Selamatkan Garuda? Ogah!

Selamatkan Garuda? Ogah!

Kalian lihat gambar yang diposting. Saya itu rencananya mau ke Raja Ampat, ehem. Maka saya nyari tiket dong, jalan 10 November nanti.

Berapa harga tiket Garuda? Untuk penerbangan 4 jam, direct, harga tiket 3,8 juta. Sekali jalan.

Lantas saya mikir deh. Ngapain saya ke Raja Ampat? Coba cek tiket ke Istanbul Turki, cuma 3,2 juta, naik Qatar Airlines. Lagi promo (tepatnya, memang sering promo). Penerbangan transit Doha 2 jam, total 15 jam. Saya bisa jalan2 dulu ke Doha. Sampai di Istanbul, saya bisa ke Eropa, nonton liga Inggris, MU atau Liverpool lawan siapalah gitu.

Atau saya bisa naik maskapai swasta lain saja, lebih murah ke Sorong.

Seriusan deh, kalian yang heroik sekali mau menyelamatkan Garuda, kalian pernah tidak mikir?

1. Di dunia ini, negara2 maju sdh lama tdk punya maskapai nasional. Amerika, dkk, ogah mereka. Buat apa punya, ngabisin duit negara tok. Buat nalangin, dll. Mending swasta yg ngurus. Biar pusing swasta saja.

2. Utang Garuda itu sekarang 70 trilyun. Siapa yang akan bayar? Whaaat? Suruh negara nalangin pakai APBN? Itu Garuda siapa yg naik? Hanya 5-10% penduduk yg naik Garuda. Dan kebanyakan, ehem, pejabat2, ASN, dkk, yg memang dibayarin negara. Enak banget, yg menikmati siapa, yg nalangin siapa.

3. Garuda itu sudah tiketnya mahal, jarang promo, rutenya pun terbatas. Kenapa Garuda ini tetap dijaga hidup? Karena ehem, salah-satunya, nanti kenikmatan pejabat2 ini hilang. Mereka sih enak, kemana2 dibayarin negara, kelas bisnis pula. Sy sering nemu orang2 ini pas di perjalanan. Bukan main. Coba mereka disuruh bayar sendiri, mesti mikir 7 turunan baru naik Garuda.

4. Jadi, berhentilah menjual patriotisme murahan soal menyelamatkan Garuda. 70 trilyun itu bukan duit sedikit. Yang menikmati cuma segelintir orang, kok yang nanggung seluruh rakyat Indonesia. Justru kalau kamu patriot sejak dulu Garuda ini diswastakan saja. Coba lihat, ada berapa banyak Dirut Garuda yg kena kasus korupsi, skandal, dll? Bahkan DIrut sekarangnya, kemarin asyik ke LN bareng keluarga, mengikuti pertemuan, lupa jika perusahaannya sedang berdarah2. Tapi begitulah, manusiawi, liburan sih tetap jalan.

Garuda ini salah urus. Ketinggalan jaman.

(Tere Liye)

*fb