KERETA API CEPAT, CUANNYA SIAPA DAPAT?

KERETA API CEPAT, CUANNYA SIAPA DAPAT?

By Azwar Siregar

Saya kira ada beberapa hal yang memang tidak boleh dihitung dari Laba dan Rugi. Termasuk cerita untuk Balik Modal.

Sebut saja "Kewajiban" Pemerintah untuk melayani rakyat. Misalnya menyediakan kebutuhan pokok untuk rakyat; Sandang, Pangan, Papan, Kesehatan dan Pendidikan. Termasuk infrastruktur pendukungnya.

Ketika Pak Harto membangun Jalan Raya dari ujung Sumatera sampai ujung Timor-Timur (sekarang Negara Timor Lorosae), tentu saja tidak ada hitungan untungnya.

Tetapi pembangunan Jalan itu adalah bagian dari Kewajiban Pemerintah untuk melayani rakyat.

Sekarang ribut-ribut masalah Kereta Api Cepat, pertanyaan pentingnya:

APAKAH PROYEK INI bagian dari Kewajiban Pemerintah untuk melayani rakyat atau (lagi-lagi) kebodohan dari rezim sekarang yang sering menghambur-hamburkan uang rakyat?

Dari informasi terakhir, saya dengar sudah turun Perpres untuk pendanaan Kereta Api Cepat "boleh" menggunakan APBN. Bahkan si Oppung kemudian sampai turun tangan untuk memimpin Proyek ini.

Jadi kalau jawabannya yang pertama (untuk melayani rakyat), Ok, kita dukung. Tidak boleh ada Kalkulator Laba dan Rugi dari Negara untuk Kepentingan melayani rakyat!

Tapi sebaliknya, kalau Proyek ini hanya untuk kepentingan segelintir orang, sebut saja para Korporasi, para Developer, Pengusaha, Pejabat, ya wajar kita kritisi bahkan kita tolak.

Saya sendiri mohon maaf kalau salah berpendapat, tapi setiap "proyek" yang akhirnya menunjuk atau melibatkan Luhut, saya anggap Proyek itu ada masalah!

Dan lagi-lagi (ini opini saya pribadi), model Luhut ini menurut saya cenderung lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya daripada kepentingan masyarakat bersama.

Terakhir saya sebenarnya sedikit bingung. Bukannya kondisi Keuangan Negara kita sedang sekarat?

Bolak-balik menambah hutang Negara. Srimul sibuk menetapkan pajak ini-itu yang mencekik rakyat. Kasarnya tinggal bernafas dan kentut yang belum dikenakan cukai di Negeri ini.

Kok bisa ya, Pemerintah masih menghambur-hamburkan APBN kita untuk berbagai Proyek yang belum terlalu penting?

Daripada menggunakan APBN untuk Kereta Api Cepat dan Proyek Ibu Kota Negara Baru, apa tidak lebih baik di fokus untuk menciptakan atau membuka 10 dan bila perlu 100 juta Lapangan Kerja untuk rakyat?

Kalau rakyat sudah sejahtera. Tidak ada lagi Pengangguran. Ngga ada lagi bapak-bapak tua yang ngejar-ngejar Baim Wong mau jual Juz Amma. Ngga ada lagi ibu-ibu lusuh yang menarik gerobak sampah yang sekalian jadi tempat berteduhnya. Ya silahkan sekalian bangun proyek tangga emas dari Jalan Kutai Utara sampai ke Planet Mars!

Tapi sekarang kan masih banyak rakyat kita yang hidup susah. Jangankan punya rumah, pekerjaan saja ngga ada. Kenapa masih sibuk membangun hal-hal yang tidak menyentuh dan membantu mereka?

Kita ini seperti membangun Rumah yang megah. Bikin Taman yang indah. Beli perabotan yang mewah. Tapi sebagian penghuninya kurus-kering kelaparan karena kurang makan.

Atau kemiskinan sengaja dipelihara biar tetap ada tontonan "orang-orang yang berebutan hadiah di pinggir jalan" ketika si Ungud itu lempar-lempar hadiah dari mobil berjalan?

(*)