7 Tahun Perang ‘Main-main’ Saudi dan Emirat di Yaman

Perang ‘Main-main’ Saudi dan Emirat di Yaman

Tujuh tahun lalu atau tepatnya pada tanggal 26 Maret 2015, koalisi Arab yang dipimpin Saudi memulai ‘Operation Decisive Storm’ untuk ‘memotong’ kaki tangan ‘Syiah Rafidhah Shafawi Iran’ di Yaman (Milisi Houtsi yang menggulingkan pemerintahan Abdurabbuh Mansur Hadi). 

Oleh Hai’ah Kibar Ulama Saudi, operasi tersebut dianggap sebagai jihad fi Sabilillah dan yang gugur dalam perang dianggap syahid dan dikebumikan dengan pakaiannya tanpa dimandikan dan dikafani.

Dan setelah tujuh tahun berperang melawan milisi bersarung Houtsi, koalisi Saudi yang unggul jauh secara persenjataan gagal ‘menghabisi’ Houtsi dan mengembalikan Abdurabbuh Mansur Hadi ke Shana’a. Malahan, kini Houtsi dengan leluasa bisa menyerang kilang-kilang minyak Aramco Saudi dengan drone dan rudal balistiknya. Apa yang salah?

Beberapa waktu lalu, saya terkejut dengan komentar seorang Syeikh Salafi dari Aden, Yaman bahwa apa yang dilakukan Saudi di Yaman adalah sebuah ketololan. Ya, sebuah ketololan. 

Betapa tidak, Saudi yang pada 2014 ikut ‘membantu’ Houtsi merebut Shana’a kini justeru ketar-ketir dengan ancaman drone dan rudal Houtsi. 

Jangan bilang bahwa ini adalah fitnah terhadap negara tauhid. Dalam wawancara dengan channel Russia Today/RTarabic, Mayor Jenderal Dr. Anwar Eshqi (seorang pejabat intelijen angkatan bersenjata Saudi) membeberkan bahwa kudeta Houtsi terhadap Shana’a pada tahun 2014 adalah setelah koordinasi dengan AS, Emirat dan Saudi sendiri. 

Bahkan surat perjanjian dengan Saudi untuk ‘meninggalkan’ Iran yang ditandatangani oleh Abdul Malik Houtsi masih ada di kantor Anwar Eshqi. 

Kenapa AS, Saudi dan Emirat (yang bahkan menggelontorkan dana besar untuk Houtsi) mendukung kudeta Houtsi terhadap pemerintahan yang sah? Alasannya adalah untuk menghabisi partai Ishlah yang berafiliasi dengan IM. Lebih dari itu, masuknya Houtsi ke Shana’a juga sudah berkoordinasi dengan sebagian pejabat dan militer yang dekat dengan Ali Abdullah Saleh serta dengan kedutaan-kedutaan besar asing di Shana’a sebagaimana pengakuan jubir Houtsi Muhammad Abdussalam kepada Aljazeera.

Adapun Emirat, selain kebenciannya terhadap IM, UEA punya agenda lain di selatan Yaman. 

Yaitu? Pelabuhan-pelabuhan dan bandara di selatan khususnya di Aden, Bab El-Mandab, kepulauan Socotra dan lain-lain. 
Setelah diktator Presiden Ali Abdullah Saleh diturunkan dari jabatannya tahun 2011, pemerintahan transisi Yaman melalui menteri tranportasi Dr. Waed Badhib membatalkan kesepakatan penyewaan pelabuhan Aden untuk Perusahaan Emirat Dubai Ports World

Karenanya, begitu Houtsi bergerak ke Aden pasca merebut Shana’a, Emirat dan sekutunya segera meluncurkan operasi ‘Ashifatul Hazm’. 

Di Selatan Yaman, Emirat kemudian membentuk milisi yang loyal kepadanya yang dipimpin oleh Idrus Az-Zubaidi (yang didukung Saudi dan Emirat) serta Hani Ben Brik (lulusan Darul Hadis Dammaj-Syeikh Muqbil) yang dianggap punya hubungan dengan intelijen Saudi. 

