Kisah Agus Salim, Hamka, Isa Anshary Hadapi Iluminati dan PKI

Kisah Cendikia Muslim Hadapi PKI

Agus Salim dan Hamka 1940 diundang pengikut Illuminati di Societet Harmoni, Batavia. Ada upacara manggil arwah. Orang-orang duduk berkeliling. Di tengah ada bale. Di sana ada satu orang perempuan Yahudi rebah.

Di acara itu tampak Rabbi komat kamit baca mantra. Perempuan itu duduk dan ketawa cekikik kik kik kik. Lalu berdiri nyanyi sepotong Solemio. Ia rebah kembali. Melihat itu, Rabbi mendekat ke Salim dan Hamka dengan bangga sembari berkata: "Bagaimana tuan-tuan?"

Hamka kemudian merespons. 
Dia menjawab: "Coba tuan panggilkan arwah Pangeran Diponegoro?" 

Maka penonton acara pemanggilan arwah menjadi tegang dengan jawaban Hamka. Rabbie pucat tapi tetap komat-kamit. Rabbi kemudian berkata:
"Maaf Tuan Salim dan Tuan Hamka. Saya tak dapat mendekat ke arwah Pangeran Diponegoro: Itu  Terlalu Kejauhan."

Setelah itu, Salim dan Hamka tinggalkan ruang. Rabbi mokal (malu).

Pada saat kampanye Pemilu 1955 di lapangan Banteng, PKI tampilkan DN Aidit. Aidit  naik podium dan teriak salam PKI: Bebaaas!

Lalu ia berkisah tentang nama lapangan Banteng yang zaman Belanda disebut lapangan Singa.  Karena itu saudara-saudara, kata Aidit, jangan sampai Masyumi menang pemilu. Sebab, kalau Masyumi menang, lapangan Banteng mereka ganti nama jadi lapangan Onta.

Giliran Mssyumi menggelar kampanye di Lapangan Banteng. Tampil Isa Anshary. Kyai Isa sebagai juru kampanye: Isa kini ganti serang balik PKI dengan berkata, "Masyumi tidak urus nama lapangan, tapi kita harus hati-hati. Sebab, kalau PKI menang pemilu lapangan Banteng mereka ganti namanya jadi lapangan barongsai."

Pada tahun 1930-an Sarekat Islam bikin rapat umum di Jogya. Orang-orang kiri pada hadir. Begitu Haji Agus Salim sebagai pembicara tunggal muncul, orang-orang kiri mengembek meniru suara kambing. Mereka mengejek Salim seperti kambing karena yang berjenggot. Mereka teriak: "Mbek mbek mbek...!"

Mendengar itu Salim berpidato. Dia balas teriakan melecehkan itu. Katanya:"Saya bukan berjenggot saja, saya juga berkumis. Kambing tak berkumis."

Salim kemudian berdialog dengan hadirin.

Salim: "Apa yang berkumis apa?"

Hadirin: "Kuciiiing".

Salim: "Kalau tak berkumis tak berjenggot? (Orang kiri tak berkumis tak berjenggot)."

Hadirin rama-ramai berteriak: "ha ha ha anjing ha ha ha!?..."

Oleh: Ridwan Saidi
Politisi Senior, Sejarawan, dan Budaya Betawi.