CUAN & BENCANA ALAM

Sudah rumus manusia, dia diingatkan jangan merusak alam lingkungan. Maka dia akan bilang, 'Kami ini tidak merusak, kami justru berbuat kebaikan, demi kemajuan.'

Lantas saat alam membalasnya, apakah terbuka mata hatinya? No! Dia hanya peduli cuan.

Banjir besar itu hanya soal waktu akan terus terjadi, terjadi, dan terjadi. Dengan skala semakin massif. Dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dsbgnya.

Kok bisa? Sederhana. Coba kamu buka buku sakti perusakan hutan di negeri ini. Pernah ada masa, dalam setahun 1 juta hektare lebih hutan remuk. Sepuluh tahun terakhir nyaris setiap tahun remuk 500.000 hektare per tahun. Beruntung pandemi datang, 1-2 terakhir turun tajam. Nafsu manusia terhambat sebentar. Tapi itu bukan kabar baik, persis pandemi berlalu, itu hutan boleh jadi kembali remuk.

Buat apa hutan2 ini?

Kelapa sawit salah-satunya. Industri kelapa sawit itu duh Gusti, siapa yg berani cegah? Nanti kamu dihabisi loh kalau menolaknya, betulan ini. Tambang, food estate, pembalakan liar, dll, dsbgnya contoh berikutnya.

Kelapa sawit ini lucu loh, industrinya mana mau ngaku merusak hutan. Mereka bilang: lahan sawit tidak dibangun di atas hutan, melainkan di lahan terdegradasi akibat penebangan untuk industri kayu maupun kebakaran hutan. Kocak haha! Bakar dulu hutannya, baru tanam sawit. 100%, jadi bersih gitu? Kamu cuma nanam di atas lahan kebakaran? Ambyar.

Lantas orang2 ini bicara di depan mimbar mulia dunia, bilang paling peduli.

Tidakkah mereka melihat foto ini. Banjir di Sintang, Kalimantan. Besok2, akan lebih banyak lagi foto yg lebih dramatis dibanding ini. Jangankan kita negara ber-flower yang kepedulian alamnya ambyar, negara2 maju pun mulai menghadapi kengerian.

Karena namanya alam, satu rusak, semua kena. Beda dengan pandemi, kamu tutup pintu masuk, 3M, prokes, kamu aman. Alam? Wah, Kawan, sekali keseimbangannya rusak, semua kena.

Konsumsi minyak dari kelapa sawit akan semakin menggila. Harganya terus naik. Welcome, deforestasi jangan sampai menghambat kemajuan pembangunan. Begitu kata orang2 yg bilang dia love sama alam sekitar.

Dan netizen bersorak, bejoget sesuai irama idolanya masing2. Seolah kerusakan alam ini masalah politis. Kamu tertipu. Sama tertipunya saat lihat orang sok peduli sama alam, tapi dialah pemilik perkebunan kelapa sawit raksasa, tambang2, dll, dsbgnya.

(By Tere Liye)

*foto dari ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSAN