2 Misteri Kasus Perkosaan Santri Oleh Herry Wirawan

[PORTAL-ISLAM.ID] Konsultan Lentera Anak Foundation Reza Indragiri Amriel punya dua pertanyaan yang masih misteri terkait aksi bejat oknum guru bernama Herry Wirawan yang memerkosa 12 santriwati di Bandung, Jawa Barat.

Mayoritas santriwati yang menjadi korban aksi bejat Herry Wirawan telah melahirkan anak dan 2 orang di antaranya tengah hamil.

"Dalam kasus oknum guru bejat Herry Wirawan, misalnya, ada dua pertanyaan yang belum terjawab," kata Reza kepada JPNN.com, Sabtu (11/12/2021).

Pertama, mengapa oknum guru pesantren itu tidak meminta para santri mengaborsi janin mereka.

"Padahal, lazimnya, kriminal berusaha menghilangkan barang bukti," ucap peraih gelar MCrim (Forpsych, master psikologi forensik) dari Universitas of Melbourne, Australia itu..

Kedua, Bang Reza mempertanyakan apa penyebab para santriwati yang menjadi korban oknum guru pesantren itu tidak buka suara.

"Apakah selama bertahun-tahun para santri tidak mengadu ke orang tua mereka," lanjut Reza Indragiri.

Alhasil, walau dari sisi hukum ulah Herry disebut sebagai kejahatan seksual, tetapi dari sisi psikologi dan sosiologi ada tanda tanya.

"Tata nilai dan pola relasi apa yang sesungguhnya terbangun antara pelaku, korban, dan keluarga mereka?" ucapnya.

Sebelumnya, pakar psikologi forensik itu juga menilai ada kekeliruan di masyarakat yang menganggap kebiri sebagai hukuman pedih, menyiksa yang setimpal dengan kejahatan si predator.

Hal itu disampaikan Reza merespons desakan sebagian masyarakat yang murka dan mendesak oknum guru bejat bernama Herry Wirawan yang memerkosa 12 santriwati di Bandung, dikebiri.

"Itu jelas salah kaprah. Kebiri di Indonesia tidak diposisikan sebagai hukuman, melainkan sebagai perlakuan atau penanganan therapeutic," ucap Reza.

Sarjana psikologi lulusan UGM Yogyakarta itu menyebut kebiri bukan menyakitkan. Justru, opsi itu menjadi pengobatan.

"Kebiri therapeutic itu mujarab? Ya, kebiri semacam itu menekan risiko residivisme," ujar Reza.