Jika Di Aceh Tidak Ada Penyelenggaraan Kenduri Maulid Nabi (Molod)

JIKA DI ACEH TIDAK ADA PENYELENGGARAAN KENDURI MAULID NABI (MOLOD) 

Kalau di Aceh tidak ada penyelenggaraan Maulid Rasulullah, masyarakat tidak akan mendengar ulasan-ulasan para penceramah tentang Sirah Perjuangan Rasulullah SAW dan sahabatnya yang mulia.

Tanpa penyelenggaraan Maulid, jikapun ada ulasan tentang Rasulullah maka bisa dipastikan itu hanya sedikit sekali dan hanya kalangan terbatas saja yang mendengar. 

Tanpa penyelenggaraan Maulid, mungkin sirah Nabi Muhammad hanya diulas waktu ibadah jumat saja kan? Atau paling hanya dalam pengajian-pengajian kecil dan terbatas. 

Tapi dengan penyelenggaraan Maulid Nabi, atau Molod, hal terpenting adalah bahwa masyarakat kita di semua lapisan akan lebih sering mendengar tentang Rasulullah dan agama yang beliau bahwa, yaitu Islam.

Dengan setiap tahun kita menyelenggarakan peringatan Maulid yang bahkan molod ini berlangsung berbulan-bulan, maka masyarakat kita akan terus menerus diperdengarkan tentang Islam dan tentang Rasulullah SAW.

Perhatikan setiap kali ceramah Maulid, masyarakat semua lapisan hadir bahkan hingga anak-anak juga hadir. Disitu mereka mendengar kisah Agung Nabi Kita, Muhammad SAW.

Sungguh, itu adalah proses Tarbiyah pemikiran tentang Rasulullah SAW yang sangat menakjubkan. Masyarakat kita terus menerus dibentuk pemikirannya untuk mencintai Rasulullah dan mencintai Islam yang beliau ajarkan.

Tidak sadarkah kita, bahwa dengan pelaksanaan perayaan Molod itulah yang telah berabad-abad lamanya berperan menjadikan Islam di Aceh menjadi "lage zat dan sifeut", Islam dan Aceh adalah sesuatu tak bisa dipisahkan.

Perhatikanlah bahwa hingga hari ini Islam di Aceh masih dominan. Bandingkan dengan tempat-tempat lain di luar Aceh. 

Jadi, bersyukurlah kita bahwa para endatu kita telah meninggalkan kepada nilai-nilai peradaban yang sangat bernilai tinggi.

Kalau orang bicara tentang Aceh, maka sudah pasti mereka akan melihat Aceh ini identik dengan Islam. Itu adalah nikmat terbesar yang harus kita syukuri dan kita pertahankan.

Jadi, tak perlu kita kritik tradisi kenduri makan pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang kita cintai. Karena juga ada esensi besar lainnya di balik itu yang akan memberi efek kebaikan besar bagi kita sebagai sebuah entitas bangsa dan peradaban.

Apalagi, jelas bahwa kenduri makan itu sendiri juga merupakan bagian daripada Meneladani Rasulullah SAW.

Bukankah Rasulullah mengajarkan kepada kita umatnya untuk rajin bersedekah dan rajin memberi makan kepada orang lain?

Jadi jika ada orang-orang yang menyoal Maulid Rasulullah di Aceh, itu adalah orang-orang ahistoris. Mereka belum paham Aceh. 

Oleh: Teuku Zulkhairi 
(Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

___
*Foto: Lapangan Blang Padang di tengah Kota Banda Aceh terlihat ramai sejak Minggu (6/2/2020) pagi hingga siang. Ribuan warga dari berbagai kalangan memadati lapangan untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 Hijriah yang digelar Pemerintah Kota Banda Aceh.