengkhawatirkan mereka juga adalah borok-borok sistem Sekuler ini dapat dijadikan ‘senjata’ balik oleh pengemban Idiologi Islam dalam menghancurkan pengaruh mereka di tengah-tengah umat manusia. Karenanya, bagi kapitalis Barat maupun Timur, Islam dan Idiologinya adalah musuh bersama.

Akan tetapi, tidak mudah menghadapi ‘idiologi Islam’ ini beserta ‘kutlah yang mengembannya’. Mereka ‘bermain’ di rana pemikiran dan sama sekali tidak menggunakan cara-cara fisik untuk menyebarluaskan idenya. Sangat sulit mendeteksi jangkauan dan sejauh mana ide ini telah berkembang jika hanya sebatas pemikiran saja. Beda halnya jika gerakan tersebut menggunakan cara-cara fisik, maka sangat mudah diukur kekuatannya dan juga jangkauannya. Karena itulah, cara kedua ini mudah di’amputasi’ bahkan di ‘modifikasi’.

Sudah terbukti, cara-cara fisik tidak bisa mengatasi penyebaran ide ‘Idiologi islam’ ini. Sudahlah dihadang dengan isu “terorisme”, namun tak terjangkau. Ganti lagi dengan isu “radikalisme” seperti saat ini. Akan tetapi, nampaknya pun akan menemui kegagalan untuk kesekian kalinya.

Cara lainnya adalah menggunakan taktik “belah bambu”. Cara ini menyababkan perpecahan di tubuh kaum muslimin, karena mereka menggunakan “tangan-tangan” kaum muslimin sendiri untuk menghadang saudaranya. Satu pihak “diangkat” kemudian dilabeli “Islam moderat”, namun satu pihak lainnya “diinjak” yang selanjutnya dilabeli dengan “Islam Radikal”. Kubu Islam Moderat alias Liberal menyerang “Islam Radikal” dengan serangan ‘membabi buta’. Bahkan terkesan tidak lagi takut dengan ‘dosa’ dan ‘neraka’ karena berani melabrak “syariat islam” itu sendiri dengan menggunakan berbagai dalih. Tujuannya sama dengan tujuan ‘Barat’ yaitu agar umat ini “membenci penerapan Syariat islam Kaffah dan Khilafah”.

Taktik “belah bambu” ini juga ternyata tidak ‘semulus’ yang mereka harapkan, bahkan dengan dana ‘tak terbatas’ yang mereka miliki saat ini. Sebabnya, benih-benih persatuan di tubuh kaum muslimin sudah mulai nampak satu per satu. Mulai dari kembalinya panji Rasulullah Rayah dan Liwa ke tangan kaum muslimin, hingga suara-suara tentang Khilafah mulai dikumandangkan oleh bukan ormas hizbut tahrir saja.

Cara lain yang ditempuh oleh ‘Barat’ dan kaki tangannya di negeri-negeri kaum muslimin adalah dengan menggunakan ‘instrumen hukum’ untuk memukul ‘aktor penggerak’ Islam idiologi ini. Jadilah, penguasa-penguasa negeri kaum muslimin tiran-tiran baru yang berlaku zalim terhadap sesamanya kaum muslimin dengan iming-iming imbalan ‘jaminan kursi kekuasaan’ dan ‘sekerat kekayaan dunia’. Tak terkecuali penguasa negeri ini tentunya.

Karena kerasnya ‘tekanan’ ini, sebagian kaum muslimin akhirnya ‘menunduk’ takluk, ada juga yang milih ‘diam’, dan sebagian darinya ‘tetap berdiri tegar’ di hadapan penguasa zalim, lantang menyuarakan kebenaran hingga ada yang menemui ajalnya karena hal tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, ada hal penting yang ingin saya sampaikan yaitu kenyataan bahwa sesungguhnya ungkapan-ungkapan yang seakan-akan membenturkan Islam dengan Pancasila dan NKRI, wacana penghapusan pelajaran agama Islam di Sekolah, penerimaan terhadap kelompok LGBT untuk berkembang di Indonesia, mosterisasi ajaran Islam Khilafah, izin pengedaraan miras, pembatalan aturan Islami di tingkat daerah maupun sekolah, dan lain sebagainya, tidak lebih semua itu dalam rangka menjalankan agenda ‘global’ yaitu ‘memerangi ide Islam Idiologi’ dan mencegah ‘kebangkitan Islam’ untuk kedua kalinya.

Pertanyaan pentingnya adalah anda berada di pihak mana? Di pihak Islam dan Idiologi Islam? Atau sebaliknya di pihak ‘musuh-musuh Islam’ dan menjelma menjadi ‘agen-agen’ mereka?

Saran saya, jadilah orang yang berdiri tegar menentang agenda ‘barat’ tersebut dan jadilah salah satu diantara sekian banyak pejuang Islam. Kemenangan Islam di akhir zaman telah dijanjikan Allah Swt, meski kita memilih untuk diam atau menjadi penentang Islam. Jadi, pilihlah sebagai pejuang Islam meski nyawa taruhannya.

Wallahu A’lam.

(By Amrullah Saleh)