Sepenggal Kisah Sultan Salahuddin Merebut Yerusalem dari Tentara Salib

Pada 02 Oktober 1187, Sultan Salahuddin Al-Ayubbi merebut kota Yerusalem. Tentara salib Kristen menyerahkan kota itu kepada Sultan setelah 12 hari pengepungan. Setelah kota itu direbut, Sultan mengizinkan kebebasan beribadah untuk semua agama di kota itu.

Sultan Salahuddin Ayubi merupakan sosok prajurit dan penguasa yang fenomenal. Dia adalah pahlawan dari ratusan pertempuran.

Dilansir dari laman World Bulletin, Dunia tidak pernah menyaksikan penakluk yang lebih sopan dan manusiawi seperti Salahuddin. Taktik pertempuran dan keberaniannya yang tak tertandingi sebagai seorang prajurit. Kenegarawanan yang heroik dan kekuatan karakternya membuatnya dihormati bahkan oleh musuh-musuhnya. Dia dikenal karena membebaskan kota suci Yerusalem dari Tentara Salib.

Alih-alih menjadi sosok yang dibenci di Eropa, ia menjadi contoh terkenal dari prinsip-prinsip kesopanan. Perang Salib mewakili perang paling dahsyat, dan terpanjang dalam sejarah umat manusia.

Pada puncak kekuasaannya, ia memerintah Mesir, Suriah, Mesopotamia, Hijaz, dan Yaman. Sejarah mencatat ada dua pencapaian utamanya yang diakui tidak hanya oleh dunia Muslim tetapi juga musuh-musuhnya. Salah satunya adalah Perang melawan Tentara Salib dan kedua, merebut Yerusalem.

Salahuddin Ayyubi menjadi orang yang selama dua puluh tahun menantang Tentara Salib, dan akhirnya memukul mundur pasukan gabungan Eropa yang datang menyerbu Tanah Suci.

Sultan Salahuddin Ayyubi lahir pada 532 H (1137 M) di Tekrit di Tepi Barat Tigris antara Mosul dan Baghdad. Dia sangat disayangi oleh ayahnya, Najmuddin Ayyub (Gubernur Balbek).

Salahuddin biasa menunaikan sholat wajib lima waktu tepat waktu. Ia tidak pernah sholat kecuali berjamaah, dan Salahuddin tidak pernah menunda sholat. Dahulu selalu memiliki seorang imam bersamanya, tetapi jika imam tidak hadir, dia akan sholat di belakang ulama saleh yang mungkin duduk bersamanya.

Salahuddin akan menghabiskan sebagian besar uangnya untuk bersedekah, dan dia tidak pernah memiliki cukup kekayaan yang mengharuskan dia untuk membayar zakat. Meski selalu ingin menunaikan haji, namun Salahuddin sibuk berjihad, sehingga tidak punya cukup uang untuk menunaikan haji, dan ia pun meninggal tanpa menunaikannya.

Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus berani, tegas, dan berkemauan keras, namun penyayang, adil, dan baik hati. Pada Senin dan Kamis, Salahuddin biasa duduk dan mendengarkan keluhan rakyatnya dalam sidang yang dihadiri oleh ahli hukum, hakim, dan cendekiawan.

Dia kemudian akan menghabiskan satu jam di siang atau malam hari untuk menulis komentar dan pendapatnya tentang setiap petisi. Dia tidak pernah mengecewakan siapa pun yang meminta bantuannya.

Salahuddin tidak pernah berbicara buruk tentang siapa pun, dan tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk melakukannya di hadapannya. Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar dan tidak pernah menggunakan penanya untuk mempermalukan seorang Muslim.

Ketika musuh utama Salahuddin, Raja Inggris Richard 'the Lionheart', jatuh sakit, dia bertanya tentang kesehatannya dan mengirimkan buah-buahan serta es kepadanya. Tentara Salib, yang lapar dan dilanda kemiskinan, tercengang dengan kesopanan dan belas kasihan yang mulia dari musuh mereka. 

Salahuddin meninggal pada usia 57 tahun pada 4 Maret 1193. Harta miliknya hanya 47 dirham dan satu dinar. Dia tidak meninggalkan harta tetap atau warisan lainnya. (*)