Milisi bentukan Emirat ini berhasil ‘mengusir’ Houtsi (walaupun banyak pengamat mengatakan bahwa mundurnya Houtsi dari selatan karena kesepakatan dengan Emirat) dari selatan hingga kemudian Az-Zubaidi dan Ben Brik diangkat menjadi bagian dari pemerintahan Yaman.  

Namun, selain sering berbenturan dengan Partai Ishlah, mereka juga sering bentrok dengan tentara resmi pemerintah. 

Puncaknya, Az-Zubaidi dan Ben Brik dipecat dari pemerintahan pada 2017 dan keduanya kemudian mendirikan The Southern Transitional Council (STC) atau Dewan Transisi Selatan yang loyal kepada Emirat dan ingin memisahkan diri dari Yaman Utara.

Agenda untuk memecah Yaman menjadi tiga negara kini kembali dimunculkan ditengah gencarnya serangan Houtsi ke Ma’rib dan ancaman milisi yang loyal ke Emirat untuk menyerang provinsi Shabwah yang dipimpin gubernur dari partai Ishlah. 

Emirat, STC dan Houtsi sepertinya sudah "deal" sebelumnya terkait wilayah-wilayah yang harus di bagi antara Houtsi/Iran dan STC/Emirat, termasuk mundurnya milisi-milisi pro Emirat dengan tiba-tiba dari provinsi Hudaidah dua minggu lalu. 

Az-Zubaidi sedang menunggu kapan jatuhnya Ma’rib dan segera bernegosiasi dengan Houtsi. 

Saudi? Kita tidak tahu apa yang akan dilaksanakan Saudi. Apakah Saudi akan mati-matian mendukung Ma’rib yang kaya dengan minyak dan gas serta menjadi benteng terakhir pemerintahan resmi dan kementerian pertahanan? 

Partai Ishlah yang juga turut mempertahankan Ma’rib mengkritik keras strategi perang pemerintah dan koalisi yang dipimpin Saudi hingga beberapa daerah di Ma’rib jatuh ke tangan Houtsi padahal sebelumnya pasukan pemerintah dari Ma’rib sudah merengsek untuk merebut Shana’a.

Emirat tentu akan puas jika agenda Pemecahan Yaman berhasil. Setidaknya mereka berhasil menguasai wilayah selatan Yaman termasuk teluk Aden (Bab El-Mandab) yang menjadi penghubung antara samudra Hindia dan laut Mediterania melalui Laut Merah dan Terusan Suez (diperkirakan 3,3 juta barel minyak melewati selat tersebut per hari, dari total dunia sekitar 43 juta barel per hari yang dipindahkan oleh kapal tanker), pelabuhan dan bandara Aden serta pulau Socotra yang akan dibangun menjadi destinasi wisata baru.
Iran dan Houtsi juga akan puas dengan menguasai mayoritas provinsi Yaman terutama ibukota Shana’a dan provinsi Hudaidah dengan pelabuhan-pelabuhannya, disamping  provinsi Sa’dah dan Al-Jawf untuk menggertak Saudi.

Saudi? Satu-satunya ‘keuntungan’ Saudi dari tujuh tahun perang Yaman adalah melemahkan Partai Ishlah yang berafiliasi ke IM. Disamping itu, Saudi juga harus siap-siap menggelontorkan pundi-pundi riyalnya lagi untuk membeli sistem anti-rudal baru guna menghalau drone dan rudal Houtsi, bisa dari Israel, China, Rusia atau dari AS lagi?

Itulah hasil perang ‘main-main’ Saudi di Yaman selama 7 tahun. Kerusakan! Dan Saudi cukup sensitif dengan tudingan tersebut. Statemen Menteri Komunikasi Lebanon George Kordahi akhir Oktober lalu bahwa perang Saudi di Yaman adalah ‘main-main’ ditanggapi secara sangat serius oleh Saudi dan negara-negara teluk lainnya dengan menarik duta besarnya dari Lebanon serta menghentikan bantuan untuk Lebanon yang koyak dan ‘miskin’.

Dan Saudi sepertinya takkan belajar dari kesalahannya.

(Oleh: Taufik M Yusuf Njong)