Patut Dipertanyakan, Faisal Basri: Ibu Kota Mau Pindah, Bagaimana Nasib Kereta Cepat?

[PORTAL-ISLAM.ID]  Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, mempertanyakan soal nasib proyek kereta cepat Indonesia-Cina rute Jakarta-Bandung di tengah wacana pemerintah memindahkan ibu kota ke Penajem Paser Utara, Kalimantan Timur. Proyek ini diduga akan terbengkalai.

“Ibu kota baru mau dipindah, bagimana nasib kereta cepatnya? Makin banyak question mark,” ujar Faisal dalam webinar bersama Paramadina, Selasa, 2 November 2021.

Dia menilai proyek sepur kilat yang digarap PT Kereta Cepat Indonesia Cina atau KCIC tidak efisien. Proyek ini disebut-sebut tidak akan memberi keuntungan karena jaraknya relatif pendek dan masih banyak pilihan moda transportasi lain yang lebih murah.

Pilihan transportasi dari Jakarta ke Bandung meliputi travel, bus, hingga kereta reguler. Faisal memaparkan berdasarkan perhitungan selama pandemi, kereta api reguler Jakarta-Bandung sudah memiliki trip sampai 38 kali.

Menurut data yang ia himpun, kereta Argo Parahyangan dengan kelas eksekutif dan bisnis dalam kondisi paling padat hanya diisi oleh 18-20 ribu orang per hari. Berkaca dari data tersebut, target kereta cepat untuk menampung 60 ribu orang sekali jalan tidak realistis.

Bahkan menurut perhitungan simulasi sederhana, Faisal memprediksi proyek ini baru bisa balik modal hingga 139 tahun mendatang. “Kalau nilai investasi Rp 114 triliun, dengan kursi yang diii 50 persen dengan jumlah trip 30 kali sehari dan harga tiket Rp 250 ribu, kereta cepat baru balik modal 139 tahun kemudian,” ujar Faisal.

Skema tersebut adalah perhitungan terburuk untuk operasional kereta cepat. Sedangkan untuk skenario paling optimistis, dengan nilai investasi yang sama namun tingkat keterisian mencapai 100 persen dan jumlah trip 39 kali sehari, modal proyek bisa kembali selama 33 tahun. Syaratnya, harga tiket harus ditetapkan sebesar Rp 400 ribu.

Faisal kemudian mencontohkan Malaysia yang membatalkan proyek kereta cepat Kuala Lumpur-Singapura. Pemerintah setempat telah menghitung dengan matang proyek kereta dan dampaknya bagi negara. Padahal dibanding kereta cepat Jakarta-Bandung, proyek itu memiliki kemungkinan keuntungan yang lebih besar. [tempo]