Jokowi Diprediksi Netral, Pemilihnya Mayoritas ke Prabowo

[PORTAL-ISLAM.ID]  Nama sejumlah menteri kerap muncul dalam survei tentang bursa bakal calon presiden (capres) untuk 2024. Mereka di antaranya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.

Selain nama-nama menteri, tokoh lain yang dicalonkan muncul dari PDIP, yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua DPR RI Puan Maharani

Dengan sejumlah nama menteri dan kader PDIP yang berpotensi sebagai capres, Presiden Joko Widodo (Jokowi) diprediksi bakal netral pada pilpres 2024. 

“Saya menduga Pak Jokowi akan netral dan mungkin support semuanya,” kata Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, dalam diskusi daring, Ahad (14/11/2021).

Arya mengatakan, sejumlah nama yang beredar memiliki kedekatan dengan Jokowi. Di sisi lain, Jokowi masih memiliki pengaruh cukup kuat kepada publik. 

Apalagi, ia menyatakan, hasil survei Development Technology Strategy (DTS) menyebut pemilih Jokowi mencapai 30,5 persen. Pemilih loyal ini akan tetap memilih Jokowi jika Jokowi maju kembali sebagai capres.

“Meski UU tidak membolehkan tiga periode, mereka tetap akan pilih Jokowi," kata dia.

Mayoritas ke Prabowo

Sementara itu, Indonesia Survey Center melakukan survei terhadap 1.520 responden, di antaranya pemilih Jokowi pada Pilpres 2019. Hasil survei menyebutkan bahwa sebesar 22,7 persen pemilih Jokowi-Ma’ruf Amin menyatakan akan memilih Prabowo Subianto.

Prabowo merupakan lawan Jokowi pada Pilpres 2019 yang kini menjabat sebagai menteri pertahanan. 

"Banyak pemilih pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019 akan memilih Prabowo Subianto pada kontestasi 2024. Jumlahnya mencapai 22,7 persen," kata peneliti senior Indonesia Survey Center Chairul Ansari melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Ahad (14/11/2021).

Kandidat lain yang bakal menerima limpahan suara dari pendukung Jokowi-Ma’ruf, yakni Ganjar Pranowo (12,6 persen), Anies Baswedan (12,2 persen), Sandiaga Uno (5,7 persen), Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (4,5 persen), Ridwan Kamil (4,3 persen), Puan Maharani (3,6 persen), dan Airlangga Hartarto (2,9 persen). 

"Para pemilih Prabowo memiliki basis dukungan lebih kokoh atau tidak labil dibanding pemilih kandidat lain," ujarnya.

Chairul menjelaskan sejumlah alasan Prabowo dipilih oleh pemilih Jokowi-Ma’ruf. 

Pertama, Prabowo dinilai memiliki keseriusan dan fokus dalam menyelesaikan program yang diperintahkan Jokowi di Kementerian Pertahanan. 

Alasan kedua, yakni kebangsaan. Prabowo dinilai sebagai seorang negarawan karena mau menerima ajakan dari Presiden Jokowi untuk bergabung di kabinetnya. Prabowo dinilai lebih mengedepankan alasan-alasan kebangsaan daripada kelompok.

Alasan ketiga, Jokowi dan Prabowo yang telah dua kali bersaing di Pilpres tetap terlihat akrab. 

“Kita bisa lihat bagaimana kedua tokoh ini terlihat begitu mesra dalam beberapa event pekerjaan. Bisa diartikan itu sebagai afirmasi Jokowi terhadap Prabowo," ujarnya.

Sementara itu, Jokowi sudah menyatakan pentingnya menjaga stabilitas politik dalam situasi saat ini. Upaya menjaga stabilitas politik, di antaranya melalui dukungan dari partai politik.

Jokowi juga mengatakan, ia belum memikirkan perombakan (reshuffle) kabinet Indonesia Maju. Jokowi juga menyatakan ia belum terpikir untuk memasukkan menteri Partai Amanat Nasional (PAN) pada perombakan kabinet berikutnya. "Reshuffle belum terpikir ke arah sana," kata dia.

Agenda terdekat Jokowi, yakni melantik Jenderal Andika Perkasa sebagai Panglima TNI. 

(ROL)